"Aku tidak
ingin lagi mencintaimu. Sama sekali tidak."
Itu adalah dua
kalimat yang sudah aku tanamkan dalam otakku semenjak kejadian di hari itu.
Hari dimana menjadi hari paling menyakitkan untukku. Hari dimana aku tahu,
bahwa kau adalah laki-laki paling brengsek yang pernah ku kenal selama hidupku.
Cerita berawal dari pertemuan kita
saat Ospek di fakultas kedokteran yang kita naungi. Sebelum ku lanjutkan
ceritaku, perkenalkan. Namaku Gendis Taulia Marissa. Biasanya dipanggil Gendis.
Aku adalah salah satu mahasiswi jurusan Kedokteran. Sebenarnya, aku masuk
jurusan ini atas dasar unsur keterpaksaan. Sedari dulu, Bunda memintaku untuk
menjadi seorang dokter agar aku bisa membantu dan merawat keluargaku apabila
ada masalah terkait kesehatan dan sebagainya. Karena aku adalah anak
satu-satunya, mau tak mau aku harus menuruti Bunda. Kalau Ayah sih tak begitu
peduli dengan apa cita-citaku. Selama itu baik dan masih sesuai jalur, dan aku
suka, pasti Ayah akan selalu mendukung. Hanya saja, sedari dulu aku tak pernah membantah
apa yang Bunda katakan. Dari sisiku pun juga sama. Apapun yang aku minta, Bunda
selalu berikan. Ya, apapun. Seperti saat kemarin aku meminta Bunda memberikan
sebuah rumah yang tak pernah ditinggali yang ada di daerah jalan Babakan
Tarogong pada Kak Brian, sepupuku yang baru saja mendapat musibah, Bunda
langsung saja mengiyakan permintaanku tanpa bertanya kepada Ayah. Karena
tentunya, Ayah pasti akan mengiyakan jika tujuannya adalah untuk kebaikan.
Sayangnya, keluarga Kak Brian menolak dengan alasan tak ingin membebankan
keluarga kami. Tentunya, keputusan tersebut kami hargai.
Oke, kembali
pada topik utama. Pada manusia super menyebalkan yang tak punya sopan santun.
Saat itu, aku melihatmu sedang berdiri di bagian depan tribun, dihukum oleh
ketua BEM karena melakukan kesalahan fatal, yaitu tidak memakai atribut apapun.
Kau memang keterlaluan. Apa untungnya melanggar banyak peraturan dan menjadi
bahan bullying para senior? Cari sensasi? Atau cari muka?
Banyak gosip
yang beredar, bahwa kau adalah anak dari salah satu dokter terkenal yang juga
direktur di rumah sakit yang menjadi salah satu partner medis dari universitas
ini. Dokter itu bernama Handoko. Selain itu, menjadi donatur terbesar dan salah
satu dari anggota struktural yayasan adalah nilai tambah dari dokter Hans (itu
nama kerennya, kata dosen-dosen sih). Dan kenyataannya memang benar. Kau adalah
anak dari dokter yang sering dibicarakan oleh mereka itu. Pantas saja, kau
memiliki sifat sombong dan seangkuh itu. Kau terlalu menyia-nyiakan hidupmu dengan
berperilaku tak layak semacam itu. Menyepelekan semua hal atas dasar jabatan
orangtua. Memalukan.
Aku pun tak pernah menyangka, namamu
berada dalam daftar ruang kelas yang sama denganku. Yudha Norma Handoko. Nama
yang bagus, tapi tak sesuai dengan sifat orangnya. Aku bertemu denganmu lagi.
Meskipun, saat ini dengan situasi yang berbeda, yaitu menjadi teman satu kelas.
Dan, kelas mendadak riuh karena kelakuan yang kau perbuat saat ospek kemarin.
Justru anak-anak di kelas tentunya akan memanfaatkan kesempatan itu untuk
berteman denganmu. Siapa sih orang yang tak mau berteman atau hanya sekedar
akrab dengan anak salah satu petinggi di universitas ini? Gila. Bisa- bisanya,
orang sepertimu menjadi sosok paling populer di kelas maupun di fakultas. Aku
tak habis pikir.
Entah kenapa, semakin kau berulah,
semakin aku mulai memikirkanmu. Secara tak langsung, setiap kali aku mendengar
kelakuan burukmu yang diceritakan oleh anak-anak di kelas membuat rasa benciku
padamu bertambah. Itu yang membuatku muak dan membenci diriku sendiri.
Kenyataannya memang salah jika aku harus terus memikirkan semua hal bodoh yang
kau lakukan demi mencari simpati orang-orang. Hingga suatu ketika, kita
ditakdirkan bersama dalam sebuah kelompok kecil. Tiap satu kelompok terdiri
dari tiga orang. Dan betapa apesnya aku, harus berada dalam satu kelompok
bersamamu. Hanya ada aku, kau dan Fandy, salah satu teman sekelas yang
merupakan mahasiswa teladan dengan otak super cerdas setingkat Einstein yang
sekaligus adalah ketua HiMa fakultas Kedokteran.
"Ini mau kerja kelompok,
atau mabar (main bareng) sih? Kok pada fokus sama gadget! " Omel Fandy.
Aku menatap Fandy, kemudian cengengesan seraya meletakkan ponselku diatas
bangku.
"Sorry
..." Jawabku. Fandy menghela napas panjang. Dia menggeleng sambil berdecak
ke arah Yudha. Ah, sama biang keroknya. Bahkan dia lebih parah dariku.
"Yud, lo
niat nggak sih? Kalau nggak, mending pulang gih. Memperlambat aja..."
Semprot Fandy lagi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Yudha memasukkan
ponselnya ke dalam saku zipper hoddie-nya.
"So, apa
tugas kita?" Tanya-nya dengan wajah santai, tanpa rasa bersalah. Aku
melirik Fandy, ikut penasaran.
"Satu
bulan lagi, di angkatan kita bakalan ada KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah
desa terpencil yang letaknya agak jauh dari kota. Semua ketua kelompok udah gue
briefing soal kegiatan, tugas dan kompetensi yang harus dicapai sesuai arahan
dari Ketua Pelaksana. Jadi pada intinya, kita satu kelompok ..." jelas
Fandy. Sontak penjelasannya membuatku ternganga karena shock.
"Ha? Bertiga
doang?" Tanyaku dengan nada tak percaya. Yudha hanya melirikku malas,
kemudian beralih kembali pada Fandy. Gila. Apa jadinya jika aku harus menjadi
satu-satunya mahasiswa perempuan di kelompok ini? Ditambah lagi bersama manusia
sombong dan sok itu? Ah, ini benar-benar mimpi buruk!
"Lah,
emang ada masalah?" Cibir Yudha. Aku meliriknya tajam.
"Gue cewek
sendiri! Itu yang jadi masalahnya!" Jelasku singkat dengan nada ketus.
"Yang jadi
masalahnya itu, elo ! Ribet. Cuma dua bulan, nggak lama. Bosen gue sama suasana
kampus ..." Cibir Yudha. Tanganku mengepal, rasanya ingin kutonjok
wajahnya itu. Ah, menyebalkan ! Masalah yang sebenarnya adalah, aku yang harus
satu kelompok dengan orang memuakkan sepertimu.
"Udah,
jangan pada debat! Lagian, ini udah kebijakan dari kampus. Kita bisa apa coba?
Cuman jalanin aja kan? Emang kalian mau, cuma gara-gara nggak ikut KKN, sidang
proposal kita dipersulit, ditunda? Ha?" Belum sempat aku membalas kalimat
pedas yang dilontarkan oleh Yudha, Fandy ikut berargumen, memojokkanku. Ah,
semua cowok memang sama saja.
"Eh, sipit
! Denger tuh, apa yang ketua bilang!" Sahutnya sambil kembali memainkan
ponselnya yang entah kapan aku tak tahu dia mengambilnya. Aku hanya mampu
menghela napas panjang, menahan emosi. Dan pada akhirnya, aku harus pasrah.
Well, aku harus menyiapkan hati. Karena dua bulan kedepan, akan penuh cacian
dan makan hati.
***
Hari ini adalah
hari dimana penyerahan mahasiswa KKN di tiap wilayah masing-masing. Satu
kelompok dibimbing oleh satu orang dosen. Pak Heru, salah satu dosen yang
mengampu mata kuliah Farmakologi, menjadi dosen pendamping yang mengantarkan
kami ke sebuah desa yang benar-benar jauh dari perkiraanku. Lingkungan yang
tidak terawat, sampah dimana-mana, jamban darurat yang dibangun di
tengah-tengah pekarangan (you know lah seperti apa, jangan terlalu dibayangkan
jauh-jauh) dan astaga ... Puskesmas yang benar-benar tidak berjalan dengan
semestinya. Letak puskesmas memang tak jauh dari lingkungan perumahan
masyarakat. Namun, menurut salah seorang bidan yang bekerja di puskesmas ini,
jarang sekali masyarakat yang datang untuk kontrol akan penyakit atau hanya
sekedar berobat jika terjangkit suatu penyakit. Miris rasanya melihat keadaan
desa ini. Di era yang sudah maju seperti sekarang ini, masih saja ada masyarakat
yang tak mengerti akan pentingnya kesehatan. Pantas saja, prosentase
penyakit-penyakit menular dan tidak menular di desa ini sangat tinggi.
"Gila!
Orang disini pada bego' apa? Udah tahu pada sakit, bukannya periksa malah pada
diem. Mau nimbun penyakit?" Cibir Yudha.
"Heh, Yud!
Punya mulut tuh dijaga! Kita lagi di tengah-tengah masyarakat tau. Apalagi kita
numpang. Lo mau diusir?" Cibirku.
"Udah,
udah! Apaan sih kalian? Dari awal nggak ada akur-akurnya. Lagian, bener tuh
kata si Gendis. Jangan sampai KKN kita hancur cuman karena mereka sakit hati
sama omongan kita ..." Fandy menengahi. Yudha hanya berdecak sebal,
terpojok. Dalam hati aku tertawa. Mampus kena semprot.
***
Kedatangan kami ke desa ini
merupakan suatu kesialan tersendiri untukku. Bagaimana tidak? Setelah aku
mengetahui fakta bahwa aku harus satu kelompok dengan orang itu—Yudha, aku juga
harus tinggal serumah dengannya karena kami harus menetap di posko saat kami
tidak ada kegiatan di puskesmas atau turun ke masyarakat.
"Tinggal
serumah? Kita bertiga? Sama dia?" Badanku sedikit condong dan menunjuk ke
arah Yudha.
"Sinting."
Lanjutku, mengomel tak terima. Yudha menatapku tajam.
"Eh, gue juga
nggak mau kali tinggal serumah sama lo!" Balasnya dengan nada yang lebih
tinggi. Ingin kutonjok saja wajahnya. Ih, menyebalkan!
"Hey, stop
it! Emang seharusnya kita tinggal di rumah Pak Lurah, tapi mau gimana lagi? Elo
pada tau kan kalau di rumah pak Haris—Pak Lurah—lagi ada saudaranya? Dan
kalaupun kita tinggal di rumah warga, gue bakalan menjadi orang pertama yang
nentang ..." Jelas Fandy. Aku tahu apa alasan di balik pendapat Fandy, itu
akan lebih merepotkan banyak pihak. Kami pun akan merasa tak enak hati. Tapi ...
Oh my God. That's not funny.
"Udah
ngikut aja kenapa sih lo? Dari awal yang ribet mah elo .." Tambah Yudha
menghakimi.
"Eh, elo
tuh seharusnya mikir. Gue cewek sendiri. Tentunya, gue gak mau ambil resiko ya
..." jelasku dengan nada meninggi.
"Hei,
udah! Elo pada kenapa sih? Dari awal berantem terus, adu argumen terus. Gue
disini ketuanya, dan meskipun kita butuh berpendapat, tapi gue punya hak lebih
besar dibanding elo berdua. Jadi, elo pada harus ikut sama aturan gue sesuai
peraturan dari kampus. Awas, kalau sampai gue lihat kalian berantem lagi,
mending elo berdua nggak usah ikut KKN ini lagi. Ngerti?!" Tutur Fandy
panjang kemudian berlalu masuk ke dalam rumah yang bisa dibilang adalah posko
kami. Aku menghela napas panjang, kemudian melirik tajam ke arah Yudha. Dan
pada akhirnya, kami berdua masuk ke dalam posko menyusul Fandy seraya sama-sama
membuang muka. Tanpa sadar, saat hendak melangkah masuk, aku menendang koper
besarnya, kemudian koper itu terguling dan jatuh diatas kaki kanannya. Dia
menatapku tajam. Belum sempat dia mencela, aku langsung berjalan menuju pintu
meninggalkannya di teras posko.
***
Hari kedua adalah hari dimana kami
harus terjun di masyarakat karena kami harus melakukan survey tentang beberapa
penyakit yang diderita dan kemungkinan penyakit yang mungkin akan diderita oleh
masyarakat desa ini. Semakin hari, kesialanku semakin bertambah. Hari ini pun
begitu. Fandy, ditugaskan oleh Pak Haris untuk menemaninya ikut rapat kader dan
membantu mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan acara expo yang akan
dilakukan minggu depan di lapangan dekat balai desa. Alhasil, aku dan Yudha
harus berangkat survey ke rumah warga yang terdiri dari 16 RT. Dan, setiap RT
terdapat setidaknya 20 kepala keluarga. Jadi kesimpulannya, kami harus
mengunjungi 320 rumah dan melakukan survey. Kepalaku terlalu berat untuk
memikirkannya. Survey 320 rumah bersama laki-laki menyebalkan ini? Ya Tuhan.
Pasti aku akan makan hati setiap harinya.
"Eh, gila
kali ya kita disuruh survey 320 rumah! Berdua doang lagi. Fandy emang menang
banyak. Dan sialnya lagi, gue harus turun sama elo ..." Cibir Yudha.
"Eh, bocah
! Elo pikir, sehari survey 320 rumah warga bakalan cukup waktunya? Maksimal,
sehari kita harus kelarin dua RT. Jadi seenggaknya satu desa itu kita kelar
survey ya sekitar seminggu lebih. Dan emang menurut elo, gue nggak sial apa
harus terus survey sama elo selama seminggu lebih?" Aku membalas
argumennya, lebih tajam.
"Eh, Ndis!
Asal elo ta ..."
"Daripada
elo ngomel dan terus ngatain gue nggak jelas, mending kita berangkat deh.
Keburu siang, nggak kelar-kelar ini kerjaan ..." Potongku seraya berjalan
melewatinya. Yudha mendengus kesal atas kekalahan argumennya. Pada akhirnya,
kami berdua mulai memasukki tiap rumah mulai dari RT terdekat dengan posko
kami. Dan aku hanya berharap, penderitaan ini segera berakhir.
***
Tak terasa,
survey telah berjalan selama tujuh hari, dan hari ini adalah hari dimana semua
hal yang berkaitan dengan survey harus berakhir karena hanya tersisa dua RT
lagi. Sarapan pagi ini adalah nasi dengan semur jengkol, telur mata sapi, dan
kerupuk ikan. Itu tandanya, aku hanya akan makan nasi bersama telur dan
kerupuk. Aku tak menyukai makanan berbahan dasar jengkol. Tapi, makanan tanpa
serat tentunya akan membuatku sembelit. Ah, bagaimana ini?
"Elo nggak
makan, Ndis?" Tanya Fandy padaku. Aku bergumam panjang.
"Ya makan.
Tapi gue ..."
"Nggak suka
jengkol? Wahh, parah lo ..." Potong Yudha.
"Lah,
emang gue kagak doyan .. " jawabku sedikit ketus.
"Ih, Lo
kok nge-gas, sih? Sok banget sih ..."
"Eh, Yud!
Yang makan siapa, yang resek siapa?! Bisa nggak sih, elo nggak komentarin hidup
orang lain? Ngaca dong, hidup sendiri belum bener juga. Udah ah, gue langsung
berangkat aja ..." Tuturku, seraya menyambar ransel dan almamater-ku yang
ku letakkan di atas kursi kosong yang ada disebelahku. Kemudian, aku bergegas
keluar posko dengan langkah cepat.
"Eh, Ndis?!
Tunggu! " Aku mendengar teriakan Fandy yang perlahan mengecil karena aku
berjalan menjauh. Aku memperlambat langkahku, berdecak sebal.
"Bisanya
cuma nyacat orang, kayak dianya udah bener sendiri aja! Huh ..." Gerutuku.
"Ndis,
bentar!" Teriak seseorang dari arah belakang seraya mencekal lengan
kananku. Aku menoleh. Yudha.
"Apa
lagi?! Mau ngajak debat? Sorry, gue nggak ada waktu ..." Sahutku seraya
memalingkan wajah dan hendak melangkah lagi. Tanganku dicengkeramnya lebih
kuat. Otomatis, tubuhku tertarik ke arah belakang.
"Ndis,
sorry .." katanya dengan nada menurun. Aku sempat shock mendengarnya
mengatakan kalimat itu. Aku menoleh ke arahnya. Dahiku mengeryit.
"Sorry?
Sejak kapan elo jadi melow gini. Jangan-jangan bo'ongan lagi ..." sahutku
acuh tanpa meliriknya sama sekali.
"Serius.
Gue minta maaf. Maaf kalau gue udah bersikap nggak baik sama elo. Gue nggak ada
mak ..." aku berbalik.
"Nggak ada
maksud?! Nggak ada maksud tapi dilanjutin sampek bikin gue naik darah. Jangan
mentang-mentang lo an ..."
"Anaknya
direktur rumah sakit?" Mulutku terbungkam. Ah sial, keceplosan. Mungkin
aku memang sedikit .... keterlaluan. Tapi, bagaimana dia tau?
"Kenapa
sih, setiap kali orang yang bermasalah sama gue selalu ngomongin itu?"
Lanjutnya seraya melepaskan cengkeramannya dari tanganku.
"Mau tahu
alesannya?!" Kulihat dahinya mengeryit dan sebelah alisnya terangkat,
menandakan keingintahuannya.
"Karena
elo terlalu sombong dan angkuh. Seenggaknya, elo harus paham, gimana perasaan
orang yang elo bully atau seenggaknya, ikuti aturan dong, jangan seenaknya
sendiri?!" Turuku.
"Hei,
kenyataannya emang gitu. Gue nggak bakalan ngatain orang kalau nggak ada bukti
alias nggak sesuai fakta. Dan gu ..."
"Jangan
ngomongin soal kenyataan. Elo bisa dengan mudah ngatain orang seenak jidat.
Tapi, apa elo pernah mikir, gimana perasaan orang yang elo bully itu?! Bercanda
boleh, tapi jangan keterlaluan dong ..." potongku. Dahinya sedikit
mengeryit.
"Lah,
emang gue pernah ngatain Lo? Sensi banget lo sama gue ..."
"Gue nggak
peduli mau Lo katain apa, gue terima. Tapi, apa Lo nggak inget, nirmala, yang
Lo bully karena dia anak biasa dan kuliah pake beasiswa hampir berhenti kuliah
gara-gara siapa? Gara-gara Lo! Lo nggak pernah tau kan?!" Lanjutku. Dia
mematung sesaat.
"Nirmala
si Cupu? Se, serius?" Aku hanya menghela napas panjang mendengar
responnya. Sepertinya, dia benar-benar tak sadar dengan apa yang sudah
dilakukannya.
"Gue nggak
ngerti harus gimana. Gue cuma bisa bilang "sorry". Gue nggak pernah
tahu kalau candaan gue bisa fatal kayak gitu ..." tuturnya dengan nada
merendah.
"Nggak.
Jangan ngomong ke gue. Nirmala yang berhak buat dapet permintaan maaf dari
elo..."
"Iya,
Ndis. Setidaknya gue tahu, kalau gue udah bener-bener keterlaluan. Thank's
..." jawabnya disusul seulas senyum. Jadi, selama ini dia menganggap apa
yang dilakukannya itu lucu? Dasar brengsek.
Pada akhirnya,
aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan terimakasihnya. Aku harap, penyesalannya
itu tulus.
***
Satu bulan telah berlalu. Hanya
tinggal menjalani satu bulan lagi, dan tugas kami di desa ini berakhir. Hari
ini, kami bertiga mulai masuk puskesmas untuk mengolah data yang kami peroleh
dari sebulan yang lalu dan menganalisa tentang penyakit yang menjangkit dan
kemungkinan menjadi penyakit yang akan menjangkit masyarakat desa ini. Dan,
sudah tiga minggu ini sikap Yudha terhadapku mulai berubah. Dia menjadi lebih
lembut daripada biasanya. Dia juga menjadi jarang berbicara dengan nada tinggi.
Bisa dibilang lebih sopan dari sebelumnya.
"Ndis,
ntar temenin gue cari sesuatu ya di pasar? Elo kan yang cewek, pasti pinter
nawar ..." Pinta Yudha padaku.
"Lah, kok
gue sih? Gue kagak bisa nawar, suer!" Jawabku seraya mengacungkan jari
tengah dan telunjuk melambangkan "peace".
"Yaelah,
ayo dong temenin gue napa. Gue takut dikira homo kalau kemana-mana sama Fandy ..."
Fandy melirik Yudha tajam.
"Lah, jadi
gue yang kena? Udah Ndis, anterin aja. Daripada ini bocah berantem di pasar
gara-gara nggak bisa nawar ..." Sahut Fandy. Sekarang giliran Fandy yang
berbicara ngawur.
"Okelah
..." Lanjutku singkat usai meneguk sisa air dalam gelas kaca berukuran
kecil milikku.
"Oke,
habis dari puskesmas ya? Gue pinjem motor dulu ke Pak Haris. Nih jatah telur
gue buat Lo deh ..." Ucapnya seraya menyodorkan piring berisi telur mata
sapi yang merupakan lauknya, kemudian berlalu pergi keluar dari posko.
"Wih, Lo
kasih jampi-jampi apaan nih sih Yudha jadi lembut sama lo?" Goda Fandy.
"Tauk tuh, gue sendiri juga bingung ..." Sahutku asal seraya
menggigit kerupuk.
"Jangan-jangan,
diantara kalian ada sesuatu yang gue nggak tau nih ..."
"He? What
do you mean?"
"Ya
mungkin ada rasa yang tak biasa ..." Ucapnya dengan sedikit memberi
tekanan pada kalimat ada rasa yang tak biasa. Aku
meliriknya tajam.
"Rasa yang
tak biasa jidat Lo ! Udah ah, gue mau ganti baju dulu ..." Sahutku seraya
berjalan ke arah pintu kamar.
"Eh,
telurnya nggak Lo makan?" Tanyanya lagi. Aku terhenti, kemudian meliriknya
sekilas.
"Buat Lo
aja, protein tambahan, biar nggak ngaco kalau ngomong ..." Jawabku,
kemudian menutup pintu kamar.
***
"Masih
jauh nggak sih pasarnya?" Tanyanya tiba-tiba dengan suara sedikit keras
setelah lima menit perjalanan kami tempuh.
"Nah, gue
mana tau!?"
"Lah, Lo
belum pernah ke pasar?" Tanyanya lagi. Aku terbengong. Heran.
"Belum,
lah. Kan Lo ngajakin ke pasar, kok malah tanya gue sih?" Aku balik
bertanya.
"Gue pikir
Lo udah pernah kesana. Jadi, tadi gue jawab kalau udah tahu dimana pasarnya
waktu ditanya Pak Haris. Mampus dah ..." jawabnya kemudian. Alis kiriku
terangkat.
"Lah,
kapan emang Lo tahu gue ke pasar?"
"Waktu
diajakin bu Lurah minggu kemarin itu ..." dia sedikit menoleh agar aku
mendengar suaranya yang tidak begitu keras seperti sebelumnya.
"Salah
denger kali. Gue kemarin nggak di ajakin ke pasar, tapi diajakin rapat buat
ngatasin masalah kebersihan di pasar biar nggak kumuh gitu ..." jelasku.
"Holly
Shit ..." Usai kalimat terakhirnya keluar, tiba-tiba mesin motor yang kami
kendarai mati dan berhenti seketika.
"Eh, kok
mati gini?"
"Lah, kok
nanya gue? Kan Lo yang bawa ..."
"Wah, emang
dasar motor tua!" Gerutunya.
"Ye, ya
jangan gitu. Udah mijem, ngatain lagi ..."
"Ya bukannya
gitu, kenyataan nih ..."
"Iya deh
iya ..."
"Turun
gih, bantuin dorong ..." pintanya. Aku berdecak sebal.
"Ah, Lo
nyusahin terus jadi orang!"
"Emang Lo
mau kejebak di tengah hutan gini sampe malem? Mending kita usaha jalan daripada
nunggu orang lewat ngga dateng-dateng ..." Apa yang dikatakan Yudha memang
ada benarnya. Mungkin untuk saat ini, aku lebih setuju pendapatnya. Meskipun
berisiko capek.
"Tumben
omongan Lo ada benernya ..." Ucapku. Yudha tertawa bangga. Aku hanya
tersenyum sambil geleng-geleng.
***
Aku benar-benar lelah. Kakiku
rasanya hampir mau copot. Kepalaku mendadak pusing dan pandanganku sedikit
kabur. Mungkin karena tadi pagi aku hanya makan beberapa sendok saja. Padahal,
tinggal sedikit lagi kami akan sampai di rumah pak Haris.
"Rumah pak
Haris udah di depan nih ... Eh, Ndis, Lo nggak papa?" Suara Yudha
terdengar samar di telingaku.
"Ha?"
Aku menoleh ke arah Yudha.
"Eh,
Ndis!" Tiba-tiba, aku pingsan. Tepatnya, setelah Yudha meneriakkan namaku.
Dan setelahnya, aku tak ingat apapun.
***
Aku terbangun di dalam sebuah rumah
yang tidak terlalu terang. Rumahnya juga sedikit sempit. Ventilasinya juga
tidak terlalu banyak, itu jelas terasa karena ruangan ini sedikit pengap dan
agak gelap. Aku duduk dan memegangi kepalaku yang masih pening.
"Udah
bangun?" Tanyanya seraya berdiri dari kursi tempatnya duduk, kemudian
mendekat ke arahku berbaring.
"Gue
dimana?"
"Di salah
satu rumah warga, tapi si ibu masih keluar bentar ..." jelasnya. Dia
berjongkok di depanku.
"Tadi Lo
tiba-tiba pingsan. Kenapa nggak bilang sih kalau capek?" Lanjutnya.
"Abis mau
gimana lagi? Kalau ngomong capek malah keburu sore ..."
"Heish,
dasar kepala batu ..." tangannya mengepal seperti akan memukulku. Aku
tertawa kecil.
"Kan,
mulai ngatain lagi ... Oh iya, btw sekarang jam berapa?"
"Udah mau
jam 5 sih ..."
"Serius Lo
? Hayuk atuh balik. Keburu gelap nih ..."
"Iya, iya.
Emang, elo udah baikan? Maksud gue, keadaan lo sekarang gimana?" Usai
kalimat terakhirnya, aku bangun dari kursi panjang ini dan hendak mengajaknya
keluar dari rumah. Badanku terhuyung ke belakang.
"Wah, lo
..." Ucapnya refleks seraya menyanggaku yang hendak jatuh. Saat itupun,
seorang ibu-ibu datang dari arah pintu. Itu ibu pemilik rumah ini.
"Oh, udah
sembuh dek?" Katanya. Aku membenarkan posisi berdiriku. Aku tersenyum.
"Sudah bu.
Terimakasih ya bu. Maaf ngrepotin ..." Lanjutku seraya menyalami beliau.
"Bu, saya
juga mau pamit. Terimakasih ya bu ..." Yudha mengikuti dari arah samping.
"Yaudah,
mbaknya tolong dipapah ya mas? Kayaknya masih pusing itu ..." Tutur ibu pemilik
rumah.
"Iya bu,
siap. Mangga, bu ..." Belum
sempat aku mengelak, Yudha sudah menyahut dan berjalan menarik lenganku.
***
"Masih pusing?"
"Dikit sih
..."
"Ayo gue
gendong ..."
"Nggak,
nggak usah. Gue gapap .. Aaaa ... Kok ..." Aku terduduk di atas tanah yang
sedikit basah karena hujan tadi pagi. Ya, aku terpeleset tanah berlumpur.
"Mulut gue
belum kebungkem nih, elo udah main jatoh duluan. Ayo ah, keburu gelap. Masih
jauh juga. Gue nggak yakin lo kuat jalan. Buruan !" Pintanya.
"Aish,
lumpur semuaaa! Nggak usah lah, tar baju lu kotor ..."
"Besok
bisa dicuci. Buruan dah !" Setengah malu, aku berdiri dibantu olehnya.
Celanaku kotor, sneakers-ku apalagi. Tangannya terulur, kemudian menarikku agar
aku berdiri dan naik ke punggungnya. Dan kami menuju ke posko dengan aku yang
naik ke punggunya.
***
"Kenapa sih diem terus?
Bete?" Tanyanya tiba-tiba. Bahunya benar-benar lebar. Dari arah belakang,
aku bisa mencium aroma shampo yang digunakannya. Aromanya seperti shampo yang
dulu dipakai Kak Brian sewaktu SMA.
"Nggak
sih. Gue nggak enak aja sama lo ..." jawabku setelah cukup lama bergumam.
"Lah,
santai aja kali. Gue ikhlas kok ..."
"Lah,
boro-boro. Biasanya lo yang paling ngeluh .. Eh, sama sih kayak gua ..."
Aku terkekeh. Dia menoleh ke belakang, memandangku.
"Nah gitu
dong. Kan kalau ketawa cantik. Enak dilihat..." Ucapnya.
"Idih,
basi!" Aku terkekeh.
"Basi
apaan? Gua serius. Kalau eneng jomblo, abang siap ngegandeng atuh ..."
Lanjutnya. Aku hanya terdiam sampai akhirnya kami sampai di depan posko. Jadi,
apa sekarang? Mungkin dia hanya berusaha terlihat lebih akrab denganku. Ya,
mungkin.
"Makasih
ya?" Ucapku setelah dia menurunkanku dari punggungnya.
"Oke. No
problem. Gue masuk dulu ya, mau mandi ..." Jawabnya. Aku hanya tersenyum
seraya mengangguk. Dan tepat saat itu juga, akum akin tak bisa mengendalikan
degupan jantungku. Ah, sial.
***
Saat ini aku duduk depan posko
sambil memakan biji kuaci seraya mencari sinyal. Ya setidaknya jaringan sinyal
masih ada di desa ini meskipun harus keluar rumah dan kadang bisa naik genting.
Tapi ini tidak kulakukan, karena akan berisiko jatuh. And that's not funny.
Entah kenapa tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian beberapa hari yang
lalu. Saat dimana Yudha menggendongku sampai posko karena aku yang masih
sempoyongan. Ada beberapa hal yang membuatku bingung. Kalimatnya beberapa hari
yang lalu masih terngiang di telingaku. Benar-benar masih membekas. Beberapa
rangkaian potret tentang semua hal yang aku lakukan dengannya pun tak
terelakkan dalam benakku. Anjir. Apa ini? Gendis, ada yang salah denganmu!
"Woy.
Nglamun aja lo. Mikir apaan?" Sontak, teriakan Fandy mengejutkanku.
Seketika itu aku menoleh dan mematung selama 5 detik.
"Ndis!"
"Eh, apa?!
Gimana?!" Aku tersadar.
"Lagi
mikir apaan?"
"Nggg ...
Nggak, ini lagi cari sinyal. Susah amat ..."
"Halah,
bilang aja lo lagi mikirin Yudha. Awas lo, ntar baper. Playboy kelas kakap tuh
..." ucapnya tiba-tiba.
"Idih,
nggak kalee ... Playboy? Maksudnya?"
"Tuh kan
kepo ..."
"Wah,
bener-bener lo ya. Kena virusnya Yudha lu, kerjaannya ngatain orang ..."
cibirku.
"Naon atuh, Teh? Jangan emosi gitu,
atuh. Jadi nih ya, banyak gosip kalau si Yudha itu playboy. Tiap kelas dan tiap
angkatan hampir ada gebetan ..." Jelasnya. Aku berpikir sejenak. Kalau ku
terka, Yudha memang memiliki banyak sekali teman perempuan. Dan, salah satu
mantannya juga berada di kelas yang sama dengan kami. Belum lagi ... Ah, mana
mungkin? Sepertinya dia cuek soal cinta dan sejenisnya.
"Ah,
serius lo?" Tanyaku masih belum yakin.
"Mau
bukti? Coba aja deh sendiri. Pasti yang ada lo dibikin patah hati. Sama gue aja
lah ..." Guraunya. Aku terkekeh.
"Idih, gue
mah ogah. Udah ah, gue mau masuk dulu. Makan nih kuaci ..." Kataku seraya
masuk ke dalam posko meninggalkan Fandy sendirian. Aku masih enggan untuk
mempercayai apa yang barusaja dikatakan oleh Fandy. Tapi, kenapa aku harus
enggan??
***
Aku masih tidak mengerti, apa yang
salah denganku. Akhir-akhir ini, wajah Yudha selalu melintas dalam pikiranku.
Mungkin, kepalaku sudah penuh dengan semua hal tentangnya. Karena aku baru
sadar, kalau aku mulai menyukainya. Ini salah. Benar-benar salah! Setiap kali
aku melakukan suatu hal, potongan memori tentang saat-saat bersamanya terus berjalan
dalam ingatanku. Dan tanpa ku sadari, aku senyum-senyum tidak jelas. Akupun
juga sering kepergok oleh Fandy atau pegawai puskesmas. Yang ada, aku jadi
bahan bullying.
Hari ini adalah
hari ketiga di minggu terakhir KKN. Tugas kami adalah ikut berpartisipasi dalam
kegiatan imunisasi dan pemberian promosi kesehatan mengenaik kesehatan anak dan
ibu. Acara dilakukan di balai desa. Untungnya, kemarin semua kader desa ikut
membantu membersihkan balai desa. Kalau tidak, yang ada acara hari ini akan
gagal.
"Eh, acara
ini kan kelar sekitar jam 12. Ntar kelar acara kita ke air terjun yuk. Spot-nya
oke punya. Gue kemarin diceritain sama anak remaja kampung sini ..." Yudha
membuka topik seraya menyiapkan leaflet untuk promosi kesehatan nanti.
"Boleh
lah. Track-nya susah nggak?" Sahut Fandy. Aku yang sedang menyiapkan
daftar presensi untuk promosi kesehatan nanti hanya diam tak berkomentar.
"As you know, lah .. Untuk menuju sesuatu
yang indah, harus berjuang melewati sesuatu yang sulit ..." Jelas Yudha.
Fandy berdecak.
"Alah,
gaya lo kayak anak sastra aja ..." Cibir Fandy disusul tawa. Yudha
terkekeh.
"Oh iya,
lo harus ikut juga, Ndis ..." Ajak Yudha. Ah, mampus. Okay, keep calm, Gendis. Keep calm ...
"Hmm,
liat-liat ntar deh gue ..."
"Ah jangan
gitu dong .. Kita disini cuman tinggal 3 hari lagi. Itupun buat intervensi ke
warga sama perpisahan. Dan hari sabtu kita udah balik. Senin udah balik kuliah,
men !" Kata Fandy seraya menancapkan flashdisk pada laptop yang ada di
depannya, bermaksud memindah data presentasi. Aku bergumam panjang.
"Nggak ada
toleransi apa. Boro-boro liburan, dudukin pantat di rumah aja nggak sempet
..." lanjut Fandy.
"Gimana,
Ndis? Nggak bakalan bikin elo kurus kok ..." Goda Yudha.
"Yeee
resek. Gue nggak gendut banget kalee. Udah ah, gue mau bantuin ibu-ibu bikin
puding dulu ..." Jawabku seraya hendak melangkah ke bagian dapur.
"Lah, Ndis.
Ikut ya?" Ajak Yudha lagi.
"Liat ntar
aja ya? Daahh ..." sahutku seraya melambaikan tangan menjauhi mereka
berdua.
***
Penyuluhan yang
kami lakukan bersama para petugas kesehatan yang ada di puskesmas telah usai
sekitar 5 menit yang lalu. Dan saat ini kami sedang berkumpul di tengah-tengah
ruangan yang dipenuhi kursi para tamu undangan tadi.
"Gimana
nih? Jadi kan?" Tanya Yudha. Aku pura-pura tak mendengar pertanyaannya
sambil merogoh ponselku.
"Boleh aja
sih, tapi kita ganjil nih. Nggak mau ngajak siapa gitu?" Sahut Fandy.
Sepertinya Fandy juga setuju dengan ide Yudha untuk pergi ke air terjun yang
dia bicarakan kemarin.
"Ntar gue
ajakin si Imam anaknya pak Haris . Dia kan anak sma, seenggaknya nyambung sama
kita. Gimana?" Lanjut Yudha. Fandy bergumam sambil manggut-manggut.
"Boleh
juga ide lo ... Gimana, Ndis? Ikut kan?" Aku masih berpangku tangan seraya
bergumam.
"Pasti ikut
lah. Itu mah wajib kalau buat Gendis ..." Sahut Yudha cepat.
"Yaudah,
gue balik dulu. Elo pada sekalian bawa baju ganti, jangan lupa .." Ucap
Fandy seraya beranjak keluar dari ruangan ini. Hanya ada aku dan Yudha yang
tersisa di ruangan ini. Dan, sejak kapan aku setuju untuk ikut bersama mereka?
Pemaksaan.
***
"Eh, Bang. Hati-hati lho.
Spotnya agak licin, kan barusan hujan tadi pagi ..." Teriak Imam yang
sudah berada jauh beberapa meter dari kami bertiga. Benar memang. Meskipun
jalurnya jelas, namun tekstur tanah berlumpur dan becek membuat perjalanan
menjadi lambat. Berkali kali sepatuku tertinggal di dalam lumpur, dan pada
akhirnya kotor sampai bagian insole-nya.
"Aduh
!" Tiba-tiba aku jatuh terduduk diatas lumpur karena sepatuku terjebak
lumpur dan tak bisa ditarik keluar. Dan pada akhirnya, seluruh pakaianku kotor
karena lumpur.
"Lah,
Ndis!?" Yudha berjalan cepat melewati lumpur ke arahku. Keputusannya untuk
melepas alas kakinya adalah hal yang tepat.
"Elo nggak
papa?" Tanyanya padaku seraya berusah membantuku berdiri. Aku menggeleng.
"I'm okay.
No problem. Tapi, baju gue nih ..."
"Nggak
papa. Ntar cuci di sungai kan bisa. Bawa ganti, kan?" Sarannya. Aku
mengangguk mengiyakan.
"Sekarang
coba minggir dulu ke jalan yang nggak becek, terus lepas tuh sepatu ..."
Aku berusaha melangkah, tapi yang ada aku terjatuh lagi, dan sepertinya kaki
kiriku keseleo. Aku meringis menahan sakit.
"Kaki lo
kenapa? Sakit? Coba sini gue liat. Gue bantu pindah dulu ..." Tanpa
memberikan jawaban, aku mengikuti sarannya begitu saja. Kedua tangannya
mengenggam tanganku. Untuk pertama kalinya, tangan kami bersentuhan lama.
Tiba-tiba jantungku berdebar hebat. Perasaan macam apa ini? Apa aku ...
"Woy, Yud!
Ada apaan?! Teriak Fandy dari kejauhan. Sontak, lamunanku buyar.
"It's okay ! Duluan aja bro !" Yudha
balas teriak.
"Okee
!" Fandy balas teriak juga. Aku masih memegangi daerah sekitar mata kaki
kiriku. Sepertinya ada yang salah.
"Sakit
dimana? Disini? Kuat jalan nggak? Gue gendong aja ya?" Tanyanya seraya
menunjuk bagian kakiku yang memang benar-benar sakit.
"Eh, nggak.
Nggak usah. Kuat kok .."
"Udah
nggak usah sok kuat. Mana tas lo, biar gue bawa ..." Mintanya sambil
mengalungkan tasku pada lehernya sehingga menggantung di depan dadanya.
"Ayo naik
ke punggung gue .."
"Ah, nggak
deh .." aku berusaha menolak.
"Idih pake
nolak segala. Dijamin aman kok. Keburu sore nih. Atau mau gue tinggalin disini?
Ntar ada ular lho ..."
"Eh ya
jangan !"
"Makanya,
ayoo !" Setelah paksaanya yang terakhir, aku hanya mengangguk dan segera
naik ke punggungnya. Ah, aku kena sial lagi.
***
Hari ini adalah malam terakhir kami
berada di desa ini. Kaki ku sudah sepenuhnya sembuh karena kemarin malam diurut
oleh bu Siti, salah seorang tukang pijat disini. Awalnya aku menolak. Tapi
karena beliau memaksa, alhasil aku menurut saja. Karena aku dan teman-teman
merasa tak enak hati. Hari ini, kami bertiga mengadakan acara bakar-bakar ikan
dan jagung bersama beberapa anak muda disini. Untungnya, ada dua anak gadis.
Setidaknya, aku bukan satu-satunya perempuan dalam acara ini. Kulihat, Yudha
dan Fandy sedang mengobrol dengan anak-anak asli desa ini. Aku menatap lama ke
arah Yudha yang sedang tertawa karena guyonan yang mereka bicarakan. Tanpa
sadar aku tersenyum tidak jelas. Sebenarnya, apa yang salah padaku?
"Dek, aku ke
dalam dulu ya? Mau ngambil hp ..." Kataku pada dua anak gadis yang sedang
duduk di sebelahku. Mereka berdua mengangguk seraya tersenyum mengiyakan.
Setelah itu aku masuk ke dalam posko dan menuju dapur untuk mengambil minum
sebelum hendak mengambil ponsel di kamar.
Tiba-tiba,
listrik padam. Aku masih di dapur dan belum menemukan ponselku. Mungkin aku
harus keluar terlebih dahulu dan mengurungkan niat untuk mengambil ponsel.
Cukup seram memang. Listrik mati, dan aku sedang berada di dalam rumah yang
letaknya masih dalam lingkup hutan. Jangan-jangan ada ular???
Ku putuskan
untuk keluar dengan cara meraba tembok dan berjalan perlahan, mengandalkan
insting.
"Aduh
!" Seseorang menubrukku dan aku terjatuh ke belakang. Ah, apakah aku
menabrak hantu?
Aku merasakan
hembusan nafas tepat di depan wajahku. Aku merasakan sesuatu yang lembab
menempel di bibirku.
Tring ! Lampu
kembali menyala. Ketika aku hendak bangun, dan betapa terkejutnya aku. Bibirku
bersentuhan dengan bibir seseorang yang begitu ku kenal. Yudha.
Tanpa sadar, aku langsung mendorongnya ke belakang hingga ia terduduk. Saking
gugupnya, aku langsung berdiri dan berlari menuju keluar rumah.
Pipiku memanas.
Jantungku rasanya hampir lepas karena berdegup begitu kencang. Ah, ini
kesalahan. Kesalahan fatal !
Tok, tok !
Pintu diketuk begitu keras dari arah luar.
"Ndis,
sorry. Gue nggak sengaja. Gue juga nggak ngerti kalau ternyata lo ada di dapur.
Gue tadi disuruh ambil garam sama bu Roro. Terus tiba-tiba mati lampu. Jadi gue
cuman pake insting aja buat masuk ke dapur. Eh nggak tau nya malah nabrak lo
..." Aku yang masih berdiri di balik pintu kamar mendengar suara Yudha
yang menjelaskan kronologi ketidaksengajaan tadi. Bukan soal itu. Aku terlalu
malu untuk bertemu dengannya. Karena kejadian tadi.
"Ndis
..." Lamunanku buyar saat nada bicaranya menurun.
"Kalau
boleh jujur, gue sebenernya agak bersyukur sih dengan adanya kejadian tadi
..." Lanjutnya. Apa dia sudah tidak waras? Bersyukur? Sinting!
"Dari awal
kita ketemu di kelas, gue suka sama lo. Tapi gue nggak punya nyali buat
ngakuinnya. Lo terlalu cuek dan bahkan bisa dibilang benci sama gue. Tapi
takdir emang berkata lain. Semesta emang ngedukung. Kita selalu dipertemukan
dalam hal tak terduga. Kita kemana-mana berdua, itu udah takdir. And at least,
sampai detik ini juga, rasa itu masih sama ..." ceritanya masih berlanjut.
Entahlah, saat ini perasaanku campur aduk. Cemas, takut, tidak percaya, tapi aku
sedikit ... Senang. Mungkin.
"Setidaknya
gue udah ngomong yang sebenernya ke lo. Yaudah, gue ke depan dulu ya, mau
nganter gula. Lo jangan lama-lama, ntar dicariin. Sekali lagi, maaf Ndis..."
Tuturnya dilanjut tawa.
"Yud
..." Panggilku lirih, masih dari balik pintu. Dia hanya balas bergumam.
"Thank's, ya ..."
"For what?"
"Karena
udah care sama gue and thank's for everything ... Dan sebenernya ..."
"Sebenernya
lo juga ada rasa sama gue?"
"Hmm..."
Jawabku disusul anggukan pelan.
"Gue jadi
tambah bingung. Mau nembak juga momennya lagi jelek. Dan gue takut, lo malah
belum siap ..." aku tertawa mendengar argumennya.
"Kok lo
ketawa, sih? Gue serius nih ..." Setalah kalimat terakhirnya, tanpa sadar
aku langsung memutar gendel pintu dan membukanya. Kulihat Yudha berdiri di
tengah-tengah pintu sambil membawa toples berisi gula pasir.
"Gue juga
serius ..." Ucapku kemudian seraya tersenyum padanya. Wajahnya berubah,
menjadi sumringah.
"Boleh
nggak gue peluk lo se ..." kalimatnya terhenti karena aku langsung
memeluknya. Kedua lengannya melingkar dipunggunggku. Hangat rasanya. Jadi
seperti ini rasanya, menyukai seseorang yang awalnya benar-benar dibenci?
Saking bencinya, justru selalu memikirkannya setiap saat?
"Btw, Yud
..." ucapku.
"Apaan?"
Tanyanya kemudian.
"Yang elo
bawa itu gula pasir, bukan garam ..." lanjutku. Aku tertawa dalam
pelukkannya. Yudha melepaskan pelukan dan menatap toples yang dibawanya.
Kemudian ia menepuk dahinya.
"Oh iya !" Kami terkekeh. Ya, harusnya itu gula, bukan garam. Karena
garam, tak akan pernah semanis gula. Tapi setidaknya, kekeliruan itu memecah
keheningan diantara kami. Dan, mengungkapkan kebenaran bahwa kami saling
menyimpan rasa.
***
KKN telah usai.
Kami bertiga harus kembali pada kesibukan kami sebelumnya. Kuliah, kuliah dan
kuliah. Karena setelah lulus program S1, kami akan mengambil program profesi
agar memiliki gelar doker di depan nama kami. Dan tentunya, perjalananan kami
memang masih sangat panjang. Masih ada magang dan program spesialis jika kami
ingin menjadi dokter spesialis dan lebih fokus pada satu bidang.
"Ras, liat
Yudha nggak?" Tanyaku pada Laras, teman baikku.
"Hmm, yang
beneran cinlok nih ye ..." godanya. Aku berdecak sebal sambil cengengesan.
"Ih gue
tanya nya apa, jawabnya apa ..." Cibirku.
"Yaelah
gitu aja marah ..." guraunya seraya mencubit pipiku. Aku terkekeh.
"Tadi pagi
sih sempet liat gue di parkiran, tapi nggak taunya, sampek jam segini belum
nongol tuh anak. Kalian udah jadian?" Tanyanya.
"Serius?
Jadi dia ke kampus dong? Kok nggak ada gue cariin. Mana nomornya nggak aktif
lagi. Chat centang semua ..." gerutuku. Laras hanya bergumam.
"Soal
jadian .... Belum sih ... Kita cuma sama-sama tahu kalau kita saling suka. Itu
aja ..."
"Eh, Ndis
... Bukannya gue gimana-gimana ya, tapi waktu kkn kemarin, temen sekelompok gue
pada ngomongin kalau dia itu playboy lho ..." ucapnya tiba-tiba.
"Gosip?
Dia kayak nggak terlalu berani sih kalau masalah cewek. Pemalu gitu. Masa iya
playboy? Ngarang lo ..." jawabku sedikit mengelak dan tetap yakin dengan
persepsiku sendiri.
"I don't think so. Soalnya ... gue lebih
percaya sama cerita anak-anak ..." Laras mendekatkan bibirnya pada
telingaku.
"Nggak
paham juga sih. Si Fandy juga pernah cerita ke gue ..." Jawabku.
"Lo tau
Putri, anak kelas sebelah yang dulu temen kita sekelas waktu semester 4 yang
juga temen sekelompok gue kkn?" tanyanya lirih. Aku mengangguk sambil
memandangnya.
"Dia
korban PHP-nya Yudha, Ndis. Dia cerita banyak, mulai dari di deketin sampe'
akhirnya Yudha kepergok jalan sama anak prodi keperawatan. Gila nggak sih?
Tapi, gue juga nggak ngerti sekarang dia gimana. Just positive thinking
..." Tutur Laras panjang. Aku hanya bergumam ragu.
"Sekarang
kita ke kantin aja yuk. Laper nih gue. Hayuk atuh ..." Pintanya dengan
nada manja seraya menggandeng lenganku.
"Iya, iya
..." jawabku malas.
***
Setidaknya, keputusan Laras untuk
mengajakku ke kantin adalah hal paling benar pada hari ini. Aku, yang saat ini
berdiri di lorong sebelah kantin, melihat sosok Yudha sedang duduk dan mengelus
rambut seorang perempuan yang tidak aku kenal. Tapi yang aku tahu, parasnya
begitu cantik. Bentuk tubuhnya bagus, kulitnya putih dan dari penampilannya
terlihat kalau dia adalah seorang perempuan branded. Keputusanku untuk ikut
bersama Laras memang tepat. Meskipun pada awalnya aku sempat malas.
"Ndis
..." panggilnya seraya beralih pandangan dari Yudha ke arahku.
"Ras, gue
balik aja deh. Sorry, gue nggak bisa lihat hal semacam itu ..." Ucapku
kemudian berlalu meninggalkan Laras yang mengejarku seraya berteriak memanggil
namaku.
***
Dua puluh enam panggilan tak
terjawab dan sepuluh pesan memenuhi notif ponselku. Aku masih tertegun memandangi
ponselku yang terus menyala karena panggilan itu. Sesekali aku mengusap air
mataku yang tiba-tiba saja menetes tanpa ku sadari. Dan sudah 2 hari aku tidak
masuk kuliah. Untungnya, besok adalah hari jumat. Karena waktu perkuliahan
hanya sampai hari kamis saja. Laras sudah tau kondisiku sampai saat ini.
Kemarin sore dia juga sudah datang dan meminjamkan catatannya padaku.
Tok ! Tok !
Seseorang
mengetuk pintu kamar kosku.
"Ndis ...
Tolong buka pintunya. Gue perlu ngomong ..." Teriak seseorang dari luar.
Itu suara Yudha. Darimana dia tahu dimana aku tinggal?
"Ndis! Gue
tau lo ada di dalem. Tolong keluar, kita perlu bicara. Laras udah cerita ke gue
..." Teriaknya lagi. Kalau aku tak keluar, yang ada tetangga kos akan tahu
dan aku akan menjadi bahan gosip. Dengan mengumpulkan sisa tenagaku, aku bangun
dari tempat tidur dan hendak menuju pintu.
"Ndis?!"
aku membuka pintu.
"Mau
ngomong apa, lo?"
"Gue mau
jelasin soal ..."
"Udah
nggak perlu. Cukup tau gue sama kelakuan lo. Emang bener ya kata anak-anak. Elo
itu kalau mau jadi cowok playboy, rentengin cewek, pinteran dikit napa ! Jangan
diliat-liatin di tempat umum. Elo bego' apa mau pamer sih?! Bangga bener
.." omelku dengan nada meninggu. Wajahnya benar-benar terlihat takut dan
merasa bersalah.
"Gue tahu
gue salah, tapi ..."
"Okay,
Stop! Mulai sekarang, gue akan bersikap seolah nggak ada apa-apa diantara kita.
Jangan bawa masalah ini di kelas atau dimana pun. Nggak ada yang perlu tahu
masalah ini selain lo, gue, Laras sama Fandy. Cukup? Sekarang lo angkat kaki
dari kos gue. Makasih!" Tuturku seraya menutup pintu. Aku terduduk. Tanpa
sadar aku menangis lagi. Sakit rasanya. Tepat di ulu hati. Rasanya sesak. Saat
ini juga, hujan turun begitu lebatnya, seolah berkabung bersama kesedihanku.
Terlebih lagi, saat memori tentangku dan tentangnya satu bulan yang lalu
terbesit dalam benakku. Seperti sebulah adegan film yang sedang berputar. Dan
yang aku ingat hanya satu. Ketika garam tak akan pernah semanis gula. Begitu
pula kisah kita, berawal dari kekeliruan, yang tak berujung pada kebahagiaan
dan kisah manis.
Kini, sudah
terjebak dalam sebuah kisah cinta yang dangkal terhadapmu.
Aku tak akan lagi mencintaimu. Sama sekali tidak.