Monday, 27 March 2017

Short Story : Cinta yang Dangkal.



 


"Aku tidak ingin lagi mencintaimu. Sama sekali tidak."

Itu adalah dua kalimat yang sudah aku tanamkan dalam otakku semenjak kejadian di hari itu. Hari dimana menjadi hari paling menyakitkan untukku. Hari dimana aku tahu, bahwa kau adalah laki-laki paling brengsek yang pernah ku kenal selama hidupku.
Cerita berawal dari pertemuan kita saat Ospek di fakultas kedokteran yang kita naungi. Sebelum ku lanjutkan ceritaku, perkenalkan. Namaku Gendis Taulia Marissa. Biasanya dipanggil Gendis. Aku adalah salah satu mahasiswi jurusan Kedokteran. Sebenarnya, aku masuk jurusan ini atas dasar unsur keterpaksaan. Sedari dulu, Bunda memintaku untuk menjadi seorang dokter agar aku bisa membantu dan merawat keluargaku apabila ada masalah terkait kesehatan dan sebagainya. Karena aku adalah anak satu-satunya, mau tak mau aku harus menuruti Bunda. Kalau Ayah sih tak begitu peduli dengan apa cita-citaku. Selama itu baik dan masih sesuai jalur, dan aku suka, pasti Ayah akan selalu mendukung. Hanya saja, sedari dulu aku tak pernah membantah apa yang Bunda katakan. Dari sisiku pun juga sama. Apapun yang aku minta, Bunda selalu berikan. Ya, apapun. Seperti saat kemarin aku meminta Bunda memberikan sebuah rumah yang tak pernah ditinggali yang ada di daerah jalan Babakan Tarogong pada Kak Brian, sepupuku yang baru saja mendapat musibah, Bunda langsung saja mengiyakan permintaanku tanpa bertanya kepada Ayah. Karena tentunya, Ayah pasti akan mengiyakan jika tujuannya adalah untuk kebaikan. Sayangnya, keluarga Kak Brian menolak dengan alasan tak ingin membebankan keluarga kami. Tentunya, keputusan tersebut kami hargai.
Oke, kembali pada topik utama. Pada manusia super menyebalkan yang tak punya sopan santun. Saat itu, aku melihatmu sedang berdiri di bagian depan tribun, dihukum oleh ketua BEM karena melakukan kesalahan fatal, yaitu tidak memakai atribut apapun. Kau memang keterlaluan. Apa untungnya melanggar banyak peraturan dan menjadi bahan bullying para senior? Cari sensasi? Atau cari muka?
Banyak gosip yang beredar, bahwa kau adalah anak dari salah satu dokter terkenal yang juga direktur di rumah sakit yang menjadi salah satu partner medis dari universitas ini. Dokter itu bernama Handoko. Selain itu, menjadi donatur terbesar dan salah satu dari anggota struktural yayasan adalah nilai tambah dari dokter Hans (itu nama kerennya, kata dosen-dosen sih). Dan kenyataannya memang benar. Kau adalah anak dari dokter yang sering dibicarakan oleh mereka itu. Pantas saja, kau memiliki sifat sombong dan seangkuh itu. Kau terlalu menyia-nyiakan hidupmu dengan berperilaku tak layak semacam itu. Menyepelekan semua hal atas dasar jabatan orangtua. Memalukan.
Aku pun tak pernah menyangka, namamu berada dalam daftar ruang kelas yang sama denganku. Yudha Norma Handoko. Nama yang bagus, tapi tak sesuai dengan sifat orangnya. Aku bertemu denganmu lagi. Meskipun, saat ini dengan situasi yang berbeda, yaitu menjadi teman satu kelas. Dan, kelas mendadak riuh karena kelakuan yang kau perbuat saat ospek kemarin. Justru anak-anak di kelas tentunya akan memanfaatkan kesempatan itu untuk berteman denganmu. Siapa sih orang yang tak mau berteman atau hanya sekedar akrab dengan anak salah satu petinggi di universitas ini? Gila. Bisa- bisanya, orang sepertimu menjadi sosok paling populer di kelas maupun di fakultas. Aku tak habis pikir.
Entah kenapa, semakin kau berulah, semakin aku mulai memikirkanmu. Secara tak langsung, setiap kali aku mendengar kelakuan burukmu yang diceritakan oleh anak-anak di kelas membuat rasa benciku padamu bertambah. Itu yang membuatku muak dan membenci diriku sendiri. Kenyataannya memang salah jika aku harus terus memikirkan semua hal bodoh yang kau lakukan demi mencari simpati orang-orang. Hingga suatu ketika, kita ditakdirkan bersama dalam sebuah kelompok kecil. Tiap satu kelompok terdiri dari tiga orang. Dan betapa apesnya aku, harus berada dalam satu kelompok bersamamu. Hanya ada aku, kau dan Fandy, salah satu teman sekelas yang merupakan mahasiswa teladan dengan otak super cerdas setingkat Einstein yang sekaligus adalah ketua HiMa fakultas Kedokteran.
"Ini mau kerja kelompok, atau mabar (main bareng) sih? Kok pada fokus sama gadget! " Omel Fandy. Aku menatap Fandy, kemudian cengengesan seraya meletakkan ponselku diatas bangku.
"Sorry ..." Jawabku. Fandy menghela napas panjang. Dia menggeleng sambil berdecak ke arah Yudha. Ah, sama biang keroknya. Bahkan dia lebih parah dariku.
"Yud, lo niat nggak sih? Kalau nggak, mending pulang gih. Memperlambat aja..." Semprot Fandy lagi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Yudha memasukkan ponselnya ke dalam saku zipper hoddie-nya.
"So, apa tugas kita?" Tanya-nya dengan wajah santai, tanpa rasa bersalah. Aku melirik Fandy, ikut penasaran.
"Satu bulan lagi, di angkatan kita bakalan ada KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah desa terpencil yang letaknya agak jauh dari kota. Semua ketua kelompok udah gue briefing soal kegiatan, tugas dan kompetensi yang harus dicapai sesuai arahan dari Ketua Pelaksana. Jadi pada intinya, kita satu kelompok ..." jelas Fandy. Sontak penjelasannya membuatku ternganga karena shock.
"Ha? Bertiga doang?" Tanyaku dengan nada tak percaya. Yudha hanya melirikku malas, kemudian beralih kembali pada Fandy. Gila. Apa jadinya jika aku harus menjadi satu-satunya mahasiswa perempuan di kelompok ini? Ditambah lagi bersama manusia sombong dan sok itu? Ah, ini benar-benar mimpi buruk!
"Lah, emang ada masalah?" Cibir Yudha. Aku meliriknya tajam.
"Gue cewek sendiri! Itu yang jadi masalahnya!" Jelasku singkat dengan nada ketus.
"Yang jadi masalahnya itu, elo ! Ribet. Cuma dua bulan, nggak lama. Bosen gue sama suasana kampus ..." Cibir Yudha. Tanganku mengepal, rasanya ingin kutonjok wajahnya itu. Ah, menyebalkan ! Masalah yang sebenarnya adalah, aku yang harus satu kelompok dengan orang memuakkan sepertimu.
"Udah, jangan pada debat! Lagian, ini udah kebijakan dari kampus. Kita bisa apa coba? Cuman jalanin aja kan? Emang kalian mau, cuma gara-gara nggak ikut KKN, sidang proposal kita dipersulit, ditunda? Ha?" Belum sempat aku membalas kalimat pedas yang dilontarkan oleh Yudha, Fandy ikut berargumen, memojokkanku. Ah, semua cowok memang sama saja.
"Eh, sipit ! Denger tuh, apa yang ketua bilang!" Sahutnya sambil kembali memainkan ponselnya yang entah kapan aku tak tahu dia mengambilnya. Aku hanya mampu menghela napas panjang, menahan emosi. Dan pada akhirnya, aku harus pasrah. Well, aku harus menyiapkan hati. Karena dua bulan kedepan, akan penuh cacian dan makan hati.
***
Hari ini adalah hari dimana penyerahan mahasiswa KKN di tiap wilayah masing-masing. Satu kelompok dibimbing oleh satu orang dosen. Pak Heru, salah satu dosen yang mengampu mata kuliah Farmakologi, menjadi dosen pendamping yang mengantarkan kami ke sebuah desa yang benar-benar jauh dari perkiraanku. Lingkungan yang tidak terawat, sampah dimana-mana, jamban darurat yang dibangun di tengah-tengah pekarangan (you know lah seperti apa, jangan terlalu dibayangkan jauh-jauh) dan astaga ... Puskesmas yang benar-benar tidak berjalan dengan semestinya. Letak puskesmas memang tak jauh dari lingkungan perumahan masyarakat. Namun, menurut salah seorang bidan yang bekerja di puskesmas ini, jarang sekali masyarakat yang datang untuk kontrol akan penyakit atau hanya sekedar berobat jika terjangkit suatu penyakit. Miris rasanya melihat keadaan desa ini. Di era yang sudah maju seperti sekarang ini, masih saja ada masyarakat yang tak mengerti akan pentingnya kesehatan. Pantas saja, prosentase penyakit-penyakit menular dan tidak menular di desa ini sangat tinggi.
"Gila! Orang disini pada bego' apa? Udah tahu pada sakit, bukannya periksa malah pada diem. Mau nimbun penyakit?" Cibir Yudha.
"Heh, Yud! Punya mulut tuh dijaga! Kita lagi di tengah-tengah masyarakat tau. Apalagi kita numpang. Lo mau diusir?" Cibirku.
"Udah, udah! Apaan sih kalian? Dari awal nggak ada akur-akurnya. Lagian, bener tuh kata si Gendis. Jangan sampai KKN kita hancur cuman karena mereka sakit hati sama omongan kita ..." Fandy menengahi. Yudha hanya berdecak sebal, terpojok. Dalam hati aku tertawa. Mampus kena semprot.
***
Kedatangan kami ke desa ini merupakan suatu kesialan tersendiri untukku. Bagaimana tidak? Setelah aku mengetahui fakta bahwa aku harus satu kelompok dengan orang itu—Yudha, aku juga harus tinggal serumah dengannya karena kami harus menetap di posko saat kami tidak ada kegiatan di puskesmas atau turun ke masyarakat.
"Tinggal serumah? Kita bertiga? Sama dia?" Badanku sedikit condong dan menunjuk ke arah Yudha.
"Sinting." Lanjutku, mengomel tak terima. Yudha menatapku tajam.
"Eh, gue juga nggak mau kali tinggal serumah sama lo!" Balasnya dengan nada yang lebih tinggi. Ingin kutonjok saja wajahnya. Ih, menyebalkan!
"Hey, stop it! Emang seharusnya kita tinggal di rumah Pak Lurah, tapi mau gimana lagi? Elo pada tau kan kalau di rumah pak Haris—Pak Lurah—lagi ada saudaranya? Dan kalaupun kita tinggal di rumah warga, gue bakalan menjadi orang pertama yang nentang ..." Jelas Fandy. Aku tahu apa alasan di balik pendapat Fandy, itu akan lebih merepotkan banyak pihak. Kami pun akan merasa tak enak hati. Tapi ... Oh my God. That's not funny.
"Udah ngikut aja kenapa sih lo? Dari awal yang ribet mah elo .." Tambah Yudha menghakimi.
"Eh, elo tuh seharusnya mikir. Gue cewek sendiri. Tentunya, gue gak mau ambil resiko ya ..." jelasku dengan nada meninggi.
"Hei, udah! Elo pada kenapa sih? Dari awal berantem terus, adu argumen terus. Gue disini ketuanya, dan meskipun kita butuh berpendapat, tapi gue punya hak lebih besar dibanding elo berdua. Jadi, elo pada harus ikut sama aturan gue sesuai peraturan dari kampus. Awas, kalau sampai gue lihat kalian berantem lagi, mending elo berdua nggak usah ikut KKN ini lagi. Ngerti?!" Tutur Fandy panjang kemudian berlalu masuk ke dalam rumah yang bisa dibilang adalah posko kami. Aku menghela napas panjang, kemudian melirik tajam ke arah Yudha. Dan pada akhirnya, kami berdua masuk ke dalam posko menyusul Fandy seraya sama-sama membuang muka. Tanpa sadar, saat hendak melangkah masuk, aku menendang koper besarnya, kemudian koper itu terguling dan jatuh diatas kaki kanannya. Dia menatapku tajam. Belum sempat dia mencela, aku langsung berjalan menuju pintu meninggalkannya di teras posko.
***
Hari kedua adalah hari dimana kami harus terjun di masyarakat karena kami harus melakukan survey tentang beberapa penyakit yang diderita dan kemungkinan penyakit yang mungkin akan diderita oleh masyarakat desa ini. Semakin hari, kesialanku semakin bertambah. Hari ini pun begitu. Fandy, ditugaskan oleh Pak Haris untuk menemaninya ikut rapat kader dan membantu mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan acara expo yang akan dilakukan minggu depan di lapangan dekat balai desa. Alhasil, aku dan Yudha harus berangkat survey ke rumah warga yang terdiri dari 16 RT. Dan, setiap RT terdapat setidaknya 20 kepala keluarga. Jadi kesimpulannya, kami harus mengunjungi 320 rumah dan melakukan survey. Kepalaku terlalu berat untuk memikirkannya. Survey 320 rumah bersama laki-laki menyebalkan ini? Ya Tuhan. Pasti aku akan makan hati setiap harinya.
"Eh, gila kali ya kita disuruh survey 320 rumah! Berdua doang lagi. Fandy emang menang banyak. Dan sialnya lagi, gue harus turun sama elo ..." Cibir Yudha.
"Eh, bocah ! Elo pikir, sehari survey 320 rumah warga bakalan cukup waktunya? Maksimal, sehari kita harus kelarin dua RT. Jadi seenggaknya satu desa itu kita kelar survey ya sekitar seminggu lebih. Dan emang menurut elo, gue nggak sial apa harus terus survey sama elo selama seminggu lebih?" Aku membalas argumennya, lebih tajam.
"Eh, Ndis! Asal elo ta ..."
"Daripada elo ngomel dan terus ngatain gue nggak jelas, mending kita berangkat deh. Keburu siang, nggak kelar-kelar ini kerjaan ..." Potongku seraya berjalan melewatinya. Yudha mendengus kesal atas kekalahan argumennya. Pada akhirnya, kami berdua mulai memasukki tiap rumah mulai dari RT terdekat dengan posko kami. Dan aku hanya berharap, penderitaan ini segera berakhir.
***
Tak terasa, survey telah berjalan selama tujuh hari, dan hari ini adalah hari dimana semua hal yang berkaitan dengan survey harus berakhir karena hanya tersisa dua RT lagi. Sarapan pagi ini adalah nasi dengan semur jengkol, telur mata sapi, dan kerupuk ikan. Itu tandanya, aku hanya akan makan nasi bersama telur dan kerupuk. Aku tak menyukai makanan berbahan dasar jengkol. Tapi, makanan tanpa serat tentunya akan membuatku sembelit. Ah, bagaimana ini?
"Elo nggak makan, Ndis?" Tanya Fandy padaku. Aku bergumam panjang.
"Ya makan. Tapi gue ..."
"Nggak suka jengkol? Wahh, parah lo ..." Potong Yudha.
"Lah, emang gue kagak doyan .. " jawabku sedikit ketus.
"Ih, Lo kok nge-gas, sih? Sok banget sih ..."
"Eh, Yud! Yang makan siapa, yang resek siapa?! Bisa nggak sih, elo nggak komentarin hidup orang lain? Ngaca dong, hidup sendiri belum bener juga. Udah ah, gue langsung berangkat aja ..." Tuturku, seraya menyambar ransel dan almamater-ku yang ku letakkan di atas kursi kosong yang ada disebelahku. Kemudian, aku bergegas keluar posko dengan langkah cepat.
"Eh, Ndis?! Tunggu! " Aku mendengar teriakan Fandy yang perlahan mengecil karena aku berjalan menjauh. Aku memperlambat langkahku, berdecak sebal.
"Bisanya cuma nyacat orang, kayak dianya udah bener sendiri aja! Huh ..." Gerutuku.
"Ndis, bentar!" Teriak seseorang dari arah belakang seraya mencekal lengan kananku. Aku menoleh. Yudha.
"Apa lagi?! Mau ngajak debat? Sorry, gue nggak ada waktu ..." Sahutku seraya memalingkan wajah dan hendak melangkah lagi. Tanganku dicengkeramnya lebih kuat. Otomatis, tubuhku tertarik ke arah belakang.
"Ndis, sorry .." katanya dengan nada menurun. Aku sempat shock mendengarnya mengatakan kalimat itu. Aku menoleh ke arahnya. Dahiku mengeryit.
"Sorry? Sejak kapan elo jadi melow gini. Jangan-jangan bo'ongan lagi ..." sahutku acuh tanpa meliriknya sama sekali.
"Serius. Gue minta maaf. Maaf kalau gue udah bersikap nggak baik sama elo. Gue nggak ada mak ..." aku berbalik.
"Nggak ada maksud?! Nggak ada maksud tapi dilanjutin sampek bikin gue naik darah. Jangan mentang-mentang lo an ..."
"Anaknya direktur rumah sakit?" Mulutku terbungkam. Ah sial, keceplosan. Mungkin aku memang sedikit .... keterlaluan. Tapi, bagaimana dia tau?
"Kenapa sih, setiap kali orang yang bermasalah sama gue selalu ngomongin itu?" Lanjutnya seraya melepaskan cengkeramannya dari tanganku.
"Mau tahu alesannya?!" Kulihat dahinya mengeryit dan sebelah alisnya terangkat, menandakan keingintahuannya.
"Karena elo terlalu sombong dan angkuh. Seenggaknya, elo harus paham, gimana perasaan orang yang elo bully atau seenggaknya, ikuti aturan dong, jangan seenaknya sendiri?!" Turuku.
"Hei, kenyataannya emang gitu. Gue nggak bakalan ngatain orang kalau nggak ada bukti alias nggak sesuai fakta. Dan gu ..."
"Jangan ngomongin soal kenyataan. Elo bisa dengan mudah ngatain orang seenak jidat. Tapi, apa elo pernah mikir, gimana perasaan orang yang elo bully itu?! Bercanda boleh, tapi jangan keterlaluan dong ..." potongku. Dahinya sedikit mengeryit.
"Lah, emang gue pernah ngatain Lo? Sensi banget lo sama gue ..."
"Gue nggak peduli mau Lo katain apa, gue terima. Tapi, apa Lo nggak inget, nirmala, yang Lo bully karena dia anak biasa dan kuliah pake beasiswa hampir berhenti kuliah gara-gara siapa? Gara-gara Lo! Lo nggak pernah tau kan?!" Lanjutku. Dia mematung sesaat.
"Nirmala si Cupu? Se, serius?" Aku hanya menghela napas panjang mendengar responnya. Sepertinya, dia benar-benar tak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Gue nggak ngerti harus gimana. Gue cuma bisa bilang "sorry". Gue nggak pernah tahu kalau candaan gue bisa fatal kayak gitu ..." tuturnya dengan nada merendah.
"Nggak. Jangan ngomong ke gue. Nirmala yang berhak buat dapet permintaan maaf dari elo..."
"Iya, Ndis. Setidaknya gue tahu, kalau gue udah bener-bener keterlaluan. Thank's ..." jawabnya disusul seulas senyum. Jadi, selama ini dia menganggap apa yang dilakukannya itu lucu? Dasar brengsek.
Pada akhirnya, aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan terimakasihnya. Aku harap, penyesalannya itu tulus.
***
Satu bulan telah berlalu. Hanya tinggal menjalani satu bulan lagi, dan tugas kami di desa ini berakhir. Hari ini, kami bertiga mulai masuk puskesmas untuk mengolah data yang kami peroleh dari sebulan yang lalu dan menganalisa tentang penyakit yang menjangkit dan kemungkinan menjadi penyakit yang akan menjangkit masyarakat desa ini. Dan, sudah tiga minggu ini sikap Yudha terhadapku mulai berubah. Dia menjadi lebih lembut daripada biasanya. Dia juga menjadi jarang berbicara dengan nada tinggi. Bisa dibilang lebih sopan dari sebelumnya.
"Ndis, ntar temenin gue cari sesuatu ya di pasar? Elo kan yang cewek, pasti pinter nawar ..." Pinta Yudha padaku.
"Lah, kok gue sih? Gue kagak bisa nawar, suer!" Jawabku seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuk melambangkan "peace".
"Yaelah, ayo dong temenin gue napa. Gue takut dikira homo kalau kemana-mana sama Fandy ..." Fandy melirik Yudha tajam.
"Lah, jadi gue yang kena? Udah Ndis, anterin aja. Daripada ini bocah berantem di pasar gara-gara nggak bisa nawar ..." Sahut Fandy. Sekarang giliran Fandy yang berbicara ngawur.
"Okelah ..." Lanjutku singkat usai meneguk sisa air dalam gelas kaca berukuran kecil milikku.
"Oke, habis dari puskesmas ya? Gue pinjem motor dulu ke Pak Haris. Nih jatah telur gue buat Lo deh ..." Ucapnya seraya menyodorkan piring berisi telur mata sapi yang merupakan lauknya, kemudian berlalu pergi keluar dari posko.
"Wih, Lo kasih jampi-jampi apaan nih sih Yudha jadi lembut sama lo?" Goda Fandy.
"Tauk tuh, gue sendiri juga bingung ..." Sahutku asal seraya menggigit kerupuk.
"Jangan-jangan, diantara kalian ada sesuatu yang gue nggak tau nih ..."
"He? What do you mean?"
"Ya mungkin ada rasa yang tak biasa ..." Ucapnya dengan sedikit memberi tekanan pada kalimat ada rasa yang tak biasa. Aku meliriknya tajam.
"Rasa yang tak biasa jidat Lo ! Udah ah, gue mau ganti baju dulu ..." Sahutku seraya berjalan ke arah pintu kamar.
"Eh, telurnya nggak Lo makan?" Tanyanya lagi. Aku terhenti, kemudian meliriknya sekilas.
"Buat Lo aja, protein tambahan, biar nggak ngaco kalau ngomong ..." Jawabku, kemudian menutup pintu kamar.
***
"Masih jauh nggak sih pasarnya?" Tanyanya tiba-tiba dengan suara sedikit keras setelah lima menit perjalanan kami tempuh.
"Nah, gue mana tau!?"
"Lah, Lo belum pernah ke pasar?" Tanyanya lagi. Aku terbengong. Heran.
"Belum, lah. Kan Lo ngajakin ke pasar, kok malah tanya gue sih?" Aku balik bertanya.
"Gue pikir Lo udah pernah kesana. Jadi, tadi gue jawab kalau udah tahu dimana pasarnya waktu ditanya Pak Haris. Mampus dah ..." jawabnya kemudian. Alis kiriku terangkat.
"Lah, kapan emang Lo tahu gue ke pasar?"
"Waktu diajakin bu Lurah minggu kemarin itu ..." dia sedikit menoleh agar aku mendengar suaranya yang tidak begitu keras seperti sebelumnya.
"Salah denger kali. Gue kemarin nggak di ajakin ke pasar, tapi diajakin rapat buat ngatasin masalah kebersihan di pasar biar nggak kumuh gitu ..." jelasku.
"Holly Shit ..." Usai kalimat terakhirnya keluar, tiba-tiba mesin motor yang kami kendarai mati dan berhenti seketika.
"Eh, kok mati gini?"
"Lah, kok nanya gue? Kan Lo yang bawa ..."
"Wah, emang dasar motor tua!" Gerutunya.
"Ye, ya jangan gitu. Udah mijem, ngatain lagi ..."
"Ya bukannya gitu, kenyataan nih ..."
"Iya deh iya ..."
"Turun gih, bantuin dorong ..." pintanya. Aku berdecak sebal.
"Ah, Lo nyusahin terus jadi orang!"
"Emang Lo mau kejebak di tengah hutan gini sampe malem? Mending kita usaha jalan daripada nunggu orang lewat ngga dateng-dateng ..." Apa yang dikatakan Yudha memang ada benarnya. Mungkin untuk saat ini, aku lebih setuju pendapatnya. Meskipun berisiko capek.
"Tumben omongan Lo ada benernya ..." Ucapku. Yudha tertawa bangga. Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng.
***
Aku benar-benar lelah. Kakiku rasanya hampir mau copot. Kepalaku mendadak pusing dan pandanganku sedikit kabur. Mungkin karena tadi pagi aku hanya makan beberapa sendok saja. Padahal, tinggal sedikit lagi kami akan sampai di rumah pak Haris.
"Rumah pak Haris udah di depan nih ... Eh, Ndis, Lo nggak papa?" Suara Yudha terdengar samar di telingaku.
"Ha?" Aku menoleh ke arah Yudha.
"Eh, Ndis!" Tiba-tiba, aku pingsan. Tepatnya, setelah Yudha meneriakkan namaku. Dan setelahnya, aku tak ingat apapun.
***
Aku terbangun di dalam sebuah rumah yang tidak terlalu terang. Rumahnya juga sedikit sempit. Ventilasinya juga tidak terlalu banyak, itu jelas terasa karena ruangan ini sedikit pengap dan agak gelap. Aku duduk dan memegangi kepalaku yang masih pening.
"Udah bangun?" Tanyanya seraya berdiri dari kursi tempatnya duduk, kemudian mendekat ke arahku berbaring.
"Gue dimana?"
"Di salah satu rumah warga, tapi si ibu masih keluar bentar ..." jelasnya. Dia berjongkok di depanku.
"Tadi Lo tiba-tiba pingsan. Kenapa nggak bilang sih kalau capek?" Lanjutnya.
"Abis mau gimana lagi? Kalau ngomong capek malah keburu sore ..."
"Heish, dasar kepala batu ..." tangannya mengepal seperti akan memukulku. Aku tertawa kecil.
"Kan, mulai ngatain lagi ... Oh iya, btw sekarang jam berapa?"
"Udah mau jam 5 sih ..."
"Serius Lo ? Hayuk atuh balik. Keburu gelap nih ..."
"Iya, iya. Emang, elo udah baikan? Maksud gue, keadaan lo sekarang gimana?" Usai kalimat terakhirnya, aku bangun dari kursi panjang ini dan hendak mengajaknya keluar dari rumah. Badanku terhuyung ke belakang.
"Wah, lo ..." Ucapnya refleks seraya menyanggaku yang hendak jatuh. Saat itupun, seorang ibu-ibu datang dari arah pintu. Itu ibu pemilik rumah ini.
"Oh, udah sembuh dek?" Katanya. Aku membenarkan posisi berdiriku. Aku tersenyum.
"Sudah bu. Terimakasih ya bu. Maaf ngrepotin ..." Lanjutku seraya menyalami beliau.
"Bu, saya juga mau pamit. Terimakasih ya bu ..." Yudha mengikuti dari arah samping.
"Yaudah, mbaknya tolong dipapah ya mas? Kayaknya masih pusing itu ..." Tutur ibu pemilik rumah.
"Iya bu, siap. Mangga, bu ..." Belum sempat aku mengelak, Yudha sudah menyahut dan berjalan menarik lenganku.
***
"Masih pusing?"
"Dikit sih ..."
"Ayo gue gendong ..."
"Nggak, nggak usah. Gue gapap .. Aaaa ... Kok ..." Aku terduduk di atas tanah yang sedikit basah karena hujan tadi pagi. Ya, aku terpeleset tanah berlumpur.
"Mulut gue belum kebungkem nih, elo udah main jatoh duluan. Ayo ah, keburu gelap. Masih jauh juga. Gue nggak yakin lo kuat jalan. Buruan !" Pintanya.
"Aish, lumpur semuaaa! Nggak usah lah, tar baju lu kotor ..."
"Besok bisa dicuci. Buruan dah !" Setengah malu, aku berdiri dibantu olehnya. Celanaku kotor, sneakers-ku apalagi. Tangannya terulur, kemudian menarikku agar aku berdiri dan naik ke punggungnya. Dan kami menuju ke posko dengan aku yang naik ke punggunya.
***
"Kenapa sih diem terus? Bete?" Tanyanya tiba-tiba. Bahunya benar-benar lebar. Dari arah belakang, aku bisa mencium aroma shampo yang digunakannya. Aromanya seperti shampo yang dulu dipakai Kak Brian sewaktu SMA.
"Nggak sih. Gue nggak enak aja sama lo ..." jawabku setelah cukup lama bergumam.
"Lah, santai aja kali. Gue ikhlas kok ..."
"Lah, boro-boro. Biasanya lo yang paling ngeluh .. Eh, sama sih kayak gua ..." Aku terkekeh. Dia menoleh ke belakang, memandangku.
"Nah gitu dong. Kan kalau ketawa cantik. Enak dilihat..." Ucapnya.
"Idih, basi!" Aku terkekeh.
"Basi apaan? Gua serius. Kalau eneng jomblo, abang siap ngegandeng atuh ..." Lanjutnya. Aku hanya terdiam sampai akhirnya kami sampai di depan posko. Jadi, apa sekarang? Mungkin dia hanya berusaha terlihat lebih akrab denganku. Ya, mungkin.
"Makasih ya?" Ucapku setelah dia menurunkanku dari punggungnya.
"Oke. No problem. Gue masuk dulu ya, mau mandi ..." Jawabnya. Aku hanya tersenyum seraya mengangguk. Dan tepat saat itu juga, akum akin tak bisa mengendalikan degupan jantungku. Ah, sial.
***
Saat ini aku duduk depan posko sambil memakan biji kuaci seraya mencari sinyal. Ya setidaknya jaringan sinyal masih ada di desa ini meskipun harus keluar rumah dan kadang bisa naik genting. Tapi ini tidak kulakukan, karena akan berisiko jatuh. And that's not funny.
Entah kenapa tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dimana Yudha menggendongku sampai posko karena aku yang masih sempoyongan. Ada beberapa hal yang membuatku bingung. Kalimatnya beberapa hari yang lalu masih terngiang di telingaku. Benar-benar masih membekas. Beberapa rangkaian potret tentang semua hal yang aku lakukan dengannya pun tak terelakkan dalam benakku. Anjir. Apa ini? Gendis, ada yang salah denganmu!
"Woy. Nglamun aja lo. Mikir apaan?" Sontak, teriakan Fandy mengejutkanku. Seketika itu aku menoleh dan mematung selama 5 detik.
"Ndis!"
"Eh, apa?! Gimana?!" Aku tersadar.
"Lagi mikir apaan?"
"Nggg ... Nggak, ini lagi cari sinyal. Susah amat ..."
"Halah, bilang aja lo lagi mikirin Yudha. Awas lo, ntar baper. Playboy kelas kakap tuh ..." ucapnya tiba-tiba.
"Idih, nggak kalee ... Playboy? Maksudnya?"
"Tuh kan kepo ..."
"Wah, bener-bener lo ya. Kena virusnya Yudha lu, kerjaannya ngatain orang ..." cibirku.
"Naon atuh, Teh? Jangan emosi gitu, atuh. Jadi nih ya, banyak gosip kalau si Yudha itu playboy. Tiap kelas dan tiap angkatan hampir ada gebetan ..." Jelasnya. Aku berpikir sejenak. Kalau ku terka, Yudha memang memiliki banyak sekali teman perempuan. Dan, salah satu mantannya juga berada di kelas yang sama dengan kami. Belum lagi ... Ah, mana mungkin? Sepertinya dia cuek soal cinta dan sejenisnya.
"Ah, serius lo?" Tanyaku masih belum yakin.
"Mau bukti? Coba aja deh sendiri. Pasti yang ada lo dibikin patah hati. Sama gue aja lah ..." Guraunya. Aku terkekeh.
"Idih, gue mah ogah. Udah ah, gue mau masuk dulu. Makan nih kuaci ..." Kataku seraya masuk ke dalam posko meninggalkan Fandy sendirian. Aku masih enggan untuk mempercayai apa yang barusaja dikatakan oleh Fandy. Tapi, kenapa aku harus enggan??
***
Aku masih tidak mengerti, apa yang salah denganku. Akhir-akhir ini, wajah Yudha selalu melintas dalam pikiranku. Mungkin, kepalaku sudah penuh dengan semua hal tentangnya. Karena aku baru sadar, kalau aku mulai menyukainya. Ini salah. Benar-benar salah! Setiap kali aku melakukan suatu hal, potongan memori tentang saat-saat bersamanya terus berjalan dalam ingatanku. Dan tanpa ku sadari, aku senyum-senyum tidak jelas. Akupun juga sering kepergok oleh Fandy atau pegawai puskesmas. Yang ada, aku jadi bahan bullying.
Hari ini adalah hari ketiga di minggu terakhir KKN. Tugas kami adalah ikut berpartisipasi dalam kegiatan imunisasi dan pemberian promosi kesehatan mengenaik kesehatan anak dan ibu. Acara dilakukan di balai desa. Untungnya, kemarin semua kader desa ikut membantu membersihkan balai desa. Kalau tidak, yang ada acara hari ini akan gagal.
"Eh, acara ini kan kelar sekitar jam 12. Ntar kelar acara kita ke air terjun yuk. Spot-nya oke punya. Gue kemarin diceritain sama anak remaja kampung sini ..." Yudha membuka topik seraya menyiapkan leaflet untuk promosi kesehatan nanti.
"Boleh lah. Track-nya susah nggak?" Sahut Fandy. Aku yang sedang menyiapkan daftar presensi untuk promosi kesehatan nanti hanya diam tak berkomentar.
"As you know, lah .. Untuk menuju sesuatu yang indah, harus berjuang melewati sesuatu yang sulit ..." Jelas Yudha. Fandy berdecak.
"Alah, gaya lo kayak anak sastra aja ..." Cibir Fandy disusul tawa. Yudha terkekeh.
"Oh iya, lo harus ikut juga, Ndis ..." Ajak Yudha. Ah, mampus. Okay, keep calm, Gendis. Keep calm ...
"Hmm, liat-liat ntar deh gue ..."
"Ah jangan gitu dong .. Kita disini cuman tinggal 3 hari lagi. Itupun buat intervensi ke warga sama perpisahan. Dan hari sabtu kita udah balik. Senin udah balik kuliah, men !" Kata Fandy seraya menancapkan flashdisk pada laptop yang ada di depannya, bermaksud memindah data presentasi. Aku bergumam panjang.
"Nggak ada toleransi apa. Boro-boro liburan, dudukin pantat di rumah aja nggak sempet ..." lanjut Fandy.
"Gimana, Ndis? Nggak bakalan bikin elo kurus kok ..." Goda Yudha.
"Yeee resek. Gue nggak gendut banget kalee. Udah ah, gue mau bantuin ibu-ibu bikin puding dulu ..." Jawabku seraya hendak melangkah ke bagian dapur.
"Lah, Ndis. Ikut ya?" Ajak Yudha lagi.
"Liat ntar aja ya? Daahh ..." sahutku seraya melambaikan tangan menjauhi mereka berdua.
***
Penyuluhan yang kami lakukan bersama para petugas kesehatan yang ada di puskesmas telah usai sekitar 5 menit yang lalu. Dan saat ini kami sedang berkumpul di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi kursi para tamu undangan tadi.
"Gimana nih? Jadi kan?" Tanya Yudha. Aku pura-pura tak mendengar pertanyaannya sambil merogoh ponselku.
"Boleh aja sih, tapi kita ganjil nih. Nggak mau ngajak siapa gitu?" Sahut Fandy. Sepertinya Fandy juga setuju dengan ide Yudha untuk pergi ke air terjun yang dia bicarakan kemarin.
"Ntar gue ajakin si Imam anaknya pak Haris . Dia kan anak sma, seenggaknya nyambung sama kita. Gimana?" Lanjut Yudha. Fandy bergumam sambil manggut-manggut.
"Boleh juga ide lo ... Gimana, Ndis? Ikut kan?" Aku masih berpangku tangan seraya bergumam.
"Pasti ikut lah. Itu mah wajib kalau buat Gendis ..." Sahut Yudha cepat.
"Yaudah, gue balik dulu. Elo pada sekalian bawa baju ganti, jangan lupa .." Ucap Fandy seraya beranjak keluar dari ruangan ini. Hanya ada aku dan Yudha yang tersisa di ruangan ini. Dan, sejak kapan aku setuju untuk ikut bersama mereka? Pemaksaan.
***
"Eh, Bang. Hati-hati lho. Spotnya agak licin, kan barusan hujan tadi pagi ..." Teriak Imam yang sudah berada jauh beberapa meter dari kami bertiga. Benar memang. Meskipun jalurnya jelas, namun tekstur tanah berlumpur dan becek membuat perjalanan menjadi lambat. Berkali kali sepatuku tertinggal di dalam lumpur, dan pada akhirnya kotor sampai bagian insole-nya.
"Aduh !" Tiba-tiba aku jatuh terduduk diatas lumpur karena sepatuku terjebak lumpur dan tak bisa ditarik keluar. Dan pada akhirnya, seluruh pakaianku kotor karena lumpur.
"Lah, Ndis!?" Yudha berjalan cepat melewati lumpur ke arahku. Keputusannya untuk melepas alas kakinya adalah hal yang tepat.
"Elo nggak papa?" Tanyanya padaku seraya berusah membantuku berdiri. Aku menggeleng.
"I'm okay. No problem. Tapi, baju gue nih ..."
"Nggak papa. Ntar cuci di sungai kan bisa. Bawa ganti, kan?" Sarannya. Aku mengangguk mengiyakan.
"Sekarang coba minggir dulu ke jalan yang nggak becek, terus lepas tuh sepatu ..." Aku berusaha melangkah, tapi yang ada aku terjatuh lagi, dan sepertinya kaki kiriku keseleo. Aku meringis menahan sakit.
"Kaki lo kenapa? Sakit? Coba sini gue liat. Gue bantu pindah dulu ..." Tanpa memberikan jawaban, aku mengikuti sarannya begitu saja. Kedua tangannya mengenggam tanganku. Untuk pertama kalinya, tangan kami bersentuhan lama. Tiba-tiba jantungku berdebar hebat. Perasaan macam apa ini? Apa aku ...
"Woy, Yud! Ada apaan?! Teriak Fandy dari kejauhan. Sontak, lamunanku buyar.
"It's okay ! Duluan aja bro !" Yudha balas teriak.
"Okee !" Fandy balas teriak juga. Aku masih memegangi daerah sekitar mata kaki kiriku. Sepertinya ada yang salah.
"Sakit dimana? Disini? Kuat jalan nggak? Gue gendong aja ya?" Tanyanya seraya menunjuk bagian kakiku yang memang benar-benar sakit.
"Eh, nggak. Nggak usah. Kuat kok .."
"Udah nggak usah sok kuat. Mana tas lo, biar gue bawa ..." Mintanya sambil mengalungkan tasku pada lehernya sehingga menggantung di depan dadanya.
"Ayo naik ke punggung gue .."
"Ah, nggak deh .." aku berusaha menolak.
"Idih pake nolak segala. Dijamin aman kok. Keburu sore nih. Atau mau gue tinggalin disini? Ntar ada ular lho ..."
"Eh ya jangan !"
"Makanya, ayoo !" Setelah paksaanya yang terakhir, aku hanya mengangguk dan segera naik ke punggungnya. Ah, aku kena sial lagi.
***
Hari ini adalah malam terakhir kami berada di desa ini. Kaki ku sudah sepenuhnya sembuh karena kemarin malam diurut oleh bu Siti, salah seorang tukang pijat disini. Awalnya aku menolak. Tapi karena beliau memaksa, alhasil aku menurut saja. Karena aku dan teman-teman merasa tak enak hati. Hari ini, kami bertiga mengadakan acara bakar-bakar ikan dan jagung bersama beberapa anak muda disini. Untungnya, ada dua anak gadis. Setidaknya, aku bukan satu-satunya perempuan dalam acara ini. Kulihat, Yudha dan Fandy sedang mengobrol dengan anak-anak asli desa ini. Aku menatap lama ke arah Yudha yang sedang tertawa karena guyonan yang mereka bicarakan. Tanpa sadar aku tersenyum tidak jelas. Sebenarnya, apa yang salah padaku?
"Dek, aku ke dalam dulu ya? Mau ngambil hp ..." Kataku pada dua anak gadis yang sedang duduk di sebelahku. Mereka berdua mengangguk seraya tersenyum mengiyakan. Setelah itu aku masuk ke dalam posko dan menuju dapur untuk mengambil minum sebelum hendak mengambil ponsel di kamar.
Tiba-tiba, listrik padam. Aku masih di dapur dan belum menemukan ponselku. Mungkin aku harus keluar terlebih dahulu dan mengurungkan niat untuk mengambil ponsel. Cukup seram memang. Listrik mati, dan aku sedang berada di dalam rumah yang letaknya masih dalam lingkup hutan. Jangan-jangan ada ular???
Ku putuskan untuk keluar dengan cara meraba tembok dan berjalan perlahan, mengandalkan insting.
"Aduh !" Seseorang menubrukku dan aku terjatuh ke belakang. Ah, apakah aku menabrak hantu?
Aku merasakan hembusan nafas tepat di depan wajahku. Aku merasakan sesuatu yang lembab menempel di bibirku.
Tring ! Lampu kembali menyala. Ketika aku hendak bangun, dan betapa terkejutnya aku. Bibirku bersentuhan dengan bibir seseorang yang begitu ku kenal. Yudha.
Tanpa sadar, aku langsung mendorongnya ke belakang hingga ia terduduk. Saking gugupnya, aku langsung berdiri dan berlari menuju keluar rumah.
Pipiku memanas. Jantungku rasanya hampir lepas karena berdegup begitu kencang. Ah, ini kesalahan. Kesalahan fatal !
Tok, tok ! Pintu diketuk begitu keras dari arah luar.
"Ndis, sorry. Gue nggak sengaja. Gue juga nggak ngerti kalau ternyata lo ada di dapur. Gue tadi disuruh ambil garam sama bu Roro. Terus tiba-tiba mati lampu. Jadi gue cuman pake insting aja buat masuk ke dapur. Eh nggak tau nya malah nabrak lo ..." Aku yang masih berdiri di balik pintu kamar mendengar suara Yudha yang menjelaskan kronologi ketidaksengajaan tadi. Bukan soal itu. Aku terlalu malu untuk bertemu dengannya. Karena kejadian tadi.
"Ndis ..." Lamunanku buyar saat nada bicaranya menurun.
"Kalau boleh jujur, gue sebenernya agak bersyukur sih dengan adanya kejadian tadi ..." Lanjutnya. Apa dia sudah tidak waras? Bersyukur? Sinting!
"Dari awal kita ketemu di kelas, gue suka sama lo. Tapi gue nggak punya nyali buat ngakuinnya. Lo terlalu cuek dan bahkan bisa dibilang benci sama gue. Tapi takdir emang berkata lain. Semesta emang ngedukung. Kita selalu dipertemukan dalam hal tak terduga. Kita kemana-mana berdua, itu udah takdir. And at least, sampai detik ini juga, rasa itu masih sama ..." ceritanya masih berlanjut. Entahlah, saat ini perasaanku campur aduk. Cemas, takut, tidak percaya, tapi aku sedikit ... Senang. Mungkin.
"Setidaknya gue udah ngomong yang sebenernya ke lo. Yaudah, gue ke depan dulu ya, mau nganter gula. Lo jangan lama-lama, ntar dicariin. Sekali lagi, maaf Ndis..." Tuturnya dilanjut tawa.
"Yud ..." Panggilku lirih, masih dari balik pintu. Dia hanya balas bergumam.
"Thank's, ya ..."
"For what?"
"Karena udah care sama gue and thank's for everything ... Dan sebenernya ..."
"Sebenernya lo juga ada rasa sama gue?"
"Hmm..." Jawabku disusul anggukan pelan.
"Gue jadi tambah bingung. Mau nembak juga momennya lagi jelek. Dan gue takut, lo malah belum siap ..." aku tertawa mendengar argumennya.
"Kok lo ketawa, sih? Gue serius nih ..." Setalah kalimat terakhirnya, tanpa sadar aku langsung memutar gendel pintu dan membukanya. Kulihat Yudha berdiri di tengah-tengah pintu sambil membawa toples berisi gula pasir.
"Gue juga serius ..." Ucapku kemudian seraya tersenyum padanya. Wajahnya berubah, menjadi sumringah.
"Boleh nggak gue peluk lo se ..." kalimatnya terhenti karena aku langsung memeluknya. Kedua lengannya melingkar dipunggunggku. Hangat rasanya. Jadi seperti ini rasanya, menyukai seseorang yang awalnya benar-benar dibenci? Saking bencinya, justru selalu memikirkannya setiap saat?
"Btw, Yud ..." ucapku.
"Apaan?" Tanyanya kemudian.
"Yang elo bawa itu gula pasir, bukan garam ..." lanjutku. Aku tertawa dalam pelukkannya. Yudha melepaskan pelukan dan menatap toples yang dibawanya. Kemudian ia menepuk dahinya.
"Oh iya !" Kami terkekeh. Ya, harusnya itu gula, bukan garam. Karena garam, tak akan pernah semanis gula. Tapi setidaknya, kekeliruan itu memecah keheningan diantara kami. Dan, mengungkapkan kebenaran bahwa kami saling menyimpan rasa.
***
KKN telah usai. Kami bertiga harus kembali pada kesibukan kami sebelumnya. Kuliah, kuliah dan kuliah. Karena setelah lulus program S1, kami akan mengambil program profesi agar memiliki gelar doker di depan nama kami. Dan tentunya, perjalananan kami memang masih sangat panjang. Masih ada magang dan program spesialis jika kami ingin menjadi dokter spesialis dan lebih fokus pada satu bidang.
"Ras, liat Yudha nggak?" Tanyaku pada Laras, teman baikku.
"Hmm, yang beneran cinlok nih ye ..." godanya. Aku berdecak sebal sambil cengengesan.
"Ih gue tanya nya apa, jawabnya apa ..." Cibirku.
"Yaelah gitu aja marah ..." guraunya seraya mencubit pipiku. Aku terkekeh.
"Tadi pagi sih sempet liat gue di parkiran, tapi nggak taunya, sampek jam segini belum nongol tuh anak. Kalian udah jadian?" Tanyanya.
"Serius? Jadi dia ke kampus dong? Kok nggak ada gue cariin. Mana nomornya nggak aktif lagi. Chat centang semua ..." gerutuku. Laras hanya bergumam.
"Soal jadian .... Belum sih ... Kita cuma sama-sama tahu kalau kita saling suka. Itu aja ..."
"Eh, Ndis ... Bukannya gue gimana-gimana ya, tapi waktu kkn kemarin, temen sekelompok gue pada ngomongin kalau dia itu playboy lho ..." ucapnya tiba-tiba.
"Gosip? Dia kayak nggak terlalu berani sih kalau masalah cewek. Pemalu gitu. Masa iya playboy? Ngarang lo ..." jawabku sedikit mengelak dan tetap yakin dengan persepsiku sendiri.
"I don't think so. Soalnya ... gue lebih percaya sama cerita anak-anak ..." Laras mendekatkan bibirnya pada telingaku.
"Nggak paham juga sih. Si Fandy juga pernah cerita ke gue ..." Jawabku.
"Lo tau Putri, anak kelas sebelah yang dulu temen kita sekelas waktu semester 4 yang juga temen sekelompok gue kkn?" tanyanya lirih. Aku mengangguk sambil memandangnya.
"Dia korban PHP-nya Yudha, Ndis. Dia cerita banyak, mulai dari di deketin sampe' akhirnya Yudha kepergok jalan sama anak prodi keperawatan. Gila nggak sih? Tapi, gue juga nggak ngerti sekarang dia gimana. Just positive thinking ..." Tutur Laras panjang. Aku hanya bergumam ragu.
"Sekarang kita ke kantin aja yuk. Laper nih gue. Hayuk atuh ..." Pintanya dengan nada manja seraya menggandeng lenganku.
"Iya, iya ..." jawabku malas.
***
Setidaknya, keputusan Laras untuk mengajakku ke kantin adalah hal paling benar pada hari ini. Aku, yang saat ini berdiri di lorong sebelah kantin, melihat sosok Yudha sedang duduk dan mengelus rambut seorang perempuan yang tidak aku kenal. Tapi yang aku tahu, parasnya begitu cantik. Bentuk tubuhnya bagus, kulitnya putih dan dari penampilannya terlihat kalau dia adalah seorang perempuan branded. Keputusanku untuk ikut bersama Laras memang tepat. Meskipun pada awalnya aku sempat malas.
"Ndis ..." panggilnya seraya beralih pandangan dari Yudha ke arahku.
"Ras, gue balik aja deh. Sorry, gue nggak bisa lihat hal semacam itu ..." Ucapku kemudian berlalu meninggalkan Laras yang mengejarku seraya berteriak memanggil namaku.
***
Dua puluh enam panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan memenuhi notif ponselku. Aku masih tertegun memandangi ponselku yang terus menyala karena panggilan itu. Sesekali aku mengusap air mataku yang tiba-tiba saja menetes tanpa ku sadari. Dan sudah 2 hari aku tidak masuk kuliah. Untungnya, besok adalah hari jumat. Karena waktu perkuliahan hanya sampai hari kamis saja. Laras sudah tau kondisiku sampai saat ini. Kemarin sore dia juga sudah datang dan meminjamkan catatannya padaku.
Tok ! Tok !
Seseorang mengetuk pintu kamar kosku.
"Ndis ... Tolong buka pintunya. Gue perlu ngomong ..." Teriak seseorang dari luar. Itu suara Yudha. Darimana dia tahu dimana aku tinggal?
"Ndis! Gue tau lo ada di dalem. Tolong keluar, kita perlu bicara. Laras udah cerita ke gue ..." Teriaknya lagi. Kalau aku tak keluar, yang ada tetangga kos akan tahu dan aku akan menjadi bahan gosip. Dengan mengumpulkan sisa tenagaku, aku bangun dari tempat tidur dan hendak menuju pintu.
"Ndis?!" aku membuka pintu.
"Mau ngomong apa, lo?"
"Gue mau jelasin soal ..."
"Udah nggak perlu. Cukup tau gue sama kelakuan lo. Emang bener ya kata anak-anak. Elo itu kalau mau jadi cowok playboy, rentengin cewek, pinteran dikit napa ! Jangan diliat-liatin di tempat umum. Elo bego' apa mau pamer sih?! Bangga bener .." omelku dengan nada meninggu. Wajahnya benar-benar terlihat takut dan merasa bersalah.
"Gue tahu gue salah, tapi ..."
"Okay, Stop! Mulai sekarang, gue akan bersikap seolah nggak ada apa-apa diantara kita. Jangan bawa masalah ini di kelas atau dimana pun. Nggak ada yang perlu tahu masalah ini selain lo, gue, Laras sama Fandy. Cukup? Sekarang lo angkat kaki dari kos gue. Makasih!" Tuturku seraya menutup pintu. Aku terduduk. Tanpa sadar aku menangis lagi. Sakit rasanya. Tepat di ulu hati. Rasanya sesak. Saat ini juga, hujan turun begitu lebatnya, seolah berkabung bersama kesedihanku. Terlebih lagi, saat memori tentangku dan tentangnya satu bulan yang lalu terbesit dalam benakku. Seperti sebulah adegan film yang sedang berputar. Dan yang aku ingat hanya satu. Ketika garam tak akan pernah semanis gula. Begitu pula kisah kita, berawal dari kekeliruan, yang tak berujung pada kebahagiaan dan kisah manis.
Kini, sudah terjebak dalam sebuah kisah cinta yang dangkal terhadapmu.
Aku tak akan lagi mencintaimu. Sama sekali tidak.

2 comments:

  1. Keren! Buat lanjutannya juga dong, yg versinya yudha. Please please please.. 😁

    ReplyDelete