Apa
yang akan kau lakukan jika saat ini berada pada posisiku? Apakah kau akan
melakukan hal yang sama denganku? Atau mungkin sebaliknya karena jemu?
Kau,
yang tak pernah bisa mengalah dalam setiap perdebatan kita. Kau, yang tak
pernah mampu untuk merendah sedikitpun saat aku berkata. Apa hatimu memang
sudah buta?
Saat
keadaan membuat kita terjebak dalam secuil masalah, justru kau membuatnya semakin
membesar. Membengkak. Dan akan meledak.
Sepatah
kata maaf tak pernah terucap dari bibirmu, bahkan hatimu. Hatimu tertutup oleh
gumpalan emosi yang menyatu dan menggebu. Kau, tak pernah lagi menganggapku.
Bahkan tak menghargaiku.
Kau,
selalu mengungkit semua kebaikanmu. Hanya kebaikanmu. Dan keburukanku. Tak ada
lagi tutur kata halus yang tercurah dari dalam hatimu. Cacian, makian sudah
biasa didengar oleh telingaku.
Aku
sudah tak sanggup. Bertahan dengan rasa yang meragu dan hati yang senantiasi
gugup. Sabarku sudah tak lagi cukup. Untukmu, semuanya sudah tertutup.
Mungkin
sudah saatnya untuk pergi. Meninggalkanmu dengan hati kosong tak terisi.
Membawa luka bersama rasa yang telah mati. Karena aku masih punya harga diri.
Hanya
maaf dan rasa terimakasih yang dapat ku tuturkan. Kini aku tak akan lagi ada
untuk memanjakan dan mengingatkan. Dariku, do'a terbaik untukmu akan selalu
kupanjatkan.
Minggu, 6 November 2016.
Goodbye.

No comments:
Post a Comment