Sunday, 6 November 2016

Curahan : Goodbye.






Apa yang akan kau lakukan jika saat ini berada pada posisiku? Apakah kau akan melakukan hal yang sama denganku? Atau mungkin sebaliknya karena jemu?

Kau, yang tak pernah bisa mengalah dalam setiap perdebatan kita. Kau, yang tak pernah mampu untuk merendah sedikitpun saat aku berkata. Apa hatimu memang sudah buta?

Saat keadaan membuat kita terjebak dalam secuil masalah, justru kau membuatnya semakin membesar. Membengkak. Dan akan meledak.

Sepatah kata maaf tak pernah terucap dari bibirmu, bahkan hatimu. Hatimu tertutup oleh gumpalan emosi yang menyatu dan menggebu. Kau, tak pernah lagi menganggapku. Bahkan tak menghargaiku.

Kau, selalu mengungkit semua kebaikanmu. Hanya kebaikanmu. Dan keburukanku. Tak ada lagi tutur kata halus yang tercurah dari dalam hatimu. Cacian, makian sudah biasa didengar oleh telingaku.

Aku sudah tak sanggup. Bertahan dengan rasa yang meragu dan hati yang senantiasi gugup. Sabarku sudah tak lagi cukup. Untukmu, semuanya sudah tertutup.

Mungkin sudah saatnya untuk pergi. Meninggalkanmu dengan hati kosong tak terisi. Membawa luka bersama rasa yang telah mati. Karena aku masih punya harga diri.

Hanya maaf dan rasa terimakasih yang dapat ku tuturkan. Kini aku tak akan lagi ada untuk memanjakan dan mengingatkan. Dariku, do'a terbaik untukmu akan selalu kupanjatkan.

Minggu, 6 November 2016.
Goodbye. 


Saturday, 5 November 2016

Sepotong Memori : Cinta itu buta.




Cinta itu buta. Istilah itu memang terdengar tidak asing di telinga kita. Bahkan, aku sendiripun mengalaminya.

Pernah sekali aku menyukai seseorang yang baru ku kenal di tepi jalan. Bukan, ini bukan soal pelacur atau orang jalanan.

 ***

Kala itu, aku bertemu dengannya saat aku berangkat dari rumah Ibu dan turun dari sebuah bus kota yang tiba-tiba meminta semua penumpang turun dari bus karena bannya mengalami kebocoran. Ditambah lagi hujan yang mendadak turun dengan deras membuatku menyebrang dan berteduh di sebuah minimarket kecil yang bersebrangan jalan dari tempat bus berhenti.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan aku harus segera bergegas pulang karena aku harud menyiapkan bahan dan materi untuk sempro (seminar proposal) besok. Namun takdir berkata lain. Bukannya mereda, justru hujan semakin deras. Jika harus pulang dengan ojek online, aku tak ingin mati kedinginan karena hujan. Dan jika harus naik taxi, itu adalah hal yang lebih mustahil lagi. Uang saku bulananku akan terpotong lebih banyak dan aku akan kesulitan untuk makan. Itu membuatku tak bisa berkutik dari tempat ini. Untungnya, di depan minimarket itu terdapat sebuah bangku panjang, jadi aku bisa duduk sebari menunggu.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki yang-kelihatannya-seumuran denganku datang dengan motor besarnya. Dia ikut berteduh dan meninggalkan motornya di bawah hujan, kemudian dia melepas jaketnya yang basah kuyup dan meletakkannya di bagian sandaran bangku yang kududuki.
"Neng, boleh duduk sini?"
Dia hanya bertanya, kemudian aku mengangguk sambil tersenyum. Karena bosan, aku mengeluarkan ponselku dan membuka beberapa akun medsos. Kulihat, laki-laki tadi berdiri dan beranjak masuk ke dalam mini market. Mungkin saat hujan seperti ini, dia lapar.
"Neng, minum dulu ..."
Aku yang sibuk dengan ponselku, menoleh saat mendengar tawarannya yang tiba-tiba.
"Ya?"
"Ini minum dulu. Tenang aja, nggak di racun kok ..."
Aku terbengong untuk beberapa saat, lalu manggut-manggut mengerti.
"Okay, thank's ..."
Usai menerima jus jeruk kaleng yang dibelinya tadi, dia langsung bertanya untuk menghilangkan kebosanan dan memecah keheningan.
"Saha namina, Neng?"
"Dinar. Elu sendiri?"
"Reno. Ngomong-ngomong, mau kemana, Neng? Sendirian aja?
Saat pertama melihatnya, sejenak aku berpikir, dia orang jahat atau laki-laki yang sekedar ingin modus saja. Tapi sepertinya bukan. Dia bukan laki-laki seperti itu.
"Mau pulang. Tapi masih hujan. Iya, sendiri ..."
"Naik motor juga?"
Aku menggeleng.
"Tadi naik bus itu tuh ..." Aku menunjuk bis yang kutumpangi tadi masih dibenahi di seberang jalan. Reno manggut-manggut paham.
"Punya instagram?" Di bertanya lagi saat kami sama-sama diam setelah beberapa waktu. Dia selalu punya topik. Sepertinya dia adalah orang yang asik untuk diajak bicara. Aku mengangguk.
"Username?" Dia memberikan ponselnya. Aku mengetik beberapa huruf dan angka pada icon explore di instagram, kemudian aku mengembalikan ponselnya.
"Okay. Udah gue follow. Mind to follow back?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku membuka kunci ponselku. Notifikasi dari instagram mucul di panel atas. Dengan cepat sekaligus penasaran, aku membukanya, lalu muncul tampilan profilnya. Rendra Adriano Saputra. Full name yang berbeda jauh dari nick name. Apa dia menipuku?
"Reno, atau Rendra?" Aku mengklarifikasi. Di terkekeh.
"Reno. Re untuk Rendra, dan No untuk Adriano. See?"
Aku hanya manggut-manggut mengerti.
"Kuliah atau kerja?"
"Kuliah, semester tujuh. Elu?"
"Kuliah juga sih, tapi semester lima .." Anjir, dia lebih muda dariku tapi bisa-bisanya dia bersikap akrab seperti itu. Dasar tidak sopan.
"Gue dulu ngambil cuti satu tahun. Jadi sebenarnya, kita seangkatan ..." Aku menoleh, menatapnya. Cukup lama memang. Seperti mampu membaca pikiranku, dia memberi penjelasan yang tepat. 
"Elu, liatnya gitu banget? Ada yang salah di muka gue?" Aku tersadar, kemudian menggeleng, gugup. Canggung rasanya. Bodoh sekali. apa yang sudah aku lakukan? Tanpa sadar, aku melakukan hal bodoh. Memalukan !
"Udah reda nih. Mau gue tebengin aja? Rumah daerah mana?"
"Gue kos di daerah Sekeloa. Nggak usah, bisa cari ojek kok ..."
"Lah, kuliah di UNPAD juga? Apa bedanya? Gue juga naik motor, sama kaya tukang ojek. Lagian sejalur juga ..."
Dilihat dari pertanyaannya, sepertinya dia kuliah di UNPAD.
"Nggak, gue di ITB. Nggak usah deh, gue nggak mau ngrepotin ..."
"Wah, padahal kos elu itu malah deket kampus gue. Nggak ngrepotin dah. Ayo ..."
Tanganku ditariknya menuju ke tempat dimana motornya diparkir. Entah kenapa aku membiarkannya menggandeng tanganku, padahal aku baru mengenalnya. Tepatnya mengenalnya beberapa jam yang lalu.
"Eh, tapi gue ntar nggak pake helm dong ..."
"Lewat jalan tikus aja. Dijamin aman. Percaya sama gue ..."
Dan, diapun mengantarku pulang di kos dengan selamat. Sepertinya dia orang asli daerah sini. Dia benar-benar hafal dengan semua jalanan dan paham tata letak pertokoan atau bangunan dengan ciri tertentu.

***

"Okay, thank's ya? Be safety ..." Ucapku seraya tersenyum.
"Okay. See you ..." Jawabnya, kemudian dia berlalu bersama motor besarnya. Akupun segera mencari kunci kamar kos dan masuk ke dalam kamar.

Aku masih berfikir. Bagaimana bisa aku mengiyakan semua tawarannya dengan kesadaran penuh tanpa paksaan. Namu satu hal yang aku tahu. Postur tubuhnya, wajahnya, caranya tertawa dan tatapannya mirip dengan seseorang yang pernah ada di masa laluku. Seseorang yang pernah membuatku jatuh dan terperosok semakin dalam. Yang membuatku tak bisa berhenti menyakiti diri sendiri karena rasaku yang begitu menggebu. Cinta pertamaku. Bukannya aku ingin berkutat dengan masa laluku. Tapi, mata itu terlihat sama. Tidak. Lebih tepatnya caranya menatap. Teduh. Damai. Aku, rindu akan dirinya yang kini sudah bersama wanita impiannya. Tapi sosok Reno benar-benar membuatku ingin kembali menikmati rasa itu. Jatuh cinta.

***

Aku terbangun di tengah malam karena suara tetangga sebelah kamar yang berisik beradu mulut dengan pacarnya. Ku raih ponselku, bermaksud melihat pukul berapa saat ini. Namun, pandanganku justru terfokus pada notifikasi line. Reno, mengirim sebuah pesan padaku.
"Hallo ..."
Sapanya. Aku pun ikut membalas.
"Hai juga. Dapet id darimana?"
Aku masih mengira-ngira, darimana dia bisa mendapatkan kontakku. Bukannya ge er atau apa, tapi aku memang cukup populer di kampus menjadi salah satu anggota inti dari Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusku sudah menjadi point penting jika beberapa orang mengenalku. Jadi bisa jadi, dia mendapatkan kontak ku dari temannya yang juga sama-sama kuliah di universitas yang sama denganku. 
"Instagram, tepatnya di bio. Forgot it?"
Aku menepuk dahi. Aku lupa akan hal itu. Bodoh.
"Ya, aku lupa ..."
"By the way, kok masih melek jam segini?"
Tadinya, aku ingin membalas pertanyaannya dengan bercerita tentang tetangga kosku. Tapi mungkin, itu adalah masalah pribadi. Intinya, aku tak mau dia menilai bahwa kos-anku adalah kos-an yang berisi orang-orang bebas. Bebads dalam tanda kutip bebas yang "begituan". Bayangkan saja. Pada tengah malam seperti ini mereka masih bersama, bahkan berdebat di dalam kamar. Percakapan kami terus berlanjut, sampai aku lupa bahwa besok aku ada Sempro dengan tiga dosen killer di jurusanku. Dan sepertinya, aku mulai menyukainya. Tapi satu hal. Saat ini aku sudah memiliki kekasih. Kami menjalin hubungan LDR, antara Bandung dan Surabaya. Reno pun juga. Dia juga sudah menjelaskan mengenai hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Jadi pada intinya, kami sama-sama menjalin hubungan jarak jauh dengan pasangan masing-masing.

Seminar hari ini berjalan dengan lancar. Itu tandanya penelitianku akan berlanjut sampai aku menyelesaikan sidang skripsi sehingga aku bisa cepat lulus. Itupun jika aku mengerjakannya dengan baik tanpa banyak revisi. Ini semua juga berkat Reno yang menyemangatiku akan sempro hari ini. Yah, setidaknya, untuk saat ini, dialah moodboster-ku. Bahkan, aku sudah mulai malas dengan pesan-pesan yang dikirim oleh kekasihku yang notabene memang jarang. Mungkin, sehari hanya akan ada tiga chat darinya. Ah, memuakkan.

***

Hari ini aku sudah janji untuk mentraktirnya makan karena seminarku lancar. Dan saat ini, kami sudah berada di salah satu tempat makan cepat saji di daerah dekat kampus-ku.
"Elu pesan apaan?"
"Apa aja deh ..."
"Idih, pesen ya pesen. Jangan apa aja. Entar gue beliin piring doang tahu rasa deh ..."
"Beliin paket yang itu aja deh ..."
"Okay ..."
Usai makan, bukannya langsung kembali ke kos masing-masing, kami malah jalan-jalan tidak jelas. Salah satunya mencoba beberapa permainan yang ada di dalam sebuah Mall. Dia hari ini banyak tertawa, dan itu membuatku semakin sering menatapnya untuk waktu yang lama.

***

Sepulang dari Mall, Reno langsung mengantarkanku ke kos. Hujan turun begitu deras, alhasil Reno berteduh di dalam kamar kosku.
Entah sejak kapan suasana menjadi akward di ruangan ini. Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya merambat masuk dari arah jendela. Sontak, kami saling mendekat karena sama-sama takut. Dan kini, aku berada dalam dekapannya. Kaget, aku buru-buru melepaskan pelukannya.
"Sorry, gue takut sama petir. Ada trauma ..." Kataku setelag 
"Oh ya? Trauma gimana?"
"Dulu, gue punya kakak cowok. Waktu kecil, pas main di taman, posisi ujan, gue sama dia neduh. Terus ada kilat, dan dia langsung pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu gue nggak tahu apa yang terjadi sama kakak gue. Tiba-tiba denger kabar aja kalau kakak udah pergi, katanya kena serangan jantung ..."
"Turut berduka buat kakak elu. Maaf udah ngungkit ..."
"It's okay..."
Suasana kembali hening. Tapi posisi kami berdua masih saling berdekatan.

Tangan kirinya mengusap pipi kiriku, tentu saja aku menoleh. Kulihat dia menatapku, lekat-lekat. Ah tidak. Tidak untuk sekarang.
"Ren, maaf ..." Potongku. Kedua bibirnya hampir menyentuh ujung bibirku.
"Kenapa?" Tanyanya. Dia mengubah posisi duduknya. Aku menghela napas panjang.
"Posisi kita ... Kita sama-sama udah ada yang punya. Gue nggak mau ada yang salah sama hubungan kita ..."
"Maaf, Din. Tapi gue sayang sama elu. Dan gue ..."
"Iya gue tahu. Dan apa yang gue rasa juga sama. Tapi hubungan kita ini bener-bener salah ..."
"Gue nggak peduli. Kalau elu mau, gue bisa putusin cewek gue, sekarang juga !"
"Ren, gue nggak butuh ya elu ngelakuin hal kekanakan macam itu. Hubungan ini nggak bakalan bisa dipaksa, kecuali kalau emang masing-masing dari kita udah nggak terikat hubungan apapun dengan orang lain, dan itu bukan karena keterpaksaan ..."
"Maaf, Din. Tapi gue nggak bisa lepas elu gitu aja. Elu juga sayang kan sama gue? Jadi tolong, kita jalanin aja. Please. Nggak akan ada yang tahu soal ini semua ..."
"Ini salah, Ren. Ini salah ..."
"Din, ini buat kita. Nggak akan ada yang sakit hati. Gue janji ..."
Pada akhirnya, aku hanya mengangguk mengiyakan petmintaannya. Ini memang salah, tapi aku mencintainya. Cinta mengalahkan segalanya, termasuk ego. Cinta memang membutakan segalanya. Termasuk membutakan arah, dimana jalan itu salah, namun tetap menjadi satu-satunya pilihan terbaik. Semoga, kesalahan ini tidak menjadi suatu masalah bagi kami berdua.