Cinta
itu buta. Istilah itu memang terdengar tidak asing di telinga kita. Bahkan, aku
sendiripun mengalaminya.
Pernah
sekali aku menyukai seseorang yang baru ku kenal di tepi jalan. Bukan, ini
bukan soal pelacur atau orang jalanan.
***
Kala
itu, aku bertemu dengannya saat aku berangkat dari rumah Ibu dan turun dari
sebuah bus kota yang tiba-tiba meminta semua penumpang turun dari bus karena
bannya mengalami kebocoran. Ditambah lagi hujan yang mendadak turun dengan
deras membuatku menyebrang dan berteduh di sebuah minimarket kecil yang bersebrangan
jalan dari tempat bus berhenti.
Waktu
menunjukkan pukul 4 sore dan aku harus segera bergegas pulang karena aku harud
menyiapkan bahan dan materi untuk sempro (seminar proposal) besok. Namun takdir
berkata lain. Bukannya mereda, justru hujan semakin deras. Jika harus pulang
dengan ojek online, aku
tak ingin mati kedinginan karena hujan. Dan jika harus naik taxi, itu adalah hal yang lebih
mustahil lagi. Uang saku bulananku akan terpotong lebih banyak dan aku akan
kesulitan untuk makan. Itu membuatku tak bisa berkutik dari tempat ini.
Untungnya, di depan minimarket itu terdapat sebuah bangku panjang, jadi aku
bisa duduk sebari menunggu.
Beberapa
menit kemudian, seorang laki-laki yang-kelihatannya-seumuran denganku datang
dengan motor besarnya. Dia ikut berteduh dan meninggalkan motornya di bawah
hujan, kemudian dia melepas jaketnya yang basah kuyup dan meletakkannya di
bagian sandaran bangku yang kududuki.
"Neng,
boleh duduk sini?"
Dia hanya bertanya,
kemudian aku mengangguk sambil tersenyum. Karena bosan, aku mengeluarkan
ponselku dan membuka beberapa akun medsos. Kulihat, laki-laki tadi berdiri dan
beranjak masuk ke dalam mini market. Mungkin saat hujan seperti ini, dia lapar.
"Neng, minum dulu ..."
Aku yang sibuk dengan
ponselku, menoleh saat mendengar tawarannya yang tiba-tiba.
"Ya?"
"Ini
minum dulu. Tenang aja, nggak di racun kok ..."
Aku terbengong untuk
beberapa saat, lalu manggut-manggut mengerti.
"Okay,
thank's ..."
Usai menerima jus jeruk
kaleng yang dibelinya tadi, dia langsung bertanya untuk menghilangkan kebosanan
dan memecah keheningan.
"Saha
namina, Neng?"
"Dinar.
Elu sendiri?"
"Reno.
Ngomong-ngomong, mau kemana, Neng?
Sendirian aja?
Saat pertama melihatnya,
sejenak aku berpikir, dia orang jahat atau laki-laki yang sekedar ingin modus
saja. Tapi sepertinya bukan. Dia bukan laki-laki seperti itu.
"Mau
pulang. Tapi masih hujan. Iya, sendiri ..."
"Naik
motor juga?"
Aku menggeleng.
"Tadi
naik bus itu tuh ..." Aku menunjuk bis yang kutumpangi tadi masih dibenahi
di seberang jalan. Reno manggut-manggut paham.
"Punya instagram?" Di bertanya
lagi saat kami sama-sama diam setelah beberapa waktu. Dia selalu punya topik.
Sepertinya dia adalah orang yang asik untuk diajak bicara. Aku mengangguk.
"Username?"
Dia memberikan ponselnya. Aku mengetik beberapa huruf dan angka pada icon explore di instagram,
kemudian aku mengembalikan ponselnya.
"Okay.
Udah gue follow. Mind to
follow back?"
Tanpa menjawab
pertanyaannya, aku membuka kunci ponselku. Notifikasi dari instagram mucul di panel atas. Dengan cepat
sekaligus penasaran, aku membukanya, lalu muncul tampilan profilnya. Rendra
Adriano Saputra. Full name yang berbeda jauh dari nick name. Apa dia menipuku?
"Reno,
atau Rendra?" Aku mengklarifikasi. Di terkekeh.
"Reno.
Re untuk Rendra, dan No untuk Adriano. See?"
Aku hanya manggut-manggut
mengerti.
"Kuliah
atau kerja?"
"Kuliah,
semester tujuh. Elu?"
"Kuliah
juga sih, tapi semester lima .." Anjir, dia lebih muda dariku tapi
bisa-bisanya dia bersikap akrab seperti itu. Dasar tidak sopan.
"Gue
dulu ngambil cuti satu tahun. Jadi sebenarnya, kita seangkatan ..." Aku
menoleh, menatapnya. Cukup lama memang. Seperti mampu membaca pikiranku, dia
memberi penjelasan yang tepat.
"Elu,
liatnya gitu banget? Ada yang salah di muka gue?" Aku tersadar, kemudian
menggeleng, gugup. Canggung rasanya. Bodoh sekali. apa yang sudah aku lakukan?
Tanpa sadar, aku melakukan hal bodoh. Memalukan !
"Udah
reda nih. Mau gue tebengin aja? Rumah daerah mana?"
"Gue
kos di daerah Sekeloa. Nggak usah, bisa cari ojek kok ..."
"Lah,
kuliah di UNPAD juga? Apa bedanya? Gue juga naik motor, sama kaya tukang ojek.
Lagian sejalur juga ..."
Dilihat dari
pertanyaannya, sepertinya dia kuliah di UNPAD.
"Nggak,
gue di ITB. Nggak usah deh, gue nggak mau ngrepotin ..."
"Wah,
padahal kos elu itu malah deket kampus gue. Nggak ngrepotin dah. Ayo ..."
Tanganku ditariknya
menuju ke tempat dimana motornya diparkir. Entah kenapa aku membiarkannya
menggandeng tanganku, padahal aku baru mengenalnya. Tepatnya mengenalnya
beberapa jam yang lalu.
"Eh,
tapi gue ntar nggak pake helm dong ..."
"Lewat
jalan tikus aja. Dijamin aman. Percaya sama gue ..."
Dan, diapun mengantarku
pulang di kos dengan selamat. Sepertinya dia orang asli daerah sini. Dia
benar-benar hafal dengan semua jalanan dan paham tata letak pertokoan atau
bangunan dengan ciri tertentu.
***
"Okay,
thank's ya? Be safety ..." Ucapku seraya tersenyum.
"Okay.
See you ..." Jawabnya, kemudian dia berlalu bersama motor besarnya. Akupun
segera mencari kunci kamar kos dan masuk ke dalam kamar.
Aku
masih berfikir. Bagaimana bisa aku mengiyakan semua tawarannya dengan kesadaran
penuh tanpa paksaan. Namu satu hal yang aku tahu. Postur tubuhnya, wajahnya,
caranya tertawa dan tatapannya mirip dengan seseorang yang pernah ada di masa
laluku. Seseorang yang pernah membuatku jatuh dan terperosok semakin dalam.
Yang membuatku tak bisa berhenti menyakiti diri sendiri karena rasaku yang
begitu menggebu. Cinta pertamaku. Bukannya aku ingin berkutat dengan masa
laluku. Tapi, mata itu terlihat sama. Tidak. Lebih tepatnya caranya menatap.
Teduh. Damai. Aku, rindu akan dirinya yang kini sudah bersama wanita impiannya.
Tapi sosok Reno benar-benar membuatku ingin kembali menikmati rasa itu. Jatuh
cinta.
***
Aku
terbangun di tengah malam karena suara tetangga sebelah kamar yang berisik
beradu mulut dengan pacarnya. Ku raih ponselku, bermaksud melihat pukul berapa
saat ini. Namun, pandanganku justru terfokus pada notifikasi line. Reno, mengirim sebuah pesan padaku.
"Hallo ..."
Sapanya.
Aku pun ikut membalas.
"Hai
juga. Dapet id darimana?"
Aku
masih mengira-ngira, darimana dia bisa mendapatkan kontakku. Bukannya ge er
atau apa, tapi aku memang cukup populer di kampus menjadi salah satu anggota
inti dari Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusku sudah menjadi point penting
jika beberapa orang mengenalku. Jadi bisa jadi, dia mendapatkan kontak ku dari
temannya yang juga sama-sama kuliah di universitas yang sama denganku.
"Instagram,
tepatnya di bio. Forgot it?"
Aku menepuk dahi. Aku
lupa akan hal itu. Bodoh.
"Ya,
aku lupa ..."
"By
the way, kok masih melek jam segini?"
Tadinya,
aku ingin membalas pertanyaannya dengan bercerita tentang tetangga kosku. Tapi
mungkin, itu adalah masalah pribadi. Intinya, aku tak mau dia menilai bahwa
kos-anku adalah kos-an yang berisi orang-orang bebas. Bebads dalam tanda kutip
bebas yang "begituan". Bayangkan saja. Pada tengah malam seperti ini
mereka masih bersama, bahkan berdebat di dalam kamar. Percakapan kami terus
berlanjut, sampai aku lupa bahwa besok aku ada Sempro dengan tiga dosen killer di jurusanku.
Dan sepertinya, aku mulai menyukainya. Tapi satu hal. Saat ini aku sudah
memiliki kekasih. Kami menjalin hubungan LDR, antara Bandung dan Surabaya. Reno
pun juga. Dia juga sudah menjelaskan mengenai hubungan jarak jauh dengan
kekasihnya. Jadi pada intinya, kami sama-sama menjalin hubungan jarak jauh
dengan pasangan masing-masing.
Seminar
hari ini berjalan dengan lancar. Itu tandanya penelitianku akan berlanjut
sampai aku menyelesaikan sidang skripsi sehingga aku bisa cepat lulus. Itupun
jika aku mengerjakannya dengan baik tanpa banyak revisi. Ini semua juga berkat
Reno yang menyemangatiku akan sempro hari ini. Yah, setidaknya, untuk saat ini,
dialah moodboster-ku.
Bahkan, aku sudah mulai malas dengan pesan-pesan yang dikirim oleh kekasihku
yang notabene memang jarang. Mungkin, sehari hanya akan ada tiga chat darinya. Ah, memuakkan.
***
Hari
ini aku sudah janji untuk mentraktirnya makan karena seminarku lancar. Dan saat
ini, kami sudah berada di salah satu tempat makan cepat saji di daerah dekat
kampus-ku.
"Elu
pesan apaan?"
"Apa
aja deh ..."
"Idih,
pesen ya pesen. Jangan apa aja. Entar gue beliin piring doang tahu rasa deh
..."
"Beliin
paket yang itu aja deh ..."
"Okay
..."
Usai
makan, bukannya langsung kembali ke kos masing-masing, kami malah jalan-jalan
tidak jelas. Salah satunya mencoba beberapa permainan yang ada di dalam sebuah Mall. Dia hari ini banyak
tertawa, dan itu membuatku semakin sering menatapnya untuk waktu yang lama.
***
Sepulang
dari Mall, Reno langsung
mengantarkanku ke kos. Hujan turun begitu deras, alhasil Reno berteduh di dalam
kamar kosku.
Entah sejak kapan suasana
menjadi akward di ruangan ini. Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya merambat masuk
dari arah jendela. Sontak, kami saling mendekat karena sama-sama takut. Dan
kini, aku berada dalam dekapannya. Kaget, aku buru-buru melepaskan pelukannya.
"Sorry,
gue takut sama petir. Ada trauma ..." Kataku setelag
"Oh
ya? Trauma gimana?"
"Dulu,
gue punya kakak cowok. Waktu kecil, pas main di taman, posisi ujan, gue sama
dia neduh. Terus ada kilat, dan dia langsung pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
Setelah itu gue nggak tahu apa yang terjadi sama kakak gue. Tiba-tiba denger
kabar aja kalau kakak udah pergi, katanya kena serangan jantung ..."
"Turut
berduka buat kakak elu. Maaf udah ngungkit ..."
"It's
okay..."
Suasana
kembali hening. Tapi posisi kami berdua masih saling berdekatan.
Tangan
kirinya mengusap pipi kiriku, tentu saja aku menoleh. Kulihat dia menatapku,
lekat-lekat. Ah tidak. Tidak untuk sekarang.
"Ren,
maaf ..." Potongku. Kedua bibirnya hampir menyentuh ujung bibirku.
"Kenapa?"
Tanyanya. Dia mengubah posisi duduknya. Aku menghela napas panjang.
"Posisi
kita ... Kita sama-sama udah ada yang punya. Gue nggak mau ada yang salah sama
hubungan kita ..."
"Maaf,
Din. Tapi gue sayang sama elu. Dan gue ..."
"Iya
gue tahu. Dan apa yang gue rasa juga sama. Tapi hubungan kita ini bener-bener
salah ..."
"Gue
nggak peduli. Kalau elu mau, gue bisa putusin cewek gue, sekarang juga !"
"Ren,
gue nggak butuh ya elu ngelakuin hal kekanakan macam itu. Hubungan ini nggak
bakalan bisa dipaksa, kecuali kalau emang masing-masing dari kita udah nggak
terikat hubungan apapun dengan orang lain, dan itu bukan karena keterpaksaan
..."
"Maaf,
Din. Tapi gue nggak bisa lepas elu gitu aja. Elu juga sayang kan sama gue? Jadi
tolong, kita jalanin aja. Please. Nggak akan ada yang tahu soal ini semua
..."
"Ini
salah, Ren. Ini salah ..."
"Din,
ini buat kita. Nggak akan ada yang sakit hati. Gue janji ..."
Pada
akhirnya, aku hanya mengangguk mengiyakan petmintaannya. Ini memang salah, tapi
aku mencintainya. Cinta mengalahkan segalanya, termasuk ego. Cinta memang
membutakan segalanya. Termasuk membutakan arah, dimana jalan itu salah, namun
tetap menjadi satu-satunya pilihan terbaik. Semoga, kesalahan ini tidak menjadi
suatu masalah bagi kami berdua.