Sunday, 6 November 2016

Curahan : Goodbye.






Apa yang akan kau lakukan jika saat ini berada pada posisiku? Apakah kau akan melakukan hal yang sama denganku? Atau mungkin sebaliknya karena jemu?

Kau, yang tak pernah bisa mengalah dalam setiap perdebatan kita. Kau, yang tak pernah mampu untuk merendah sedikitpun saat aku berkata. Apa hatimu memang sudah buta?

Saat keadaan membuat kita terjebak dalam secuil masalah, justru kau membuatnya semakin membesar. Membengkak. Dan akan meledak.

Sepatah kata maaf tak pernah terucap dari bibirmu, bahkan hatimu. Hatimu tertutup oleh gumpalan emosi yang menyatu dan menggebu. Kau, tak pernah lagi menganggapku. Bahkan tak menghargaiku.

Kau, selalu mengungkit semua kebaikanmu. Hanya kebaikanmu. Dan keburukanku. Tak ada lagi tutur kata halus yang tercurah dari dalam hatimu. Cacian, makian sudah biasa didengar oleh telingaku.

Aku sudah tak sanggup. Bertahan dengan rasa yang meragu dan hati yang senantiasi gugup. Sabarku sudah tak lagi cukup. Untukmu, semuanya sudah tertutup.

Mungkin sudah saatnya untuk pergi. Meninggalkanmu dengan hati kosong tak terisi. Membawa luka bersama rasa yang telah mati. Karena aku masih punya harga diri.

Hanya maaf dan rasa terimakasih yang dapat ku tuturkan. Kini aku tak akan lagi ada untuk memanjakan dan mengingatkan. Dariku, do'a terbaik untukmu akan selalu kupanjatkan.

Minggu, 6 November 2016.
Goodbye. 


Saturday, 5 November 2016

Sepotong Memori : Cinta itu buta.




Cinta itu buta. Istilah itu memang terdengar tidak asing di telinga kita. Bahkan, aku sendiripun mengalaminya.

Pernah sekali aku menyukai seseorang yang baru ku kenal di tepi jalan. Bukan, ini bukan soal pelacur atau orang jalanan.

 ***

Kala itu, aku bertemu dengannya saat aku berangkat dari rumah Ibu dan turun dari sebuah bus kota yang tiba-tiba meminta semua penumpang turun dari bus karena bannya mengalami kebocoran. Ditambah lagi hujan yang mendadak turun dengan deras membuatku menyebrang dan berteduh di sebuah minimarket kecil yang bersebrangan jalan dari tempat bus berhenti.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan aku harus segera bergegas pulang karena aku harud menyiapkan bahan dan materi untuk sempro (seminar proposal) besok. Namun takdir berkata lain. Bukannya mereda, justru hujan semakin deras. Jika harus pulang dengan ojek online, aku tak ingin mati kedinginan karena hujan. Dan jika harus naik taxi, itu adalah hal yang lebih mustahil lagi. Uang saku bulananku akan terpotong lebih banyak dan aku akan kesulitan untuk makan. Itu membuatku tak bisa berkutik dari tempat ini. Untungnya, di depan minimarket itu terdapat sebuah bangku panjang, jadi aku bisa duduk sebari menunggu.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki yang-kelihatannya-seumuran denganku datang dengan motor besarnya. Dia ikut berteduh dan meninggalkan motornya di bawah hujan, kemudian dia melepas jaketnya yang basah kuyup dan meletakkannya di bagian sandaran bangku yang kududuki.
"Neng, boleh duduk sini?"
Dia hanya bertanya, kemudian aku mengangguk sambil tersenyum. Karena bosan, aku mengeluarkan ponselku dan membuka beberapa akun medsos. Kulihat, laki-laki tadi berdiri dan beranjak masuk ke dalam mini market. Mungkin saat hujan seperti ini, dia lapar.
"Neng, minum dulu ..."
Aku yang sibuk dengan ponselku, menoleh saat mendengar tawarannya yang tiba-tiba.
"Ya?"
"Ini minum dulu. Tenang aja, nggak di racun kok ..."
Aku terbengong untuk beberapa saat, lalu manggut-manggut mengerti.
"Okay, thank's ..."
Usai menerima jus jeruk kaleng yang dibelinya tadi, dia langsung bertanya untuk menghilangkan kebosanan dan memecah keheningan.
"Saha namina, Neng?"
"Dinar. Elu sendiri?"
"Reno. Ngomong-ngomong, mau kemana, Neng? Sendirian aja?
Saat pertama melihatnya, sejenak aku berpikir, dia orang jahat atau laki-laki yang sekedar ingin modus saja. Tapi sepertinya bukan. Dia bukan laki-laki seperti itu.
"Mau pulang. Tapi masih hujan. Iya, sendiri ..."
"Naik motor juga?"
Aku menggeleng.
"Tadi naik bus itu tuh ..." Aku menunjuk bis yang kutumpangi tadi masih dibenahi di seberang jalan. Reno manggut-manggut paham.
"Punya instagram?" Di bertanya lagi saat kami sama-sama diam setelah beberapa waktu. Dia selalu punya topik. Sepertinya dia adalah orang yang asik untuk diajak bicara. Aku mengangguk.
"Username?" Dia memberikan ponselnya. Aku mengetik beberapa huruf dan angka pada icon explore di instagram, kemudian aku mengembalikan ponselnya.
"Okay. Udah gue follow. Mind to follow back?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku membuka kunci ponselku. Notifikasi dari instagram mucul di panel atas. Dengan cepat sekaligus penasaran, aku membukanya, lalu muncul tampilan profilnya. Rendra Adriano Saputra. Full name yang berbeda jauh dari nick name. Apa dia menipuku?
"Reno, atau Rendra?" Aku mengklarifikasi. Di terkekeh.
"Reno. Re untuk Rendra, dan No untuk Adriano. See?"
Aku hanya manggut-manggut mengerti.
"Kuliah atau kerja?"
"Kuliah, semester tujuh. Elu?"
"Kuliah juga sih, tapi semester lima .." Anjir, dia lebih muda dariku tapi bisa-bisanya dia bersikap akrab seperti itu. Dasar tidak sopan.
"Gue dulu ngambil cuti satu tahun. Jadi sebenarnya, kita seangkatan ..." Aku menoleh, menatapnya. Cukup lama memang. Seperti mampu membaca pikiranku, dia memberi penjelasan yang tepat. 
"Elu, liatnya gitu banget? Ada yang salah di muka gue?" Aku tersadar, kemudian menggeleng, gugup. Canggung rasanya. Bodoh sekali. apa yang sudah aku lakukan? Tanpa sadar, aku melakukan hal bodoh. Memalukan !
"Udah reda nih. Mau gue tebengin aja? Rumah daerah mana?"
"Gue kos di daerah Sekeloa. Nggak usah, bisa cari ojek kok ..."
"Lah, kuliah di UNPAD juga? Apa bedanya? Gue juga naik motor, sama kaya tukang ojek. Lagian sejalur juga ..."
Dilihat dari pertanyaannya, sepertinya dia kuliah di UNPAD.
"Nggak, gue di ITB. Nggak usah deh, gue nggak mau ngrepotin ..."
"Wah, padahal kos elu itu malah deket kampus gue. Nggak ngrepotin dah. Ayo ..."
Tanganku ditariknya menuju ke tempat dimana motornya diparkir. Entah kenapa aku membiarkannya menggandeng tanganku, padahal aku baru mengenalnya. Tepatnya mengenalnya beberapa jam yang lalu.
"Eh, tapi gue ntar nggak pake helm dong ..."
"Lewat jalan tikus aja. Dijamin aman. Percaya sama gue ..."
Dan, diapun mengantarku pulang di kos dengan selamat. Sepertinya dia orang asli daerah sini. Dia benar-benar hafal dengan semua jalanan dan paham tata letak pertokoan atau bangunan dengan ciri tertentu.

***

"Okay, thank's ya? Be safety ..." Ucapku seraya tersenyum.
"Okay. See you ..." Jawabnya, kemudian dia berlalu bersama motor besarnya. Akupun segera mencari kunci kamar kos dan masuk ke dalam kamar.

Aku masih berfikir. Bagaimana bisa aku mengiyakan semua tawarannya dengan kesadaran penuh tanpa paksaan. Namu satu hal yang aku tahu. Postur tubuhnya, wajahnya, caranya tertawa dan tatapannya mirip dengan seseorang yang pernah ada di masa laluku. Seseorang yang pernah membuatku jatuh dan terperosok semakin dalam. Yang membuatku tak bisa berhenti menyakiti diri sendiri karena rasaku yang begitu menggebu. Cinta pertamaku. Bukannya aku ingin berkutat dengan masa laluku. Tapi, mata itu terlihat sama. Tidak. Lebih tepatnya caranya menatap. Teduh. Damai. Aku, rindu akan dirinya yang kini sudah bersama wanita impiannya. Tapi sosok Reno benar-benar membuatku ingin kembali menikmati rasa itu. Jatuh cinta.

***

Aku terbangun di tengah malam karena suara tetangga sebelah kamar yang berisik beradu mulut dengan pacarnya. Ku raih ponselku, bermaksud melihat pukul berapa saat ini. Namun, pandanganku justru terfokus pada notifikasi line. Reno, mengirim sebuah pesan padaku.
"Hallo ..."
Sapanya. Aku pun ikut membalas.
"Hai juga. Dapet id darimana?"
Aku masih mengira-ngira, darimana dia bisa mendapatkan kontakku. Bukannya ge er atau apa, tapi aku memang cukup populer di kampus menjadi salah satu anggota inti dari Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusku sudah menjadi point penting jika beberapa orang mengenalku. Jadi bisa jadi, dia mendapatkan kontak ku dari temannya yang juga sama-sama kuliah di universitas yang sama denganku. 
"Instagram, tepatnya di bio. Forgot it?"
Aku menepuk dahi. Aku lupa akan hal itu. Bodoh.
"Ya, aku lupa ..."
"By the way, kok masih melek jam segini?"
Tadinya, aku ingin membalas pertanyaannya dengan bercerita tentang tetangga kosku. Tapi mungkin, itu adalah masalah pribadi. Intinya, aku tak mau dia menilai bahwa kos-anku adalah kos-an yang berisi orang-orang bebas. Bebads dalam tanda kutip bebas yang "begituan". Bayangkan saja. Pada tengah malam seperti ini mereka masih bersama, bahkan berdebat di dalam kamar. Percakapan kami terus berlanjut, sampai aku lupa bahwa besok aku ada Sempro dengan tiga dosen killer di jurusanku. Dan sepertinya, aku mulai menyukainya. Tapi satu hal. Saat ini aku sudah memiliki kekasih. Kami menjalin hubungan LDR, antara Bandung dan Surabaya. Reno pun juga. Dia juga sudah menjelaskan mengenai hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Jadi pada intinya, kami sama-sama menjalin hubungan jarak jauh dengan pasangan masing-masing.

Seminar hari ini berjalan dengan lancar. Itu tandanya penelitianku akan berlanjut sampai aku menyelesaikan sidang skripsi sehingga aku bisa cepat lulus. Itupun jika aku mengerjakannya dengan baik tanpa banyak revisi. Ini semua juga berkat Reno yang menyemangatiku akan sempro hari ini. Yah, setidaknya, untuk saat ini, dialah moodboster-ku. Bahkan, aku sudah mulai malas dengan pesan-pesan yang dikirim oleh kekasihku yang notabene memang jarang. Mungkin, sehari hanya akan ada tiga chat darinya. Ah, memuakkan.

***

Hari ini aku sudah janji untuk mentraktirnya makan karena seminarku lancar. Dan saat ini, kami sudah berada di salah satu tempat makan cepat saji di daerah dekat kampus-ku.
"Elu pesan apaan?"
"Apa aja deh ..."
"Idih, pesen ya pesen. Jangan apa aja. Entar gue beliin piring doang tahu rasa deh ..."
"Beliin paket yang itu aja deh ..."
"Okay ..."
Usai makan, bukannya langsung kembali ke kos masing-masing, kami malah jalan-jalan tidak jelas. Salah satunya mencoba beberapa permainan yang ada di dalam sebuah Mall. Dia hari ini banyak tertawa, dan itu membuatku semakin sering menatapnya untuk waktu yang lama.

***

Sepulang dari Mall, Reno langsung mengantarkanku ke kos. Hujan turun begitu deras, alhasil Reno berteduh di dalam kamar kosku.
Entah sejak kapan suasana menjadi akward di ruangan ini. Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya merambat masuk dari arah jendela. Sontak, kami saling mendekat karena sama-sama takut. Dan kini, aku berada dalam dekapannya. Kaget, aku buru-buru melepaskan pelukannya.
"Sorry, gue takut sama petir. Ada trauma ..." Kataku setelag 
"Oh ya? Trauma gimana?"
"Dulu, gue punya kakak cowok. Waktu kecil, pas main di taman, posisi ujan, gue sama dia neduh. Terus ada kilat, dan dia langsung pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu gue nggak tahu apa yang terjadi sama kakak gue. Tiba-tiba denger kabar aja kalau kakak udah pergi, katanya kena serangan jantung ..."
"Turut berduka buat kakak elu. Maaf udah ngungkit ..."
"It's okay..."
Suasana kembali hening. Tapi posisi kami berdua masih saling berdekatan.

Tangan kirinya mengusap pipi kiriku, tentu saja aku menoleh. Kulihat dia menatapku, lekat-lekat. Ah tidak. Tidak untuk sekarang.
"Ren, maaf ..." Potongku. Kedua bibirnya hampir menyentuh ujung bibirku.
"Kenapa?" Tanyanya. Dia mengubah posisi duduknya. Aku menghela napas panjang.
"Posisi kita ... Kita sama-sama udah ada yang punya. Gue nggak mau ada yang salah sama hubungan kita ..."
"Maaf, Din. Tapi gue sayang sama elu. Dan gue ..."
"Iya gue tahu. Dan apa yang gue rasa juga sama. Tapi hubungan kita ini bener-bener salah ..."
"Gue nggak peduli. Kalau elu mau, gue bisa putusin cewek gue, sekarang juga !"
"Ren, gue nggak butuh ya elu ngelakuin hal kekanakan macam itu. Hubungan ini nggak bakalan bisa dipaksa, kecuali kalau emang masing-masing dari kita udah nggak terikat hubungan apapun dengan orang lain, dan itu bukan karena keterpaksaan ..."
"Maaf, Din. Tapi gue nggak bisa lepas elu gitu aja. Elu juga sayang kan sama gue? Jadi tolong, kita jalanin aja. Please. Nggak akan ada yang tahu soal ini semua ..."
"Ini salah, Ren. Ini salah ..."
"Din, ini buat kita. Nggak akan ada yang sakit hati. Gue janji ..."
Pada akhirnya, aku hanya mengangguk mengiyakan petmintaannya. Ini memang salah, tapi aku mencintainya. Cinta mengalahkan segalanya, termasuk ego. Cinta memang membutakan segalanya. Termasuk membutakan arah, dimana jalan itu salah, namun tetap menjadi satu-satunya pilihan terbaik. Semoga, kesalahan ini tidak menjadi suatu masalah bagi kami berdua. 

Sunday, 30 October 2016

Sepenggal Prosa : Aku, yang sudah mati rasa tehadapmu.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBoNXXSlbaiV5rwvPPAK5SbYYZL32OiQ0nfhZRN-HapgD7ZpN3_EZKgGr2hK5j0lHaRI49OO6FTFtb5MVGanlxXJOFZvsH5q_pFAhwkw8GH1JXZbESDjI6dfEfuDYujOHtB76NjMcab6w/s320/1476858202152.jpg


Kau, tak pernah peduli terhadapku ...
Kau, tak pernah tau akan apa tingkah lakuku, apa yang sedang terjadi padaku dan apa yang menjadi sesalku ...
Kau, terlalu sibuk dengan dunia fanamu, dengan khayalanmu, dengan keegoisanmu ...
Bahkan, kau tak pernah merindu ...
Bukan suatu kesalahan jika aku memojokkanmu karena alasan-alasan yang memang masuk akal itu ...
Mungkin, daripada harus bergelut dan beradu mulut denganmu, hendaknya aku memilih untuk berlalu ...
Darimu ...

Kau, tak pernah mengerti tentangku, sedikitpun ...
Aku, selalu ada, selalu memahamimu ...
Tapi nyatanya, darimu, semua berbanding terbalik dan menjadi tabu ...
Hidupku denganmu seperti mayat hidup yang tak tahu malu ...
Memang hidup dalam sendu, tahu makan, tahu berjalan, tapi tak tahu arah, tujuan bahkan menjadi jemu ...
Tak ada perhatian, pengertian bahkan kau tak pernah ada saat semuanya menjadi semua .. 
Dimana kau disaat aku butuh untuk jalan ceritaku?
Disaat aku rindu?
Bahkan, saat aku ingin mendengar lantunan melodi dari bibirmu atau hanya sekedar mendengar suaramu menyapaku, kau tak mau ...
Naif, itu watakmu ...
Hidupmu, penuh dengan egomu ...

Mungkin memang seharusnya aku pergi, berlalu dari hidupmu ...
Atau mungkin kau, yang harus pergi dan berlalu dari hidupku ...
Keputusan itu lebih baik daripada kita yang sama-sama menjadi benalu ...
Sama-sama menjadi beban sedari dulu ...
Karena kita, sama-sama berasal dari masa lalu ...

Rasaku, tak lagi menggebu seperti dulu ...
Dan itu semua karenamu ...
Karena sikapmu ...
Karena sifatmu yang tak pernah bisa kau ganti tanpa ada maumu ...
Ulat saja mampu, bermetamorfosis menjadi kupu-kupu ...
Dia berusaha dengan tulus menunggu, dia sabar dengan semua perubahan itu ...
Tapi tidak bagimu ...

Hampir mati rasanya jika aku harus terus mengingatkanmu, memperingatkanmu ...
Hingga, aku sudah tak bisa merasa rindu ...
Bahkan, hatiku sudah mati rasa terhadapmu ...



Minggu, 30 Oktober 2016.
Sepenggal Prosa : Aku, yang sudah mati rasa terhadapmu.

Saturday, 29 October 2016

Sepotong Memori : Aku, wanita yang pernah mengikat janji.




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6Pg9Wdp6X3_UBaIXbfXgaT1s4E06yCd-lfaO4JK0VEi-agNHqhU3qwzkCiK8tqb1Wya5ZLKoSrXzGRXyadNXbrJx-zZn1mSUOhmrx-OIxn98baW3V6eyzYJh3s6JH-VfX29PUhaUAc58/s320/1477015039549.jpg



Bagaimana rasanya, jika kamu ditinggalkan oleh seseorang dimana kamu sedang cinta-cintanya?
Sakit? Itu pasti. Kecewa? Sangat. Terpuruk? Mungkin lebih dari itu.

Cerita dimulai saat aku mengenalnya. Dia memang bukanlah laki-laki pertama yang ku kenal dan menjadi seseorang yang pernah mengisi kekosongan ruang hatiku. Dia seumuran denganku, tapi perbedaan bulan membuatnya menjadi adik kelasku saat aku berada di bangku SMA.

Pertemuan kami berawal dari saat ujian kenaikan kelas, kami berada dalam ruangan yang sama. Duduk berseling bangku antara angkatannya dan angkatanku. Entah sejak kapan dia mulai penasaran dan ingin tahu tentang kehidupanku. Diapun mulai mendekatiku  dengan meminta nomor ponselku dari salah satu teman perempuannya yang duduk sebangku denganku saat ujian kenaikan kelas.

"Selamat malam, kakak cantik ..."

Pesan singkat yang dikirimnya malam itu, tepatnya sehari setelah ujian, membuat kami kian hari semakin dekat. Hanya saja, saat itu aku sudah memiliki tambatan hati yang telah bernaung kurang lebih hampir satu tahun. Tapi, keinginannya untuk lebih dekat denganku tak kunjung padam. Hingga suatu ketika, ruang hatiku mendadak kosong karena ditinggalkan oleh seseorang yang sudah ku jaga sebelumnya. Bukan hanya sakit hati, rasa sedih dan terkejut yang melilitku. Dan yang aku ingat, dia masih bersamaku.

Bagai sakit yang bertemu dengan obatnya, perlahan, dia menyembuhkan rasa sakitku. Semakin lama aku aku semakin jatuh cinta padanya. Dia sosok yang baik, sosok yang lebih dewasa dariku meski lebih muda dariku beberapa bulan. Dan akhirnya, kami memiliki hubungan istimewa beralas cinta dan bertudung bahagia.

Hampir 5 tahun hubungan ini berjalan. Suka maupun duka kami lewati bersama tanpa eluhan. Bahkan, kami sudah merencanakan masa depan dengan cukup matang. Karena keluarga pun sudah sama-sama memahami dan merestui hubungan yang sudah berlarut lama ini.
Namun, semuanya berakhir karena tiba-tiba dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena dia akan menikah dengan seorang gadis lain.

Hancur. Bagai diterpa badai, semuanya lenyap. Kecewa yang sungguh luar biasa melilitku. Rasa sakit yang mendalam setiap saat menghantui. Aku masih tidak begitu mengerti. Bagaimana bisa semudah itu dia berpaling? Semudah itukah? Lalu, bagaimana dengan perasaanku?

Sumpah janjinya masih pekat kuingat. Janjinya untuk selalu membuatku bahagia, janjinya agar air mataku tak jatuh karenanya, bahkan janji untuk terus hidup berdampingan sampai ajal menjemput. Itu semua palsu. Hanya sayatan luka dan beberapa kenangan lama yang dia tinggalkan bersamaku. Dan parasnya masih membayangiku.

Bagai memberi cuka pada luka. Setiap kali aku mengingatnya, melihatnya berkeliaran di semua akun media sosialnya, dadaku terasa sesak. Tak kunjung habis air mataku mengenangnya. Kekecewaanku pun tak kunjung habis walau dia berulangkali meminta maaf. Hingga akhirnya, dia lenyap. Termasuk aku, yang berusaha melenyapkannya.

Satu tahun setelah pernikahannya, tiba-tiba dia mucul. Dengan alasan yang sama, dia kembali. Dia datang dengan membawa lagi harapan dan beribu maaf untukku. Aku, yang sudah hampir lupa akan semua hal tentangnya, kembali terpojok oleh semua janji manis dan harapan barunya. Lalu apa yang bisa ku perbuat?

"Aku ingin melupakanmu. Terimakasih sudah pernah datang dan mendampingiku selama beberapa waktu ..."

Terlalu sakit untuk memulai kembali. Terlalu kecewa untuk mengulang. Aku lelah. Aku sudah lelah untuk sakit. Aku lelah untuk terus berusaha membohongi hati akan rasa kecewaku karenamu. Dan aku, lelah untuk bersabar akan semua perilakumu di masa lalu. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang belum sempat dimulai ini. Karena aku tahu, Tuhan sudah menunjukkan, betapa buruknya dia untukku dan akan ada lagi yang lebih baik untukku.


Sabtu, 29 Oktober 2016.
Aku, wanita yang pernah mengikat janji.

Sunday, 23 October 2016

Sepotong Memori : Kita satu, meski tak sama.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHktgmCogyP4N2BfGJ9uUhk6rF9zhDpegpMWdvR7tPH2fPeF4eM4xk94Wf2pzO4ZDKUO8RkkBHURbutzPEnzoEn3ubf4cKwncPxd5ef_fRIZKdfZPrYQ53LrN-DPYJt5hd_5B0uf9oonk/s320/1477183440098.jpg



Aku untuk kamu, kamu untuk aku ...
Namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda ...
Tuhan memang satu, kita yang tak sama ...
Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi ...

Pernah mendengar alunan nada dengan lirik seperti itu?
Apa kau tau apa maknanya?

Bagaimana rasanya jika kamu berada dalam posisi, dimana kamu jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda keyakinan denganmu?

Semuanya berawal kala aku pertama kali bertemu dengannya, saat sebuah acara festival band, dimana band yang aku gandrungi menjadi salah satu peserta dari festival tersebut. Saat itu, aku berjalan dari tempat parkir mobil, kemudian seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arah yang salah, bukan ke arah teman yang memanggilku, tapi ke arahnya, laki-laki bertubuh jangkung dengan mata sipit, hidung mancung dan bibir tipis. Dia memakai long sleve berwarna hitam yang dilipat sampai lengan, celana jeans yang yak begitu ketat, sepatu convers jack purcel navy dan rambut ber-pomade yang disisir rapi. Kedua lengannya dipenuhi tato. Itu membuatnya terlihat lebih garang dan keren. Dan untuk pertama kalinya, aku bertatapan denganya secara tak sengaja, saat dia duduk di bawah tenda sponsor yang tak jauh dari panggung dan mengobrol dengan gitarist dari bandku.

Usai membawakan dua lagu ciptaan band ku sendiri dan satu lagi hasil cover sebuah band ber-genre sama, aku dan ketiga personil bandku turun dari panggung. Seseorang yang tak asing menunggu di bawah panggung. Gitarist Bandku mengenalkannya pada semua personil kami. 
"Halo, gue Ryan. Salam kenal semuanya ..." Ucapnya seraya menyalami kami semua. Setiap kali bersalaman, satu persatu dari kami menyebutkan nama. Dan giliranpun tiba kepadaku. Dan bukan hal biasa, tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa aku, lapar?
"Ryan..." Katanya. Dia tersenyum.
"Maura ..." Ucapku. Aku balas tersenyum. Kami semua, personil bandku dan Ryan menepi, tak jauh disebelah panggung. Sepertinya, ada suatu hal penting yang akan mereka bicarakan.
"Guys. Semuanya udah pada kenal kan sama si Ryan? Berhubung kita semua lagi kumpul, gue sama Bobby mau ngenalin gitarist baru band kita yang kemarin sempet gue singgung. Dia, ya Ryan ini ..." Jelas Tyo, drummer-ku. Jadi, Ryan adalah personil baru dari band kami? Menurutku dia sangat keren dan tentunya dia bisa menjadi pendongkrak popularitas dari band kami. Secara fisik saja, dia terlihat luar biasa. Belum lagi saat memainkan chord-chord saat di atas panggung. Membayangkannya saja membuatku gugup sendiri. Setelah itu, Tyo memasukkan kontaknya ke dalam grup chat band kami. Karena iseng dan rasa penasaranku yang memuncak, ku putuskan untuk menambahkannya sebagai teman.

Setelah hari itu, kami sering keluar masuk studio untuk latihan sebelum perform di atas panggung. Tidak seperti personil bandku yang lain, entah kenapa hanya aku dan Ryan terlihat yang paling canggung. Memang ada yang salah dengannya, atau ada yang salah denganku? Aku juga tak mengerti. Mungkin karena kami baru sama-sama mengenal, jadi kami masih malu untuk terlihat akrab. Tapi, semakin lama, semakin aku sering bertemu dengannya, semakin sering aku memikirkannya. Aku tak habis pikir. Tapi apa mungkin aku menyukainya? Apa itu yang dibilang orang "Love at the first sight"?

Rasa penasaranku benar-benar tak bisa ku kontrol. Akhirnya, aku berusaha membuka alias stalking akun medsosnya. Aku membuka beberapa foto lamanya dan entah kenapa hatiku terasa perih seperti tersayat saat aku berhenti di sebuah fotonya bersama seorang gadis yang memakai dress selutut berwarna pink dengan rambut tergerai panjang. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu, tepatnya 3 tahun yang lalu, sepertinya saat wisuda sekolahnya. Dia mengenakan setelan tuxedo hitam dengan dasi dan bunga mawar di saku kirinya. Jadi, ini ya?

Sejak hari itu, aku semakin menjadi canggung dengannya. Hampir tidak pernah aku mengobrol dengannya saat bertatap muka dengannya. Untuk beberapa waktu, aku mulai menghindarinya, entah saat grup chat sedang berlangsung, atau hanya sekedar ke kafé untuk bersantai setelah latihan usai. Hingga suatu ketika, aku mendengar kabar bahwa hubungannya telah berakhir.

Dalam beberapa waktu, kulihat dia sangat sering meng-update status berisi cacian, atau tentang kebencian yang tersirat dalam kalimatnya, kekecewaan, penyesalan dan kegundahan semua ia lampiaskan dalam akun medsos-nya. Aku ingin menghibur. Tapi aku takut. Saat ini ia sedang terpuruk. Suasana hatinya sedang buruk. Dan yang aku bisa lakukan hanya memantaunya dari akun medsos miliknya.

Satu bulan berlalu sejak hubungannya berakhir dengan mantan kekasihnya. Aku tidak terlalu ingat bagaimana obrolan kami bermula. Dan sejak obrolan pertama saat itu, kami lebih sering mengobrol via personal chat, bukan lagi di grup chat. Saking seringnya percakapan kami dan banyaknya topik, aku memutuskan untuk kembali mengulik info dari akun medsos-nya. Seperti tanggal lahirnya. Bulan depan dia berulang tahun. Kemudian alamatnya. Dia tinggal di daerah sekitar studio dimana tempat kami sering berlatih band. Dan yang terakhir, satu hal yang membuatku begitu terkejut dan hampir menangis. Dia berbeda keyakinan denganku. Dia seorang Katolik.

Seharian penuh aku tidak membalas pesan darinya. Mungkin itu membuatnya sedikit khawatir dan bingung. Aku masih shock dengan apa yang aku lihat kemarin malam. Fakta bahwa aku, dan dia, memiliki keyakinan yang berbeda. Lalu, kenapa aku bisa jatuh hati kepada orang yang memiliki keyakinan berbeda denganku? Lalu dalam hal ini, siapa yang patut disalahkan? Cinta? Keadaan? Atau Tuhan?

Hampir mati rasanya. Disaat aku benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya, cinta secinta-cintanya, kenapa keadaannya harus seperti ini? Aku memang salah, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku memutuskan untuk kembali bersikap seperti biasa kepadanya. Dan, beberapa hari setelah itu, dia menyatakan perasaannya terhadapku. Dari sisiku, aku tak bisa memungkiri bahwa aku mencintainya. Yang aku pikirkan tentang masa depanku dengannya nanti. Bagaimana jika kami menikah? Apa salah satu dari kami harus memutuskan untuk berpindah keyakinan? Namun, aku tak mampu untuk membahas masalah ini dengannya. Dan aku hanya menjawab "ya" karena yang aku tahu, aku begitu mencintainya. Soal lainnya, itu urusan esok atau nanti. Dan cerita kami, terus berlanjut.


Minggu, 23 Oktober 2016.
Kita satu, meski tak sama.


Saturday, 22 October 2016

Short Story : I'm Sorry.







Kebebasan itu pilihan. Aku tidak pernah suka untuk dikekang. Karena, sedari kecil pun, kedua orangtuaku selalu membiarkanku berkutat dengan dunia dan kesenanganku sendiri. Aku memang tak manja, tapi aku selalu meminta dan meminta. Meminta hal apapun untuk memenuhi egoku. Aku menjadi sosok laki-laki yang buruk, yang tak pernah peduli dengan kehidupan orangtuaku. Semua itu bertambah parah saat aku menginjak bangku perkuliahan. Rokok bukanlah suatu hal besar yang harus dipermasalahkan, justru konsumsi alkohol menjadi kebiasaanku. Clubbing, itu keseharianku. Tak ada satupun wanita di club malam yang tidak mengenal dan tidak terlewat untuk menghabiskan malam denganku. Tak ada yang menentap. Aku tak suka mereka. Aku tak percaya cinta. Cinta itu memuakkan. Yang aku miliki hanya teman yang dapat dipercaya dan selalu peduli. Pada akhirnya, aku sibuk berpindah, menumpang di apartemen atau kos teman-temanku. Sampai-sampai aku lupa, kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah. Hingga akhirnya, aku mendapat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal saat aku sedang berada di salah satu kos teman nongkrongku di salah satu club malam.
"Hallo, Kak Bri, sekarang dimana?" Tanyanya diujung sambungan. Suaranya tak asing. Ya, namaku Brian Pranata Atmojoyo.
"Lagi di kos Evan. Ini siapa?" Aku balik bertanya.
"Gendis, sepupumu .." Jawabnya diujung sambungan. Sudah sangat lama. Aku ingat. Aku punya sepupu perempuan yang seumuran denganku. Dia anak dari Om Suryo, anak terakhir dalam keluarga Ibuku. Dengannya dulu, aku pernah sedekat nadi. Seperti sepasang kekasih, kemanapun selalu berdampingan. Sedari lahir, kami sudah ditakdirkan untuk terus menempel dan berjalan beriringan. Dan semuanya berubah semenjak aku duduk di bangku perkuliahan. Kini, aku dan dia sejauh matahari dan bumi. Bahkan, nomornya saja aku tidak punya.
"Oh, ya. Ada apa, Ndis?"
"Om Atmo, Kak ..." Kalimantnya menggantung.
"Ayah? A .. Ayah kenapa?" Aku bingung, gelisah. Aku rasa sesuatu yang buruk terjadi. Aku mendengar isakan dari ujung sambungan.
"Gendis ! Ayahku kenapa?" Teriakku. Sontak Evan menatapku penuh tanda tanya.
"Rumah Kakak di rampok, dan ..." Seketika itu, aku mematung. Apa? Dirampok?
"Dan Om Atmo jadi korban ...” Ayah jadi korban? Ayah ... Lalu, Ibu? Gabby?
"Ndis, Ibu gimana? Gabby?" Tanyaku lagi. Tuhan, apa yang sedang terjadi?
"Kak, tolong. Sekarang Kakak ke IGD rumah sakit Citra Harapan. Semua orang lagi nungguin. Terutama Tante ..." Tanpa pikir panjang, aku memutuskan sambungan, menyambar kunci mobil dan berjalan ke arah pintu.
"Bri, elo mau kemana?" Teriak Evan. Aku berlalu begitu saja tanpa mempedulikan pertanyaan Evan dan bergegas menuju rumah sakit.

***

Satu bulan setelah kejadian di hari itu berlalu, akhirnya aku berkumpul lagi dengan keluargaku, tanpa Ayah. Rumah dan seisinya disita karena Ayah belum sempat melunasi hutang-hutangnya dan Ibu tidak mungkin sanggup membayar uang sebanyak itu dalam setiap bulannya. Aku memang anak yang tidak tau diuntung. Aku, yang selama ini hanya tau bagaimana mudahnya orangtuaku memberikan uang, tak pernah tau tentang hutang yang melilit Ayah. Dan, belum sempat semua hutang itu lunas, Ayah dirampok dan meninggal di IGD malam itu juga karena timah panas yang menembus jantungnya. Kini, aku, Ibu dan Gabby tinggal di sebuah kontrakan yang tak cukup luas. Ibu menolak semua bantuan dari semua anggota keluarganya, termasuk Ayah Gendis. Akupun berpikiran sama. Tak berhak jika aku menerima uang itu. Karena, semakin mereka memberi, justru kami yang akan semakin terbebani. Kini, aku memutuskan untuk kembali memulai perkuliahan dengan sungguh-sunggu dan harapan yang baik. Aku juga kerja paruh waktu di café and cake. Tempatnya lumayan ramai, letaknya pun strategis, lebih jelasnya juga berada di dekat rumahku. Café and cake ini memiliki desain kafé di bagian depan dan balkonnya. Sedangkan bagian dalam berjajar rak berisi kue-kue.
"Selamat datang ..." Sapaku setelah mendengar lonceng yang berdenting karena pintu yang didorong masuk. Seorang gadis mengenakan turtle neck sweater berwarna merah marun, celana jeans sobek-sobek model baggy dan convers high merah dengan rambut tergerai sebahu masuk ke dalam. Selera fasionnya sempurna untuk seorang cewek kekinian. Kini, dia berdiri di depanku. Kami terhalang oleh rak yang berisi jajaran pudding dan cake. Dia hanya ingin membeli dan pergi. Bukan memesan sesuatu dan tinggal beberapa saat di kafe ini. Hal itu jelas tergambar dari caranya memilih. Beberapa orang yang ingin mampir ke kafé akan langsung menuju ke meja kasir dan memesan beberapa menu utama yang tertera di bagian papan menggantung di belakang meja kasir. Mataku masih tak berpaling darinya.
"Mas, tolong yang ini, ya?" Ucapnya seraya menunjuk black forest berdiameter 30cm. Dengan semangat aku menjawab.
"Iya mbak, siap. Sebentar ..."
Aku begegas memasukkannya ke dalam box cake dan membungkusnya dengan kantong plastik.
"Berapa?" Tanyanya. Wajah penasaran tersirat di wajahnya saat menatapku. Aneh.
"Seratus limapuluh ribu, mbak .." Jawabku. Aku pun juga ikut menatapnya.
"Okay. Ini ya, mas? Terimakasih ..." Lanjutnya seraya tersenyum. Baru kali ini, jantungku berdegup lebih cepat saat aku melihat seorang gadis tersenyum. Ditambah lagi, aku familiar dengan wajahnya. Ah sial, perasaan macam apa ini? Aku kan tak percaya hal-hal bodoh semacam itu? Mungkin aku lapar, makanya gemetaran.

***

Dua hari setelahnya, gadis itu datang lagi, dengan style yang berbeda. Kali ini, dengan dress selutut berwarna peach, jaket jeans yang bagian lengannya dilipat ke atas dan nike huarache triple white yang dikenakannya, membuatnya tampak terlihat lebih girly. Dia benar-benar pintar memadukan jenis fashion yang berbeda. Untuk kedua kalinya, dia membeli black forest. Mungkin dia memang menyukai kue black forest. Mungkinkah aku harus iseng bertanya? Intermiso sebelum memulai perkenalan, mungkin itu maksudku.
"Suka Black forest, mbak?" Tanyaku padanya. Dia tersenyum, kemudian menggeleng. Kami sama-sama teridam. Satu detik, dua, ti ...
"Buat Mama, bukan aku .." Lanjutnya. Entah kenapa, senyumnya mengganjal. Berat. Dia seperti menutupi sesuatu. Matanya tak menatap ke arahku. Tapi ke arah seragamku. Alisnya naik sebelah, dahinya mengerut.
"Brian? Brian yang Kakaknya Gendis?" Tanyanya seraya melihat nametag yang tergantung di saku kiriku. Bagaimana dia bisa tahu?
"Kenal sama Gendis?"
"Temen satu kelas, waktu SMA. Elu nggak ingat sama gue?"
"Bentar. Ki .. Kita kenal, kah?" Jawabku gagu. Mustahil aku lupa dengan gadis semacam itu. Gadis itu memutar bola matanya, kemudian menghela napas.
"Naya. Yang dulu sering main ke rumah Gendis. Forgot me?" Jelasnya singkat. Naya? Kanaya Octaviana? Gadis berkacamata, kutu buku, cubby dan low profile itu? Aku sedang bermimpi atau aku memang salah dengar?
"Se ... serius?" Jawabku terbata. Aku masih tidak percaya. 
"Serius. Nggak percaya banget deh ..." Guraunya. Aku manggut-manggut mengiyakan.
"Percaya kok .." Jawabku cengengesan.
"Gitu dong ... Okay, gue balik dulu ya? Keburu sore nih ..." Pamitnya. Ah sial, aku masih ingin mengobrol lebih lama dengannya. Tapi, apa boleh buat?
"Iya .. Jangan kapok kesini, pasti aku layani sepenuh hati ..." Gurauku. Dia hanya tersenyum seraya mengangguk. Diapun meninggalkan tempat ini dan berlalu. Sial. Sial. Sial. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa aku tak minta id line atau kontaknya? Sial. Tapi mungkin, Gendis bisa membantuku. Lagipula, ini sudah jam istirahatku.
Tanpa pikir panjang, aku menelpon Gendis.
"Halo, Ndis .. Lagi sibuk nggak?"
"Nggak sih, ada apaan? Tumben ..." Jawabnya dengan nada lemas.
"Baru bangun?"
"Tau aja, Kak ..." Jawabnya disusul tawa.
"Dasar kebo, mentang-mentang libur kuliah, molor mulu ..."
"Udah to the point aja, ada apaan?" Tepat sasaran. Tanpa menggubris topik sebelumnya, dia langsung beralih.
"Masih kontak sama Naya?"
"Naya 'Kanaya'? Masih lah, orang satu fakultas juga. Dia barusan dari situ? Gimana? Makin cantik kan dia?" Tuturnya panjang. Dasar dukun, tukang baca pikiran orang.
"Elu pernah sekolah begituan ya?"
"Begituan? Maksudnya?"
"Ilmu perdukunan ..."
"Wah parah nih. Gue tutup aja kali telponnya ya?"
"Eh, jangan-jangan !"
"Udah ah bawel. Abis ini gue kirimin kontaknya Naya. Gue mau balik tidur. Nanti malam mau berangkat hiking soalnya. Prepare, biar nggak capek ..." Gila. Memang benar. Gendis pernah belajar ilmu terawangan. Semuanya tepat sasaran.
"Okay, makasih. Hati-hati adikku sayang. Muahhh ..."
"Idih, jijay ..." Jawabnya seraya memutuskan sambungan. Belum ada satu menit setelah aku menelpon Gendis, sebuah chat-line darinya masuk, dan kontak Naya sudah mendarat dengan selamat. Aku harus segera menambahkannya sebagai teman. Aku mencoba membuka tampilan kontaknya.
"Gila !" Ucapku spontan setelah melihat profil picture kontak line-nya. Gaya busana, selera fashionnya mengikuti tren anak-anak kekinian masa kini. Dia jauh lebih hebat dari gadis-gadis yang pernah ku kenal selama ini.
"Ada apaan, Bri? Siapa yang gila?" Tanya seseorang disampingku. Aku menoleh.
"Liat nih. Keren nggak?" Jawabku seraya menunjukkan foto Naya kepada Rendy, teman satu kerja -ku.
"Anjir, cantik banget ! Style juga oke. Siapa tuh?" Tanyanya. Aku tersenyum.
"Calon gebetan gue. Hahahaha ..." Rendy terkekeh.
"Untung aja gue udah punya Sasti. Kalau belum, bolehlah gue saingan sama elo ..." Guraunya. Aku tertawa.
"Udah ah, istirahat yuk. Nipis nih waktu. Udah mau abis ..."
"Sip ..." Jawabku seraya mengacungkan jempol padanya.

***

Naya. Kanaya. Ah, dia benar-benar gadis yang berbeda saat ini. Dia benar-benar jauh lebih cantik dan fashionable. Dan kalau dia satu fakultas dengan Gendis, itu artinya dia anak jurusan Kedokteran, keperawatan, farmasi atau ... Dia salah satu dari mereka. Dengan hidupku yang seperti sekarang ini, mustahil untukku menyukainya atau bersanding dengannya.
"Line !"
Sebuah notifikasi line masuk ke dalam ponselku. Jika aku tak salah lihat, ini benar dari Naya. Naya !

Naya : Wah, nyolong kontak gue darimana nih? Hehe

Ah, gurauannya membuatku malu. Aku segera membaca pesannya.

Brian : Tenang, gue nggak nyolong. Resmi kok. Dari sumber terpercaya ...

Dan, sejak chat pertamanya padaku, kami berdua semakin dekat setiap harinya. Meskipun terkadang dia tiba-tiba hilang selama dua hari tanpa ada kabar, pada akhirnya dia selalu muncul dengan beberapa kejutan, misalnya tiba-tiba datang ke kafé tanpa pemberitahuan. Tapi aku takut. Semakin aku dekat. Semakin aku menyukainya. Dan juga semakin mustahil untukku. Jadi, ini ya rasanya benar-benar jatuh cinta? Kenapa aku jatuh cinta di saat yang salah? Kenapa bukan disaat aku masih berada dalam kondisi yang baik?

***

"Enak?" Tanyaku. Naya mengangguk mengiyakan. Saat ini dia sedang duduk di depanku dengan ditemani Banana Choco buatanku. Sudah dua bulan sejak kami memiliki hubungan yang cukup dekat, bisa dibilang sangat dekat. Hari ini, aku libur kerja. Tapi, aku pergi ke kafé karena aku ingin mengobrol dengan Naya. Dia memintaku untuk membuatkannya sesuatu yang menurutku paling enak di café ini. Jadi aku memutuskan untuk mengajaknya kesini saat jadwalku sedang kosong. Terakhir kali aku jalan-jalan dengannya ke sebuah taman bermain, dia sesak dan pingsan setelah keluar dari rumah hantu karena kami sama-sama berlari ketakutan. Mungkin dia lelah.
Hari ini, Naya memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat sampai sikunya, skiny jeans sobek sobek dan hels berwarna merah mengkilat dan tas tangan berwarna hitam dari satu merk terkenal dunia. Wajahnya diberikan riasan sederhana. Tapi menurutku, dia sedikit terlihat pucat.
"Oh iya, Bri. Gue mau tanya sesuatu sih .." Dia memulai topik. Aku bergumam.
"Apaan, Nay? Mendadak serius gitu ..."
"Lah, gue emang serius kali ..." Mendengar jawabannya barusan, aku mendadak gugup. Jantungku berdegup kencang, memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh.
"Okay, let me know ..."
"Ah nggak jadi deh ..."
"Lah, elu gimana sih? Ditungguin juga ..."
"Cieee nungguin gue ..."
"Idih, apaan sih. Serius nih ..."
"Gue nggak jadi nanya aja deh ..."
"Lah terus? Kok elu muter-muter kaya ki ..."
"Gue mau ngomong, kalau gue suka sama elu ..." Potongnya. Mataku terbelalak, mulutku masih menganga. Aku mematung.
"Bri?" Tangannya melambai-lambai di depan wajahku. Aku sadar dari lamunanku.
"Ha? Se ... Serius?" Aku terbata.
"Bercanda sih ..." Lanjutnya disusur kekehan. Sejenak semangatku meluntur. 
"Lah, kenapa kusut gitu? Iya, iya. Gue serius kok ..."
"Eh, ini perasaan kali, jangan dipake mainan ..."
"Siapa sih yang mainin? Gue ngomong benernya, elu malah yang nggak yakin gitu sama ucapan gue ..." Jadi, Naya juga ....
"Sejak kapan, Nay?" Naya bergumam. 
"Sejak kita pertama ketemu sih. Waktu gue ke rumah Gendis buat ngerjain tugas kelompok dan elup pas main ke rumah Gendis ..."
"Tapi, kenapa Gendis nggak pernah ngomong?"
"Lah, Gendis itu sahabat gue. Yakali dia mau main ngomong, keran bocor dong ..." Parah. Aku benar-benar bodoh. Disukai oleh seseorang selama hampir enam tahun oleh seseorang, tapi aku tidak peenah tau dan malah sibuk dengan dunia dan kebebasanku.
"Kenapa elu baru ngomong, Nay?"
"Mau ngomong gimana, orang habis lulusan elu nggak pernah ke rumah Gendis lagi. Gimana kita ketemu? Gimana mau ngomong?" Benar. Setelah masuk dunia perkuliahan aku sudah berubah menjadi sosok yang arogan dan egois. Menyukai kesenangan duniawi.
"Maaf, Nay. Aku memang udah salah jalur dari awal. Maaf ..."
"Nggak masalah. Selama elu mau berubah, Tuhan bakalan tetep ngertiin kok. Dan yang paling penting sekarang, gue udah ngomong. Rasanya nyesek sih, suka sama orang selama itu orang itu tau. Ditambah lagi, hati secara otomatis kan nutup perasaan buat orang lain. Iya nggak?" Jelasnya santai. Seolah dia tak menginginkan jawaban dari pernyataannya. Sungguh tak masuk akal.
"Terus?" Tanyaku.
"Apanya?"
"Ya elu nggak pengen nanya gimana perasaan gue ke elu? Soalnya gue nggak merasa lagi ditembak lho ..." Gurauku. Dia terkekeh.
"Emang enggak. Gue cuman mau nyatain aja sih. Soal elu suka atau enggak, itu kan ..."
"Gue juga suka sama elu, Nay ..."
"Ha?" Naya terbengong. Kini giliran dia yang mematung.
"Ha apa? Gue seriusan. Selama gue deket sama cewek, nggak ada satupun yang bisa bikin gue seneng, ketawa dan deg-deg an kaya elu. Aku juga nggak tau sejak kapan perasaan kagum gue ke elu berubah jadi cinta. Dari dulu aku nggak pernah percaya sama yang namanya cinta-cinta an. Cinta itu hoax. Tapi, setelah semua hal yang menimpa keluarga gue, gue jadi sadar. Kalau cinta itu bisa datang dari orang terdekat sekalipun, misalnya dari ibu, Gabby ataupun Gendis. Ditambah lagi, sejak pertama ketemu lagi sama elu, perasaan gue berubah drastis. Tapi ..."
"Tapi kenapa? Kenapa lu nggak bilang dari awal?"
"As you know lah. Kehidupan gue udah jauh dari yang dulu. Sekarang gue cuman pelayan di sebuah kafé. Intinya, gue nggak pantes nyanding sama elu .."
"Bukan. Bukan elu, tapi gue. Gue yang nggak pantes sama elu. Aku bukan cewek baik, Bri .."
"Aku juga bukan cowok baik, Nay. Masa lalu gue udah kaya gitu. Apalagi yang kurang buat nyebut gue cowok brengsek? Nggak ada kan? Aku yang harusnya lebih minder dari elu ..."
"Udah, jangan ngrendah Bri. Hidup itu berputar. Daripada menyesal, lebih baik perbaiki diri. Hmm, makasih ya udah suka juga sama gue. By the way, gue balik dulu ya?" Tuturnya seraya bangun dari kursinya, kemudian berjalan menuruni tangga.
"Lah, Nay. Elu mau kemana? Nay !" Kulihat dia lari menuruni tangga. Sepertinya dia ... Menangis ...

**"

Ini sudah hampir satu bulan, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya di kafé dan sejak kami sama-sama mengakui tentang perasaan kami. Apa aku salah bicara? Sudah berulang kali aku meminta maaf atas kejadian hari itu. Tapi tak ada satupun chat-ku yang dibalas olehnya meskipun dia membacanya. Gendis pun tak luput jadi sumber informasiku. Namun hasilnya pun nihil. Hingga suatu ketika saat tidak sengaja aku membuka akun facebook-nya, salah seorang temannya menulis dalam wall-nya.

Selamat jalan, Kanaya Octaviana. Semoga amal dan ibadahmu diterima disisi-Nya. God bless you, sayang :'(

Aku mematung. Sontak ponselku jatuh. Akupun ikut terududuk di kursi. Tidak. Ini salah.
Ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Aku memungut ponselku di lantai dan menatap layar ponselku. Gendis. Jangan bilang ini semua ...
"Ha .. Halo ..."
"Kak, kak Bri ..." Ucapnya seraya terisak.
"Ndis, jangan bilang kabar yang gue lihat di facebook-nya Naya itu bener ..." Tanganku gemetar. Aku berharap ini semua tidak benar.
"Iya, kak. Semua kabar ini bener adanya ..."
"Nggak, elu lagi bercanda kan? Dia pasti marah gara-gara kejadian sebulan yang lalu kan? Karena gue kan?"
"Nggak, nggak kak. Elu nggak salah. Ini semua udah takdir Tuhan. Naya udah pulang ke sisi Tuhan. Besok, gue jemput Kakak. Kita ke rumahnya bareng-bareng buat upacara pemakaman. Yang sabar ya, Kak ..." Setelah penjelasan singkat dari Gendis, aku hanya bisa tertegun seraya menangis lirih. Kenapa? Kenapa disaat aku menemukan kebahagiaanku, orang pertama yang tulus, tapi malah direnggut? Kenapa harus?

***

Saat ini aku tengah berdiri di tengah pemakamannya bersama orang-orang yang tak pernah ku kenal. Hanya Gendis dan beberapa teman SMA-nya. Foto Naya memakai kemeja putih dengan rambut tergerai, lebih pendek dari sebelum bertemu denganku terakhir kalinya.
"Nay, aku masih belum siap. Ini terlalu mendadak ..." Ucapku lirih.
"Udah kak, ikhlas. Nanti Naya malah sedih liat Kakak kaya gini ..." Aku hanya tersenyum hambar.
"Ndis, kenapa Naya nggak pernah cerita sama gue soal penyakitnya? Dan jangan bilang, elu tahu semua masalah ini ! Iya ?!"
"Iya, Kak. Gue emang tahu semua soal Naya. Soal sakitnya, soal dia yang tiba-tiba ngilang selama satu bulan. Dia pergi ke Singapura buat transplantasi jantung. Awalnya sukses. Tapi, dua hari setelahnya ada penolakan dari tubuh Naya. Maaf kalau gue udah bohong sama Kakak. Ini semua permintaan Naya. Dan, ini dari Naya ..." Jelasnya seraya memberikan sebuah kotak bermotif garis-garis dan selembar surat. Jadi, dia sudah merencanakannya?

***

Halo, Bri ! Kalau kamu baca surat ini, tandanya aku udah nggak ada alias udah pergi. Tolong sampe in permintaan maafku ke Gendis ya? Maaf udah ngrepotin. Hehe
Maaf, karena hari itu aku lari. Aku cuma takut, cerita akan berlanjut. Aku nggak siap kalau kamu benci sama aku setelah tahu keadaanku. Aku nggak siap, kalau misal kita punya hubungan yang lebih istimewa, tiba-tiba operasiku gagal, aku bakaln nggak ada, kamu bakalan aku tinggal, sendirian dan merasa sakit karena kehilangan. Aku nggak pengen kamu merasa lebih sakit lagi. Jadi aku ngungkapin perasaan aku, tanpa ada balasan rasa dari kamu, tanpa kamu perlu melakukan sesuatu untukku pun, itu sudah lebih dari cukup. Jadi, menurutku ini keputusan terbaik. Kamu, harus hidup jauh lebih baik lagi dari sekarang dan hari kemarin. Suatu saat nanti, akan ada yang lebih baik dariku, yang bisa menemanimu sampai sisa umurmu. Maaf untuk semuanya. Terimakasih. Aku sayang padamu.


 Kanaya Octaviana 

NB : Jam tangannya jangan lupa dipakai ya? Ini kado ulang tahunmu, bulan depan. Hehe :'*

Aku hanya bisa tertunduk seraya menangis, menyesal. Kenapa aku tak pernah sadar akan sakitnya? Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tak pernah peduli padanya? Kehidupannya diluar lingkupnya denganku? Kenapa baru sekarang aku menyesali semuanya? Mungkin ini karma dari Tuhan. Karma karena kesalahanku, di masa lalu.