Saturday, 29 October 2016

Sepotong Memori : Aku, wanita yang pernah mengikat janji.




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6Pg9Wdp6X3_UBaIXbfXgaT1s4E06yCd-lfaO4JK0VEi-agNHqhU3qwzkCiK8tqb1Wya5ZLKoSrXzGRXyadNXbrJx-zZn1mSUOhmrx-OIxn98baW3V6eyzYJh3s6JH-VfX29PUhaUAc58/s320/1477015039549.jpg



Bagaimana rasanya, jika kamu ditinggalkan oleh seseorang dimana kamu sedang cinta-cintanya?
Sakit? Itu pasti. Kecewa? Sangat. Terpuruk? Mungkin lebih dari itu.

Cerita dimulai saat aku mengenalnya. Dia memang bukanlah laki-laki pertama yang ku kenal dan menjadi seseorang yang pernah mengisi kekosongan ruang hatiku. Dia seumuran denganku, tapi perbedaan bulan membuatnya menjadi adik kelasku saat aku berada di bangku SMA.

Pertemuan kami berawal dari saat ujian kenaikan kelas, kami berada dalam ruangan yang sama. Duduk berseling bangku antara angkatannya dan angkatanku. Entah sejak kapan dia mulai penasaran dan ingin tahu tentang kehidupanku. Diapun mulai mendekatiku  dengan meminta nomor ponselku dari salah satu teman perempuannya yang duduk sebangku denganku saat ujian kenaikan kelas.

"Selamat malam, kakak cantik ..."

Pesan singkat yang dikirimnya malam itu, tepatnya sehari setelah ujian, membuat kami kian hari semakin dekat. Hanya saja, saat itu aku sudah memiliki tambatan hati yang telah bernaung kurang lebih hampir satu tahun. Tapi, keinginannya untuk lebih dekat denganku tak kunjung padam. Hingga suatu ketika, ruang hatiku mendadak kosong karena ditinggalkan oleh seseorang yang sudah ku jaga sebelumnya. Bukan hanya sakit hati, rasa sedih dan terkejut yang melilitku. Dan yang aku ingat, dia masih bersamaku.

Bagai sakit yang bertemu dengan obatnya, perlahan, dia menyembuhkan rasa sakitku. Semakin lama aku aku semakin jatuh cinta padanya. Dia sosok yang baik, sosok yang lebih dewasa dariku meski lebih muda dariku beberapa bulan. Dan akhirnya, kami memiliki hubungan istimewa beralas cinta dan bertudung bahagia.

Hampir 5 tahun hubungan ini berjalan. Suka maupun duka kami lewati bersama tanpa eluhan. Bahkan, kami sudah merencanakan masa depan dengan cukup matang. Karena keluarga pun sudah sama-sama memahami dan merestui hubungan yang sudah berlarut lama ini.
Namun, semuanya berakhir karena tiba-tiba dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena dia akan menikah dengan seorang gadis lain.

Hancur. Bagai diterpa badai, semuanya lenyap. Kecewa yang sungguh luar biasa melilitku. Rasa sakit yang mendalam setiap saat menghantui. Aku masih tidak begitu mengerti. Bagaimana bisa semudah itu dia berpaling? Semudah itukah? Lalu, bagaimana dengan perasaanku?

Sumpah janjinya masih pekat kuingat. Janjinya untuk selalu membuatku bahagia, janjinya agar air mataku tak jatuh karenanya, bahkan janji untuk terus hidup berdampingan sampai ajal menjemput. Itu semua palsu. Hanya sayatan luka dan beberapa kenangan lama yang dia tinggalkan bersamaku. Dan parasnya masih membayangiku.

Bagai memberi cuka pada luka. Setiap kali aku mengingatnya, melihatnya berkeliaran di semua akun media sosialnya, dadaku terasa sesak. Tak kunjung habis air mataku mengenangnya. Kekecewaanku pun tak kunjung habis walau dia berulangkali meminta maaf. Hingga akhirnya, dia lenyap. Termasuk aku, yang berusaha melenyapkannya.

Satu tahun setelah pernikahannya, tiba-tiba dia mucul. Dengan alasan yang sama, dia kembali. Dia datang dengan membawa lagi harapan dan beribu maaf untukku. Aku, yang sudah hampir lupa akan semua hal tentangnya, kembali terpojok oleh semua janji manis dan harapan barunya. Lalu apa yang bisa ku perbuat?

"Aku ingin melupakanmu. Terimakasih sudah pernah datang dan mendampingiku selama beberapa waktu ..."

Terlalu sakit untuk memulai kembali. Terlalu kecewa untuk mengulang. Aku lelah. Aku sudah lelah untuk sakit. Aku lelah untuk terus berusaha membohongi hati akan rasa kecewaku karenamu. Dan aku, lelah untuk bersabar akan semua perilakumu di masa lalu. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang belum sempat dimulai ini. Karena aku tahu, Tuhan sudah menunjukkan, betapa buruknya dia untukku dan akan ada lagi yang lebih baik untukku.


Sabtu, 29 Oktober 2016.
Aku, wanita yang pernah mengikat janji.

No comments:

Post a Comment