Bagaimana
rasanya, jika kamu ditinggalkan oleh seseorang dimana kamu sedang
cinta-cintanya?
Sakit? Itu pasti. Kecewa?
Sangat. Terpuruk? Mungkin lebih dari itu.
Cerita
dimulai saat aku mengenalnya. Dia memang bukanlah laki-laki pertama yang ku
kenal dan menjadi seseorang yang pernah mengisi kekosongan ruang hatiku. Dia
seumuran denganku, tapi perbedaan bulan membuatnya menjadi adik kelasku saat
aku berada di bangku SMA.
Pertemuan kami berawal
dari saat ujian kenaikan kelas, kami berada dalam ruangan yang sama. Duduk
berseling bangku antara angkatannya dan angkatanku. Entah sejak kapan dia mulai
penasaran dan ingin tahu tentang kehidupanku. Diapun mulai mendekatiku
dengan meminta nomor ponselku dari salah satu teman perempuannya yang
duduk sebangku denganku saat ujian kenaikan kelas.
"Selamat
malam, kakak cantik ..."
Pesan
singkat yang dikirimnya malam itu, tepatnya sehari setelah ujian, membuat kami
kian hari semakin dekat. Hanya saja, saat itu aku sudah memiliki tambatan hati
yang telah bernaung kurang lebih hampir satu tahun. Tapi, keinginannya untuk
lebih dekat denganku tak kunjung padam. Hingga suatu ketika, ruang hatiku
mendadak kosong karena ditinggalkan oleh seseorang yang sudah ku jaga
sebelumnya. Bukan hanya sakit hati, rasa sedih dan terkejut yang melilitku. Dan
yang aku ingat, dia masih bersamaku.
Bagai
sakit yang bertemu dengan obatnya, perlahan, dia menyembuhkan rasa sakitku.
Semakin lama aku aku semakin jatuh cinta padanya. Dia sosok yang baik, sosok
yang lebih dewasa dariku meski lebih muda dariku beberapa bulan. Dan akhirnya,
kami memiliki hubungan istimewa beralas cinta dan bertudung bahagia.
Hampir
5 tahun hubungan ini berjalan. Suka maupun duka kami lewati bersama tanpa
eluhan. Bahkan, kami sudah merencanakan masa depan dengan cukup matang. Karena
keluarga pun sudah sama-sama memahami dan merestui hubungan yang sudah berlarut
lama ini.
Namun,
semuanya berakhir karena tiba-tiba dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan
karena dia akan menikah dengan seorang gadis lain.
Hancur.
Bagai diterpa badai, semuanya lenyap. Kecewa yang sungguh luar biasa melilitku.
Rasa sakit yang mendalam setiap saat menghantui. Aku masih tidak begitu
mengerti. Bagaimana bisa semudah itu dia berpaling? Semudah itukah? Lalu,
bagaimana dengan perasaanku?
Sumpah
janjinya masih pekat kuingat. Janjinya untuk selalu membuatku bahagia, janjinya
agar air mataku tak jatuh karenanya, bahkan janji untuk terus hidup berdampingan
sampai ajal menjemput. Itu semua palsu. Hanya sayatan luka dan beberapa
kenangan lama yang dia tinggalkan bersamaku. Dan parasnya masih membayangiku.
Bagai
memberi cuka pada luka. Setiap kali aku mengingatnya, melihatnya berkeliaran di
semua akun media sosialnya, dadaku terasa sesak. Tak kunjung habis air mataku
mengenangnya. Kekecewaanku pun tak kunjung habis walau dia berulangkali meminta
maaf. Hingga akhirnya, dia lenyap. Termasuk aku, yang berusaha melenyapkannya.
Satu
tahun setelah pernikahannya, tiba-tiba dia mucul. Dengan alasan yang sama, dia
kembali. Dia datang dengan membawa lagi harapan dan beribu maaf untukku. Aku,
yang sudah hampir lupa akan semua hal tentangnya, kembali terpojok oleh semua
janji manis dan harapan barunya. Lalu apa yang bisa ku perbuat?
"Aku
ingin melupakanmu. Terimakasih sudah pernah datang dan mendampingiku selama
beberapa waktu ..."
Terlalu
sakit untuk memulai kembali. Terlalu kecewa untuk mengulang. Aku lelah. Aku
sudah lelah untuk sakit. Aku lelah untuk terus berusaha membohongi hati akan
rasa kecewaku karenamu. Dan aku, lelah untuk bersabar akan semua perilakumu di
masa lalu. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang belum
sempat dimulai ini. Karena aku tahu, Tuhan sudah menunjukkan, betapa buruknya
dia untukku dan akan ada lagi yang lebih baik untukku.
Sabtu, 29 Oktober 2016.
Aku, wanita yang pernah
mengikat janji.

No comments:
Post a Comment