Kau, tak pernah peduli
terhadapku ...
Kau, tak pernah tau akan
apa tingkah lakuku, apa yang sedang terjadi padaku dan apa yang menjadi sesalku
...
Kau, terlalu sibuk dengan
dunia fanamu, dengan khayalanmu, dengan keegoisanmu ...
Bahkan, kau tak pernah
merindu ...
Bukan suatu kesalahan
jika aku memojokkanmu karena alasan-alasan yang memang masuk akal itu ...
Mungkin, daripada harus
bergelut dan beradu mulut denganmu, hendaknya aku memilih untuk berlalu ...
Darimu ...
Kau, tak pernah mengerti
tentangku, sedikitpun ...
Aku, selalu ada, selalu
memahamimu ...
Tapi nyatanya, darimu,
semua berbanding terbalik dan menjadi tabu ...
Hidupku denganmu seperti
mayat hidup yang tak tahu malu ...
Memang hidup dalam sendu,
tahu makan, tahu berjalan, tapi tak tahu arah, tujuan bahkan menjadi jemu ...
Tak ada perhatian,
pengertian bahkan kau tak pernah ada saat semuanya menjadi semua ..
Dimana kau disaat aku
butuh untuk jalan ceritaku?
Disaat aku rindu?
Bahkan, saat aku ingin
mendengar lantunan melodi dari bibirmu atau hanya sekedar mendengar suaramu
menyapaku, kau tak mau ...
Naif, itu watakmu ...
Hidupmu, penuh dengan
egomu ...
Mungkin memang seharusnya
aku pergi, berlalu dari hidupmu ...
Atau mungkin kau, yang
harus pergi dan berlalu dari hidupku ...
Keputusan itu lebih baik
daripada kita yang sama-sama menjadi benalu ...
Sama-sama menjadi beban
sedari dulu ...
Karena kita, sama-sama
berasal dari masa lalu ...
Rasaku, tak lagi menggebu
seperti dulu ...
Dan itu semua karenamu
...
Karena sikapmu ...
Karena sifatmu yang tak
pernah bisa kau ganti tanpa ada maumu ...
Ulat saja mampu,
bermetamorfosis menjadi kupu-kupu ...
Dia berusaha dengan tulus
menunggu, dia sabar dengan semua perubahan itu ...
Tapi tidak bagimu ...
Hampir mati rasanya jika
aku harus terus mengingatkanmu, memperingatkanmu ...
Hingga, aku sudah tak
bisa merasa rindu ...
Bahkan, hatiku sudah mati
rasa terhadapmu ...
Minggu, 30 Oktober 2016.
Sepenggal Prosa : Aku,
yang sudah mati rasa terhadapmu.

No comments:
Post a Comment