Saturday, 22 October 2016

Short Story : I'm Sorry.







Kebebasan itu pilihan. Aku tidak pernah suka untuk dikekang. Karena, sedari kecil pun, kedua orangtuaku selalu membiarkanku berkutat dengan dunia dan kesenanganku sendiri. Aku memang tak manja, tapi aku selalu meminta dan meminta. Meminta hal apapun untuk memenuhi egoku. Aku menjadi sosok laki-laki yang buruk, yang tak pernah peduli dengan kehidupan orangtuaku. Semua itu bertambah parah saat aku menginjak bangku perkuliahan. Rokok bukanlah suatu hal besar yang harus dipermasalahkan, justru konsumsi alkohol menjadi kebiasaanku. Clubbing, itu keseharianku. Tak ada satupun wanita di club malam yang tidak mengenal dan tidak terlewat untuk menghabiskan malam denganku. Tak ada yang menentap. Aku tak suka mereka. Aku tak percaya cinta. Cinta itu memuakkan. Yang aku miliki hanya teman yang dapat dipercaya dan selalu peduli. Pada akhirnya, aku sibuk berpindah, menumpang di apartemen atau kos teman-temanku. Sampai-sampai aku lupa, kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah. Hingga akhirnya, aku mendapat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal saat aku sedang berada di salah satu kos teman nongkrongku di salah satu club malam.
"Hallo, Kak Bri, sekarang dimana?" Tanyanya diujung sambungan. Suaranya tak asing. Ya, namaku Brian Pranata Atmojoyo.
"Lagi di kos Evan. Ini siapa?" Aku balik bertanya.
"Gendis, sepupumu .." Jawabnya diujung sambungan. Sudah sangat lama. Aku ingat. Aku punya sepupu perempuan yang seumuran denganku. Dia anak dari Om Suryo, anak terakhir dalam keluarga Ibuku. Dengannya dulu, aku pernah sedekat nadi. Seperti sepasang kekasih, kemanapun selalu berdampingan. Sedari lahir, kami sudah ditakdirkan untuk terus menempel dan berjalan beriringan. Dan semuanya berubah semenjak aku duduk di bangku perkuliahan. Kini, aku dan dia sejauh matahari dan bumi. Bahkan, nomornya saja aku tidak punya.
"Oh, ya. Ada apa, Ndis?"
"Om Atmo, Kak ..." Kalimantnya menggantung.
"Ayah? A .. Ayah kenapa?" Aku bingung, gelisah. Aku rasa sesuatu yang buruk terjadi. Aku mendengar isakan dari ujung sambungan.
"Gendis ! Ayahku kenapa?" Teriakku. Sontak Evan menatapku penuh tanda tanya.
"Rumah Kakak di rampok, dan ..." Seketika itu, aku mematung. Apa? Dirampok?
"Dan Om Atmo jadi korban ...” Ayah jadi korban? Ayah ... Lalu, Ibu? Gabby?
"Ndis, Ibu gimana? Gabby?" Tanyaku lagi. Tuhan, apa yang sedang terjadi?
"Kak, tolong. Sekarang Kakak ke IGD rumah sakit Citra Harapan. Semua orang lagi nungguin. Terutama Tante ..." Tanpa pikir panjang, aku memutuskan sambungan, menyambar kunci mobil dan berjalan ke arah pintu.
"Bri, elo mau kemana?" Teriak Evan. Aku berlalu begitu saja tanpa mempedulikan pertanyaan Evan dan bergegas menuju rumah sakit.

***

Satu bulan setelah kejadian di hari itu berlalu, akhirnya aku berkumpul lagi dengan keluargaku, tanpa Ayah. Rumah dan seisinya disita karena Ayah belum sempat melunasi hutang-hutangnya dan Ibu tidak mungkin sanggup membayar uang sebanyak itu dalam setiap bulannya. Aku memang anak yang tidak tau diuntung. Aku, yang selama ini hanya tau bagaimana mudahnya orangtuaku memberikan uang, tak pernah tau tentang hutang yang melilit Ayah. Dan, belum sempat semua hutang itu lunas, Ayah dirampok dan meninggal di IGD malam itu juga karena timah panas yang menembus jantungnya. Kini, aku, Ibu dan Gabby tinggal di sebuah kontrakan yang tak cukup luas. Ibu menolak semua bantuan dari semua anggota keluarganya, termasuk Ayah Gendis. Akupun berpikiran sama. Tak berhak jika aku menerima uang itu. Karena, semakin mereka memberi, justru kami yang akan semakin terbebani. Kini, aku memutuskan untuk kembali memulai perkuliahan dengan sungguh-sunggu dan harapan yang baik. Aku juga kerja paruh waktu di café and cake. Tempatnya lumayan ramai, letaknya pun strategis, lebih jelasnya juga berada di dekat rumahku. Café and cake ini memiliki desain kafé di bagian depan dan balkonnya. Sedangkan bagian dalam berjajar rak berisi kue-kue.
"Selamat datang ..." Sapaku setelah mendengar lonceng yang berdenting karena pintu yang didorong masuk. Seorang gadis mengenakan turtle neck sweater berwarna merah marun, celana jeans sobek-sobek model baggy dan convers high merah dengan rambut tergerai sebahu masuk ke dalam. Selera fasionnya sempurna untuk seorang cewek kekinian. Kini, dia berdiri di depanku. Kami terhalang oleh rak yang berisi jajaran pudding dan cake. Dia hanya ingin membeli dan pergi. Bukan memesan sesuatu dan tinggal beberapa saat di kafe ini. Hal itu jelas tergambar dari caranya memilih. Beberapa orang yang ingin mampir ke kafé akan langsung menuju ke meja kasir dan memesan beberapa menu utama yang tertera di bagian papan menggantung di belakang meja kasir. Mataku masih tak berpaling darinya.
"Mas, tolong yang ini, ya?" Ucapnya seraya menunjuk black forest berdiameter 30cm. Dengan semangat aku menjawab.
"Iya mbak, siap. Sebentar ..."
Aku begegas memasukkannya ke dalam box cake dan membungkusnya dengan kantong plastik.
"Berapa?" Tanyanya. Wajah penasaran tersirat di wajahnya saat menatapku. Aneh.
"Seratus limapuluh ribu, mbak .." Jawabku. Aku pun juga ikut menatapnya.
"Okay. Ini ya, mas? Terimakasih ..." Lanjutnya seraya tersenyum. Baru kali ini, jantungku berdegup lebih cepat saat aku melihat seorang gadis tersenyum. Ditambah lagi, aku familiar dengan wajahnya. Ah sial, perasaan macam apa ini? Aku kan tak percaya hal-hal bodoh semacam itu? Mungkin aku lapar, makanya gemetaran.

***

Dua hari setelahnya, gadis itu datang lagi, dengan style yang berbeda. Kali ini, dengan dress selutut berwarna peach, jaket jeans yang bagian lengannya dilipat ke atas dan nike huarache triple white yang dikenakannya, membuatnya tampak terlihat lebih girly. Dia benar-benar pintar memadukan jenis fashion yang berbeda. Untuk kedua kalinya, dia membeli black forest. Mungkin dia memang menyukai kue black forest. Mungkinkah aku harus iseng bertanya? Intermiso sebelum memulai perkenalan, mungkin itu maksudku.
"Suka Black forest, mbak?" Tanyaku padanya. Dia tersenyum, kemudian menggeleng. Kami sama-sama teridam. Satu detik, dua, ti ...
"Buat Mama, bukan aku .." Lanjutnya. Entah kenapa, senyumnya mengganjal. Berat. Dia seperti menutupi sesuatu. Matanya tak menatap ke arahku. Tapi ke arah seragamku. Alisnya naik sebelah, dahinya mengerut.
"Brian? Brian yang Kakaknya Gendis?" Tanyanya seraya melihat nametag yang tergantung di saku kiriku. Bagaimana dia bisa tahu?
"Kenal sama Gendis?"
"Temen satu kelas, waktu SMA. Elu nggak ingat sama gue?"
"Bentar. Ki .. Kita kenal, kah?" Jawabku gagu. Mustahil aku lupa dengan gadis semacam itu. Gadis itu memutar bola matanya, kemudian menghela napas.
"Naya. Yang dulu sering main ke rumah Gendis. Forgot me?" Jelasnya singkat. Naya? Kanaya Octaviana? Gadis berkacamata, kutu buku, cubby dan low profile itu? Aku sedang bermimpi atau aku memang salah dengar?
"Se ... serius?" Jawabku terbata. Aku masih tidak percaya. 
"Serius. Nggak percaya banget deh ..." Guraunya. Aku manggut-manggut mengiyakan.
"Percaya kok .." Jawabku cengengesan.
"Gitu dong ... Okay, gue balik dulu ya? Keburu sore nih ..." Pamitnya. Ah sial, aku masih ingin mengobrol lebih lama dengannya. Tapi, apa boleh buat?
"Iya .. Jangan kapok kesini, pasti aku layani sepenuh hati ..." Gurauku. Dia hanya tersenyum seraya mengangguk. Diapun meninggalkan tempat ini dan berlalu. Sial. Sial. Sial. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa aku tak minta id line atau kontaknya? Sial. Tapi mungkin, Gendis bisa membantuku. Lagipula, ini sudah jam istirahatku.
Tanpa pikir panjang, aku menelpon Gendis.
"Halo, Ndis .. Lagi sibuk nggak?"
"Nggak sih, ada apaan? Tumben ..." Jawabnya dengan nada lemas.
"Baru bangun?"
"Tau aja, Kak ..." Jawabnya disusul tawa.
"Dasar kebo, mentang-mentang libur kuliah, molor mulu ..."
"Udah to the point aja, ada apaan?" Tepat sasaran. Tanpa menggubris topik sebelumnya, dia langsung beralih.
"Masih kontak sama Naya?"
"Naya 'Kanaya'? Masih lah, orang satu fakultas juga. Dia barusan dari situ? Gimana? Makin cantik kan dia?" Tuturnya panjang. Dasar dukun, tukang baca pikiran orang.
"Elu pernah sekolah begituan ya?"
"Begituan? Maksudnya?"
"Ilmu perdukunan ..."
"Wah parah nih. Gue tutup aja kali telponnya ya?"
"Eh, jangan-jangan !"
"Udah ah bawel. Abis ini gue kirimin kontaknya Naya. Gue mau balik tidur. Nanti malam mau berangkat hiking soalnya. Prepare, biar nggak capek ..." Gila. Memang benar. Gendis pernah belajar ilmu terawangan. Semuanya tepat sasaran.
"Okay, makasih. Hati-hati adikku sayang. Muahhh ..."
"Idih, jijay ..." Jawabnya seraya memutuskan sambungan. Belum ada satu menit setelah aku menelpon Gendis, sebuah chat-line darinya masuk, dan kontak Naya sudah mendarat dengan selamat. Aku harus segera menambahkannya sebagai teman. Aku mencoba membuka tampilan kontaknya.
"Gila !" Ucapku spontan setelah melihat profil picture kontak line-nya. Gaya busana, selera fashionnya mengikuti tren anak-anak kekinian masa kini. Dia jauh lebih hebat dari gadis-gadis yang pernah ku kenal selama ini.
"Ada apaan, Bri? Siapa yang gila?" Tanya seseorang disampingku. Aku menoleh.
"Liat nih. Keren nggak?" Jawabku seraya menunjukkan foto Naya kepada Rendy, teman satu kerja -ku.
"Anjir, cantik banget ! Style juga oke. Siapa tuh?" Tanyanya. Aku tersenyum.
"Calon gebetan gue. Hahahaha ..." Rendy terkekeh.
"Untung aja gue udah punya Sasti. Kalau belum, bolehlah gue saingan sama elo ..." Guraunya. Aku tertawa.
"Udah ah, istirahat yuk. Nipis nih waktu. Udah mau abis ..."
"Sip ..." Jawabku seraya mengacungkan jempol padanya.

***

Naya. Kanaya. Ah, dia benar-benar gadis yang berbeda saat ini. Dia benar-benar jauh lebih cantik dan fashionable. Dan kalau dia satu fakultas dengan Gendis, itu artinya dia anak jurusan Kedokteran, keperawatan, farmasi atau ... Dia salah satu dari mereka. Dengan hidupku yang seperti sekarang ini, mustahil untukku menyukainya atau bersanding dengannya.
"Line !"
Sebuah notifikasi line masuk ke dalam ponselku. Jika aku tak salah lihat, ini benar dari Naya. Naya !

Naya : Wah, nyolong kontak gue darimana nih? Hehe

Ah, gurauannya membuatku malu. Aku segera membaca pesannya.

Brian : Tenang, gue nggak nyolong. Resmi kok. Dari sumber terpercaya ...

Dan, sejak chat pertamanya padaku, kami berdua semakin dekat setiap harinya. Meskipun terkadang dia tiba-tiba hilang selama dua hari tanpa ada kabar, pada akhirnya dia selalu muncul dengan beberapa kejutan, misalnya tiba-tiba datang ke kafé tanpa pemberitahuan. Tapi aku takut. Semakin aku dekat. Semakin aku menyukainya. Dan juga semakin mustahil untukku. Jadi, ini ya rasanya benar-benar jatuh cinta? Kenapa aku jatuh cinta di saat yang salah? Kenapa bukan disaat aku masih berada dalam kondisi yang baik?

***

"Enak?" Tanyaku. Naya mengangguk mengiyakan. Saat ini dia sedang duduk di depanku dengan ditemani Banana Choco buatanku. Sudah dua bulan sejak kami memiliki hubungan yang cukup dekat, bisa dibilang sangat dekat. Hari ini, aku libur kerja. Tapi, aku pergi ke kafé karena aku ingin mengobrol dengan Naya. Dia memintaku untuk membuatkannya sesuatu yang menurutku paling enak di café ini. Jadi aku memutuskan untuk mengajaknya kesini saat jadwalku sedang kosong. Terakhir kali aku jalan-jalan dengannya ke sebuah taman bermain, dia sesak dan pingsan setelah keluar dari rumah hantu karena kami sama-sama berlari ketakutan. Mungkin dia lelah.
Hari ini, Naya memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat sampai sikunya, skiny jeans sobek sobek dan hels berwarna merah mengkilat dan tas tangan berwarna hitam dari satu merk terkenal dunia. Wajahnya diberikan riasan sederhana. Tapi menurutku, dia sedikit terlihat pucat.
"Oh iya, Bri. Gue mau tanya sesuatu sih .." Dia memulai topik. Aku bergumam.
"Apaan, Nay? Mendadak serius gitu ..."
"Lah, gue emang serius kali ..." Mendengar jawabannya barusan, aku mendadak gugup. Jantungku berdegup kencang, memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh.
"Okay, let me know ..."
"Ah nggak jadi deh ..."
"Lah, elu gimana sih? Ditungguin juga ..."
"Cieee nungguin gue ..."
"Idih, apaan sih. Serius nih ..."
"Gue nggak jadi nanya aja deh ..."
"Lah terus? Kok elu muter-muter kaya ki ..."
"Gue mau ngomong, kalau gue suka sama elu ..." Potongnya. Mataku terbelalak, mulutku masih menganga. Aku mematung.
"Bri?" Tangannya melambai-lambai di depan wajahku. Aku sadar dari lamunanku.
"Ha? Se ... Serius?" Aku terbata.
"Bercanda sih ..." Lanjutnya disusur kekehan. Sejenak semangatku meluntur. 
"Lah, kenapa kusut gitu? Iya, iya. Gue serius kok ..."
"Eh, ini perasaan kali, jangan dipake mainan ..."
"Siapa sih yang mainin? Gue ngomong benernya, elu malah yang nggak yakin gitu sama ucapan gue ..." Jadi, Naya juga ....
"Sejak kapan, Nay?" Naya bergumam. 
"Sejak kita pertama ketemu sih. Waktu gue ke rumah Gendis buat ngerjain tugas kelompok dan elup pas main ke rumah Gendis ..."
"Tapi, kenapa Gendis nggak pernah ngomong?"
"Lah, Gendis itu sahabat gue. Yakali dia mau main ngomong, keran bocor dong ..." Parah. Aku benar-benar bodoh. Disukai oleh seseorang selama hampir enam tahun oleh seseorang, tapi aku tidak peenah tau dan malah sibuk dengan dunia dan kebebasanku.
"Kenapa elu baru ngomong, Nay?"
"Mau ngomong gimana, orang habis lulusan elu nggak pernah ke rumah Gendis lagi. Gimana kita ketemu? Gimana mau ngomong?" Benar. Setelah masuk dunia perkuliahan aku sudah berubah menjadi sosok yang arogan dan egois. Menyukai kesenangan duniawi.
"Maaf, Nay. Aku memang udah salah jalur dari awal. Maaf ..."
"Nggak masalah. Selama elu mau berubah, Tuhan bakalan tetep ngertiin kok. Dan yang paling penting sekarang, gue udah ngomong. Rasanya nyesek sih, suka sama orang selama itu orang itu tau. Ditambah lagi, hati secara otomatis kan nutup perasaan buat orang lain. Iya nggak?" Jelasnya santai. Seolah dia tak menginginkan jawaban dari pernyataannya. Sungguh tak masuk akal.
"Terus?" Tanyaku.
"Apanya?"
"Ya elu nggak pengen nanya gimana perasaan gue ke elu? Soalnya gue nggak merasa lagi ditembak lho ..." Gurauku. Dia terkekeh.
"Emang enggak. Gue cuman mau nyatain aja sih. Soal elu suka atau enggak, itu kan ..."
"Gue juga suka sama elu, Nay ..."
"Ha?" Naya terbengong. Kini giliran dia yang mematung.
"Ha apa? Gue seriusan. Selama gue deket sama cewek, nggak ada satupun yang bisa bikin gue seneng, ketawa dan deg-deg an kaya elu. Aku juga nggak tau sejak kapan perasaan kagum gue ke elu berubah jadi cinta. Dari dulu aku nggak pernah percaya sama yang namanya cinta-cinta an. Cinta itu hoax. Tapi, setelah semua hal yang menimpa keluarga gue, gue jadi sadar. Kalau cinta itu bisa datang dari orang terdekat sekalipun, misalnya dari ibu, Gabby ataupun Gendis. Ditambah lagi, sejak pertama ketemu lagi sama elu, perasaan gue berubah drastis. Tapi ..."
"Tapi kenapa? Kenapa lu nggak bilang dari awal?"
"As you know lah. Kehidupan gue udah jauh dari yang dulu. Sekarang gue cuman pelayan di sebuah kafé. Intinya, gue nggak pantes nyanding sama elu .."
"Bukan. Bukan elu, tapi gue. Gue yang nggak pantes sama elu. Aku bukan cewek baik, Bri .."
"Aku juga bukan cowok baik, Nay. Masa lalu gue udah kaya gitu. Apalagi yang kurang buat nyebut gue cowok brengsek? Nggak ada kan? Aku yang harusnya lebih minder dari elu ..."
"Udah, jangan ngrendah Bri. Hidup itu berputar. Daripada menyesal, lebih baik perbaiki diri. Hmm, makasih ya udah suka juga sama gue. By the way, gue balik dulu ya?" Tuturnya seraya bangun dari kursinya, kemudian berjalan menuruni tangga.
"Lah, Nay. Elu mau kemana? Nay !" Kulihat dia lari menuruni tangga. Sepertinya dia ... Menangis ...

**"

Ini sudah hampir satu bulan, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya di kafé dan sejak kami sama-sama mengakui tentang perasaan kami. Apa aku salah bicara? Sudah berulang kali aku meminta maaf atas kejadian hari itu. Tapi tak ada satupun chat-ku yang dibalas olehnya meskipun dia membacanya. Gendis pun tak luput jadi sumber informasiku. Namun hasilnya pun nihil. Hingga suatu ketika saat tidak sengaja aku membuka akun facebook-nya, salah seorang temannya menulis dalam wall-nya.

Selamat jalan, Kanaya Octaviana. Semoga amal dan ibadahmu diterima disisi-Nya. God bless you, sayang :'(

Aku mematung. Sontak ponselku jatuh. Akupun ikut terududuk di kursi. Tidak. Ini salah.
Ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Aku memungut ponselku di lantai dan menatap layar ponselku. Gendis. Jangan bilang ini semua ...
"Ha .. Halo ..."
"Kak, kak Bri ..." Ucapnya seraya terisak.
"Ndis, jangan bilang kabar yang gue lihat di facebook-nya Naya itu bener ..." Tanganku gemetar. Aku berharap ini semua tidak benar.
"Iya, kak. Semua kabar ini bener adanya ..."
"Nggak, elu lagi bercanda kan? Dia pasti marah gara-gara kejadian sebulan yang lalu kan? Karena gue kan?"
"Nggak, nggak kak. Elu nggak salah. Ini semua udah takdir Tuhan. Naya udah pulang ke sisi Tuhan. Besok, gue jemput Kakak. Kita ke rumahnya bareng-bareng buat upacara pemakaman. Yang sabar ya, Kak ..." Setelah penjelasan singkat dari Gendis, aku hanya bisa tertegun seraya menangis lirih. Kenapa? Kenapa disaat aku menemukan kebahagiaanku, orang pertama yang tulus, tapi malah direnggut? Kenapa harus?

***

Saat ini aku tengah berdiri di tengah pemakamannya bersama orang-orang yang tak pernah ku kenal. Hanya Gendis dan beberapa teman SMA-nya. Foto Naya memakai kemeja putih dengan rambut tergerai, lebih pendek dari sebelum bertemu denganku terakhir kalinya.
"Nay, aku masih belum siap. Ini terlalu mendadak ..." Ucapku lirih.
"Udah kak, ikhlas. Nanti Naya malah sedih liat Kakak kaya gini ..." Aku hanya tersenyum hambar.
"Ndis, kenapa Naya nggak pernah cerita sama gue soal penyakitnya? Dan jangan bilang, elu tahu semua masalah ini ! Iya ?!"
"Iya, Kak. Gue emang tahu semua soal Naya. Soal sakitnya, soal dia yang tiba-tiba ngilang selama satu bulan. Dia pergi ke Singapura buat transplantasi jantung. Awalnya sukses. Tapi, dua hari setelahnya ada penolakan dari tubuh Naya. Maaf kalau gue udah bohong sama Kakak. Ini semua permintaan Naya. Dan, ini dari Naya ..." Jelasnya seraya memberikan sebuah kotak bermotif garis-garis dan selembar surat. Jadi, dia sudah merencanakannya?

***

Halo, Bri ! Kalau kamu baca surat ini, tandanya aku udah nggak ada alias udah pergi. Tolong sampe in permintaan maafku ke Gendis ya? Maaf udah ngrepotin. Hehe
Maaf, karena hari itu aku lari. Aku cuma takut, cerita akan berlanjut. Aku nggak siap kalau kamu benci sama aku setelah tahu keadaanku. Aku nggak siap, kalau misal kita punya hubungan yang lebih istimewa, tiba-tiba operasiku gagal, aku bakaln nggak ada, kamu bakalan aku tinggal, sendirian dan merasa sakit karena kehilangan. Aku nggak pengen kamu merasa lebih sakit lagi. Jadi aku ngungkapin perasaan aku, tanpa ada balasan rasa dari kamu, tanpa kamu perlu melakukan sesuatu untukku pun, itu sudah lebih dari cukup. Jadi, menurutku ini keputusan terbaik. Kamu, harus hidup jauh lebih baik lagi dari sekarang dan hari kemarin. Suatu saat nanti, akan ada yang lebih baik dariku, yang bisa menemanimu sampai sisa umurmu. Maaf untuk semuanya. Terimakasih. Aku sayang padamu.


 Kanaya Octaviana 

NB : Jam tangannya jangan lupa dipakai ya? Ini kado ulang tahunmu, bulan depan. Hehe :'*

Aku hanya bisa tertunduk seraya menangis, menyesal. Kenapa aku tak pernah sadar akan sakitnya? Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tak pernah peduli padanya? Kehidupannya diluar lingkupnya denganku? Kenapa baru sekarang aku menyesali semuanya? Mungkin ini karma dari Tuhan. Karma karena kesalahanku, di masa lalu.


No comments:

Post a Comment