Aku untuk kamu, kamu
untuk aku ...
Namun semua apa mungkin,
iman kita yang berbeda ...
Tuhan memang satu, kita
yang tak sama ...
Haruskah aku lantas
pergi, meski cinta takkan bisa pergi ...
Pernah
mendengar alunan nada dengan lirik seperti itu?
Apa
kau tau apa maknanya?
Bagaimana
rasanya jika kamu berada dalam posisi, dimana kamu jatuh cinta dengan seseorang
yang berbeda keyakinan denganmu?
Semuanya
berawal kala aku pertama kali bertemu dengannya, saat sebuah acara festival
band, dimana band yang aku gandrungi menjadi salah satu peserta dari festival
tersebut. Saat itu, aku berjalan dari tempat parkir mobil, kemudian seseorang
memanggilku. Aku menoleh ke arah yang salah, bukan ke arah teman yang
memanggilku, tapi ke arahnya, laki-laki bertubuh jangkung dengan mata sipit,
hidung mancung dan bibir tipis. Dia memakai long
sleve berwarna hitam yang
dilipat sampai lengan, celana jeans yang yak begitu ketat, sepatu convers jack purcel navy dan rambut ber-pomade yang disisir rapi. Kedua lengannya
dipenuhi tato. Itu membuatnya terlihat lebih garang dan keren. Dan untuk
pertama kalinya, aku bertatapan denganya secara tak sengaja, saat dia duduk di
bawah tenda sponsor yang tak jauh dari panggung dan mengobrol dengan gitarist dari bandku.
Usai
membawakan dua lagu ciptaan band ku sendiri dan satu lagi hasil cover sebuah
band ber-genre sama, aku dan ketiga personil bandku turun dari panggung.
Seseorang yang tak asing menunggu di bawah panggung. Gitarist Bandku mengenalkannya pada semua
personil kami.
"Halo,
gue Ryan. Salam kenal semuanya ..." Ucapnya seraya menyalami kami semua.
Setiap kali bersalaman, satu persatu dari kami menyebutkan nama. Dan giliranpun
tiba kepadaku. Dan bukan hal biasa, tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat
dari biasanya. Apa aku, lapar?
"Ryan..."
Katanya. Dia tersenyum.
"Maura
..." Ucapku. Aku balas tersenyum. Kami semua, personil bandku dan Ryan
menepi, tak jauh disebelah panggung. Sepertinya, ada suatu hal penting yang
akan mereka bicarakan.
"Guys.
Semuanya udah pada kenal kan sama si Ryan? Berhubung kita semua lagi kumpul,
gue sama Bobby mau ngenalin gitarist baru band kita yang kemarin sempet gue
singgung. Dia, ya Ryan ini ..." Jelas Tyo, drummer-ku. Jadi, Ryan adalah
personil baru dari band kami? Menurutku dia sangat keren dan tentunya dia bisa
menjadi pendongkrak popularitas dari band kami. Secara fisik saja, dia terlihat
luar biasa. Belum lagi saat memainkan chord-chord saat di atas panggung.
Membayangkannya saja membuatku gugup sendiri. Setelah itu, Tyo memasukkan
kontaknya ke dalam grup chat band kami. Karena iseng dan rasa penasaranku yang
memuncak, ku putuskan untuk menambahkannya sebagai teman.
Setelah
hari itu, kami sering keluar masuk studio untuk latihan sebelum perform di atas panggung. Tidak seperti
personil bandku yang lain, entah kenapa hanya aku dan Ryan terlihat yang paling
canggung. Memang ada yang salah dengannya, atau ada yang salah denganku? Aku
juga tak mengerti. Mungkin karena kami baru sama-sama mengenal, jadi kami masih
malu untuk terlihat akrab. Tapi, semakin lama, semakin aku sering bertemu
dengannya, semakin sering aku memikirkannya. Aku tak habis pikir. Tapi apa
mungkin aku menyukainya? Apa itu yang dibilang orang "Love at the first
sight"?
Rasa
penasaranku benar-benar tak bisa ku kontrol. Akhirnya, aku berusaha membuka
alias stalking akun medsosnya.
Aku membuka beberapa foto lamanya dan entah kenapa hatiku terasa perih seperti
tersayat saat aku berhenti di sebuah fotonya bersama seorang gadis yang memakai
dress selutut berwarna pink dengan rambut tergerai panjang. Foto itu diambil
beberapa tahun yang lalu, tepatnya 3 tahun yang lalu, sepertinya saat wisuda
sekolahnya. Dia mengenakan setelan tuxedo hitam dengan dasi dan bunga mawar di
saku kirinya. Jadi, ini ya?
Sejak
hari itu, aku semakin menjadi canggung dengannya. Hampir tidak pernah aku
mengobrol dengannya saat bertatap muka dengannya. Untuk beberapa waktu, aku
mulai menghindarinya, entah saat grup chat sedang berlangsung, atau hanya
sekedar ke kafé untuk bersantai setelah latihan usai. Hingga suatu ketika, aku
mendengar kabar bahwa hubungannya telah berakhir.
Dalam
beberapa waktu, kulihat dia sangat sering meng-update status berisi cacian, atau tentang
kebencian yang tersirat dalam kalimatnya, kekecewaan, penyesalan dan kegundahan
semua ia lampiaskan dalam akun medsos-nya.
Aku ingin menghibur. Tapi aku takut. Saat ini ia sedang terpuruk. Suasana
hatinya sedang buruk. Dan yang aku bisa lakukan hanya memantaunya dari akun
medsos miliknya.
Satu
bulan berlalu sejak hubungannya berakhir dengan mantan kekasihnya. Aku tidak
terlalu ingat bagaimana obrolan kami bermula. Dan sejak obrolan pertama saat
itu, kami lebih sering mengobrol via personal
chat, bukan lagi di grup chat. Saking seringnya percakapan kami dan
banyaknya topik, aku memutuskan untuk kembali mengulik info dari akun medsos-nya. Seperti tanggal
lahirnya. Bulan depan dia berulang tahun. Kemudian alamatnya. Dia tinggal di
daerah sekitar studio dimana tempat kami sering berlatih band. Dan yang
terakhir, satu hal yang membuatku begitu terkejut dan hampir menangis. Dia
berbeda keyakinan denganku. Dia seorang Katolik.
Seharian
penuh aku tidak membalas pesan darinya. Mungkin itu membuatnya sedikit khawatir
dan bingung. Aku masih shock dengan apa yang aku lihat kemarin malam. Fakta
bahwa aku, dan dia, memiliki keyakinan yang berbeda. Lalu, kenapa aku bisa
jatuh hati kepada orang yang memiliki keyakinan berbeda denganku? Lalu dalam
hal ini, siapa yang patut disalahkan? Cinta? Keadaan? Atau Tuhan?
Hampir
mati rasanya. Disaat aku benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya, cinta
secinta-cintanya, kenapa keadaannya harus seperti ini? Aku memang salah,
tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku memutuskan untuk kembali bersikap seperti
biasa kepadanya. Dan, beberapa hari setelah itu, dia menyatakan perasaannya
terhadapku. Dari sisiku, aku tak bisa memungkiri bahwa aku mencintainya. Yang
aku pikirkan tentang masa depanku dengannya nanti. Bagaimana jika kami menikah?
Apa salah satu dari kami harus memutuskan untuk berpindah keyakinan? Namun, aku
tak mampu untuk membahas masalah ini dengannya. Dan aku hanya menjawab
"ya" karena yang aku tahu, aku begitu mencintainya. Soal lainnya, itu
urusan esok atau nanti. Dan cerita kami, terus berlanjut.
Minggu, 23 Oktober 2016.
Kita satu, meski tak
sama.

No comments:
Post a Comment