Sunday, 23 October 2016

Sepotong Memori : Kita satu, meski tak sama.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHktgmCogyP4N2BfGJ9uUhk6rF9zhDpegpMWdvR7tPH2fPeF4eM4xk94Wf2pzO4ZDKUO8RkkBHURbutzPEnzoEn3ubf4cKwncPxd5ef_fRIZKdfZPrYQ53LrN-DPYJt5hd_5B0uf9oonk/s320/1477183440098.jpg



Aku untuk kamu, kamu untuk aku ...
Namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda ...
Tuhan memang satu, kita yang tak sama ...
Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi ...

Pernah mendengar alunan nada dengan lirik seperti itu?
Apa kau tau apa maknanya?

Bagaimana rasanya jika kamu berada dalam posisi, dimana kamu jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda keyakinan denganmu?

Semuanya berawal kala aku pertama kali bertemu dengannya, saat sebuah acara festival band, dimana band yang aku gandrungi menjadi salah satu peserta dari festival tersebut. Saat itu, aku berjalan dari tempat parkir mobil, kemudian seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arah yang salah, bukan ke arah teman yang memanggilku, tapi ke arahnya, laki-laki bertubuh jangkung dengan mata sipit, hidung mancung dan bibir tipis. Dia memakai long sleve berwarna hitam yang dilipat sampai lengan, celana jeans yang yak begitu ketat, sepatu convers jack purcel navy dan rambut ber-pomade yang disisir rapi. Kedua lengannya dipenuhi tato. Itu membuatnya terlihat lebih garang dan keren. Dan untuk pertama kalinya, aku bertatapan denganya secara tak sengaja, saat dia duduk di bawah tenda sponsor yang tak jauh dari panggung dan mengobrol dengan gitarist dari bandku.

Usai membawakan dua lagu ciptaan band ku sendiri dan satu lagi hasil cover sebuah band ber-genre sama, aku dan ketiga personil bandku turun dari panggung. Seseorang yang tak asing menunggu di bawah panggung. Gitarist Bandku mengenalkannya pada semua personil kami. 
"Halo, gue Ryan. Salam kenal semuanya ..." Ucapnya seraya menyalami kami semua. Setiap kali bersalaman, satu persatu dari kami menyebutkan nama. Dan giliranpun tiba kepadaku. Dan bukan hal biasa, tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa aku, lapar?
"Ryan..." Katanya. Dia tersenyum.
"Maura ..." Ucapku. Aku balas tersenyum. Kami semua, personil bandku dan Ryan menepi, tak jauh disebelah panggung. Sepertinya, ada suatu hal penting yang akan mereka bicarakan.
"Guys. Semuanya udah pada kenal kan sama si Ryan? Berhubung kita semua lagi kumpul, gue sama Bobby mau ngenalin gitarist baru band kita yang kemarin sempet gue singgung. Dia, ya Ryan ini ..." Jelas Tyo, drummer-ku. Jadi, Ryan adalah personil baru dari band kami? Menurutku dia sangat keren dan tentunya dia bisa menjadi pendongkrak popularitas dari band kami. Secara fisik saja, dia terlihat luar biasa. Belum lagi saat memainkan chord-chord saat di atas panggung. Membayangkannya saja membuatku gugup sendiri. Setelah itu, Tyo memasukkan kontaknya ke dalam grup chat band kami. Karena iseng dan rasa penasaranku yang memuncak, ku putuskan untuk menambahkannya sebagai teman.

Setelah hari itu, kami sering keluar masuk studio untuk latihan sebelum perform di atas panggung. Tidak seperti personil bandku yang lain, entah kenapa hanya aku dan Ryan terlihat yang paling canggung. Memang ada yang salah dengannya, atau ada yang salah denganku? Aku juga tak mengerti. Mungkin karena kami baru sama-sama mengenal, jadi kami masih malu untuk terlihat akrab. Tapi, semakin lama, semakin aku sering bertemu dengannya, semakin sering aku memikirkannya. Aku tak habis pikir. Tapi apa mungkin aku menyukainya? Apa itu yang dibilang orang "Love at the first sight"?

Rasa penasaranku benar-benar tak bisa ku kontrol. Akhirnya, aku berusaha membuka alias stalking akun medsosnya. Aku membuka beberapa foto lamanya dan entah kenapa hatiku terasa perih seperti tersayat saat aku berhenti di sebuah fotonya bersama seorang gadis yang memakai dress selutut berwarna pink dengan rambut tergerai panjang. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu, tepatnya 3 tahun yang lalu, sepertinya saat wisuda sekolahnya. Dia mengenakan setelan tuxedo hitam dengan dasi dan bunga mawar di saku kirinya. Jadi, ini ya?

Sejak hari itu, aku semakin menjadi canggung dengannya. Hampir tidak pernah aku mengobrol dengannya saat bertatap muka dengannya. Untuk beberapa waktu, aku mulai menghindarinya, entah saat grup chat sedang berlangsung, atau hanya sekedar ke kafé untuk bersantai setelah latihan usai. Hingga suatu ketika, aku mendengar kabar bahwa hubungannya telah berakhir.

Dalam beberapa waktu, kulihat dia sangat sering meng-update status berisi cacian, atau tentang kebencian yang tersirat dalam kalimatnya, kekecewaan, penyesalan dan kegundahan semua ia lampiaskan dalam akun medsos-nya. Aku ingin menghibur. Tapi aku takut. Saat ini ia sedang terpuruk. Suasana hatinya sedang buruk. Dan yang aku bisa lakukan hanya memantaunya dari akun medsos miliknya.

Satu bulan berlalu sejak hubungannya berakhir dengan mantan kekasihnya. Aku tidak terlalu ingat bagaimana obrolan kami bermula. Dan sejak obrolan pertama saat itu, kami lebih sering mengobrol via personal chat, bukan lagi di grup chat. Saking seringnya percakapan kami dan banyaknya topik, aku memutuskan untuk kembali mengulik info dari akun medsos-nya. Seperti tanggal lahirnya. Bulan depan dia berulang tahun. Kemudian alamatnya. Dia tinggal di daerah sekitar studio dimana tempat kami sering berlatih band. Dan yang terakhir, satu hal yang membuatku begitu terkejut dan hampir menangis. Dia berbeda keyakinan denganku. Dia seorang Katolik.

Seharian penuh aku tidak membalas pesan darinya. Mungkin itu membuatnya sedikit khawatir dan bingung. Aku masih shock dengan apa yang aku lihat kemarin malam. Fakta bahwa aku, dan dia, memiliki keyakinan yang berbeda. Lalu, kenapa aku bisa jatuh hati kepada orang yang memiliki keyakinan berbeda denganku? Lalu dalam hal ini, siapa yang patut disalahkan? Cinta? Keadaan? Atau Tuhan?

Hampir mati rasanya. Disaat aku benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya, cinta secinta-cintanya, kenapa keadaannya harus seperti ini? Aku memang salah, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku memutuskan untuk kembali bersikap seperti biasa kepadanya. Dan, beberapa hari setelah itu, dia menyatakan perasaannya terhadapku. Dari sisiku, aku tak bisa memungkiri bahwa aku mencintainya. Yang aku pikirkan tentang masa depanku dengannya nanti. Bagaimana jika kami menikah? Apa salah satu dari kami harus memutuskan untuk berpindah keyakinan? Namun, aku tak mampu untuk membahas masalah ini dengannya. Dan aku hanya menjawab "ya" karena yang aku tahu, aku begitu mencintainya. Soal lainnya, itu urusan esok atau nanti. Dan cerita kami, terus berlanjut.


Minggu, 23 Oktober 2016.
Kita satu, meski tak sama.


No comments:

Post a Comment