Aku,
pernah jatuh cinta dengan benar. Jatuh cinta yang sebenar-benarnya, dengan
seseorang yang dulunya ingin aku jadikan seorang yang tak lebih atau tak kurang
sebagai orang yang senantiasa menjadi tempat bersandar atau sekedar berbagi
lara dan bahagia. Aku jatuh cinta pada matanya. Pada caranya menatap. Seolah,
matanya menyiratkan arti kebahagiaannya karenaku. Badannya yang tinggi dan
tegap. Aku yakin dia bisa melindungi dari bahaya macam apapun. Bibirnya yang
mungil membuatku betah menatapnya selama berjam-jam. Caranya berjalan, yang
sesekali dibuat-buat agar sepatunya berdecit saat bergesekan dengan lantai. Dan
sampai saat ini. Detik ini. Aku masih belum bisa melupakannya. Terutama mata
itu.
Aku
berharap sekali lagi. Saat kami dipertemukan lagi, dia seketika tertawa
karenaku, dengan mata sipitnya yang terlihat segaris dan hampir terpejam yang
menghiasi raut wajahnya.
Tak
banyak cerita yang tertoreh pada lembaran kosong memori lama. Hanya ada
beberapa kejadian tak disengaja yang membuat hal tak masuk akal menjadi hal
yang terkesan melambungkan hati dan pikiran. Sisanya, ada luka yang terpatri
tanpa rasa. Aku sudah mati rasa. Menitikkan air mata pun, aku tak kuasa.
Hampir
sewindu aku mengenalnya. Dan hampir sewindu juga aku menyimpan perasaan yang
memang diharamkan untuk diucapkan kesekian kalinya. Mungkin sahabatku sudah
muak dengan kisah dan khayalanku yang tak kunjung usai. Tidak heran jika mereka
memilih untuk mengataiku bodoh karena aku rela menelan mentah-mentah luka
dibalik jalannya hidup hanya untuk mencari sisi lainnya, yaitu kebahagiaanku,
karenanya. Rasa bersalah pun masih terbesit dalam benakku. Sesekali aku memaki
dalam hati akan kebodohanku menyia-nyiakan kesempatan yang pernah Tuhan berikan
padaku. Bukannya aku mengambil pilihan yang salah. Tapi, dengan pilihan itu,
aku sudah menentukan keputusanku, jalanku yang lain. Seandainya pun aku
mengulang hari itu, aku tidak yakin akan hari ini, apakah keadaanku masih sama
dan baik-baik saja seperti sekarang. Maksudku, tentang relasi diantara kami dan
rasaku yang masih terselip untuknya.
Sejak
saat itu, aku sudah tak cukup berani untuk mengusik hidupmu, walau hanya untuk
bertegur sapa dan hanya melalui beberapa media yang terhubung dengan
konektivitas aku mengetahui bagaimana keadaan dan apa yang sedang kau lakukan.
Tapi, setiap tahunnya aku harus mempersiapkan diri dan hati untuk berjabat
tangan denganmu karena acara itu. Aku takut semuanya akan terasa salah dan
tubuhku akan merespon dengan hal-hal negatif. Walau tak kurang dari dua detik,
rasanya jantungku berdegup lebih kencang dan akan jatuh menggelinding. Dan yang
hanya bisa kuperbuat hanyalah berusaha untuk tetap tenang, tanpa menunjukkan
betapa girangnya aku. Karena aku tahu, ada sepasang mata yang menatapku lebih
fokus dari lensa tercanggih sekalipun. Lebih tepatnya mengawasi. Dia, wanitamu.
Ada yang salah dengan
diriku. Entah itu berasal dari pikiranku, atau memang hatiku enggan untuk
melaju. Rasa itu tumbuh tanpa kusadari. Kian hari, semakin membesar telah
berbunga. Dan dalam waktu yang singkat, bunga itu layu seketika, sama
sepertiku.
Aku,
yang masih saja terjebak dan berharap ditarik kembali olehnya dari dalamnya
jurang kekecewaan, semakin lama justru semakin terperosok jauh ke dalam.
Jangankan menarik. Melihatku saja enggan. Tapi, entah karena isi kepalaku yang
sudah kacau atau apa, aku masih berharap dia menarikku kembali, kemudian kami
akan tertawa lepas dan bebas layaknya bulir air mata yang akhirnya menetes
setelah terbendung perih karena emosi. Namun, kenyataan berkata lain. Dia telah
berlalu. Menepisku dari ingatannya, dan menggantinya dengan paras baru yang
kukenal.
Aku,
hanya sebagian kecil dari masa lalunya. Sebuah kesalahan yang nantinya akan dia
sesali seumur hidupnya.
Kamis, 13 Oktober 2016.
Masih dengan orang yang
sama.
NB :
Maaf, akupun masih sama.
Dan aku belum mampu.

No comments:
Post a Comment