Friday, 14 October 2016

Curahan : Kesalahan yang tak mau mengaku.






Dalam setiap langkah, aku dimaki. Dalam setiap tindakan, aku dituding menyakiti. Sebenarnya aku salah apa?

Banyak yang berbicara tentangku, mengataiku, "Hei, kau terlalu polos. Jangan mau nurut sama cewek ..."
Aku hanya tersenyum, namun terkadang juga berfikir keras. Dalam benakku selalu berkata, "Apa aku memang terlalu bodoh?"

Pemikiran tentang kebodohanku, sepertinya benar. Kadang aku merenung. Aku, yang selalu mengalah dalam beradu argumen karena aku tak mau masalah yang besar akan semakin mecekikku. Aku menghindar. Aku, yang selalu menurut saat dia memintaku melakukan apapun, meskipun itu menyita dan membuang-buang waktu dan uangku, takut akan konflik yang semakin melilitku. Dulu aku memang pernah berjanji untuk selalu membuatnya bahagia, dan enggan membuatnya marah atau kecewa.

"As you wish. I'll do it for you ..."

Sayangnya, aku lupa pernah berkata seperti itu. Tapi, ini semua bukan keterpaksaan. Aku mau, karena aku ingin. Aku ingin dia terlihat bahagia. Karenaku.

Sudah tujuh tahun aku berkutat dan dicekal oleh sifatnya. Tak ada satupun yang berganti. Hanya keegoisan yang sedikit demi sedikit lenyap dan berganti dengan kata-kata manis mengiris. Bagaimana tidak? Hampir setiap waktu, usai aku mengabulkan permintaannya, tiba-tiba suasana hatinya berubah bagai api yang dituang minyak. Entah perasaanku atau memang keadaannya salah. Tapi, aku masih tak mengerti. Jadi, apa masalahnya?

Selama umurku, aku hanya mengenalnya sebagai satu wanita untuk dicintai selain sosok seorang ibu. Pernah terbesit untuk berpaling, namun aku tak bisa. Dan mungkin tak akan bisa. Egoku, benciku, tertimbun oleh rasa yang lebih sempurna untuknya. Cinta.

Aku tak pernah tahu, bagaimana pendapat orangtuanya terhadapku. Yang aku tahu, dia selalu berusaha meyakinkan mereka, tentangku. Dan sejak saat itu aku mulai  mengangkat kepalaku, mendongak, meyakinkan diri, untuk lebih mampu karena dia berjuang dengan cara yang tak kasat mata, namun hasilnya tampak.

Miris memang kalau aku berdiri menghadap ke cermin. Aku bukanlah sosok laki-laki yang berparas menarik. Aku dekil, jangkung, bermata empat dan bisa dikata low profile. Aku tidak lebih dari laki-laki bodoh jika sampai merelakan wanita berparas indah seperti dia. Perubahanku dalam kurun waktu yang cukup lama ini karena usahanya. Wanita itu, mengubahku menjadi sosok yang lebih berharga. Dari upik abu, menjadi pangeran bersepatu. Dia selalu mampu membuatku ragu jika aku mulai yakin dengan pilihanku untuk meninggalkannya. Kegiatanku yang lebih kuprioritaskan membuatnya sering merasakan kesendirian, terasingkan dan membuat emosinya meluap-luap.

Kesalahan memang berasal dariku, yang tak pernah mampu untuk berubah menjadi sosok laki-laki yang baik hingga dia jemu. Harusnya, aku tak membiarkannya menunggu. Aku hina, karena aku berusaha mengerti dirinya dengan cara yang salah. Hanya menuruti kemauannya yang menggunung, dan bukan memberinya kesan-kesan berharga di setiap detik dalam hidupnya. Jangan berpaling. Tetaplah disisiku.

Aku, yang tidak pernah mengakui kesalahanku. Dan hanya diam menunggu sampai kau jemu.



Jumat, 14 Oktober 2016

Kesalahan yang tak mau mengaku.

No comments:

Post a Comment