Dalam
setiap langkah, aku dimaki. Dalam setiap tindakan, aku dituding menyakiti.
Sebenarnya aku salah apa?
Banyak
yang berbicara tentangku, mengataiku, "Hei, kau terlalu polos. Jangan mau
nurut sama cewek ..."
Aku
hanya tersenyum, namun terkadang juga berfikir keras. Dalam benakku selalu
berkata, "Apa aku memang terlalu bodoh?"
Pemikiran
tentang kebodohanku, sepertinya benar. Kadang aku merenung. Aku, yang selalu
mengalah dalam beradu argumen karena aku tak mau masalah yang besar akan
semakin mecekikku. Aku menghindar. Aku, yang selalu menurut saat dia memintaku
melakukan apapun, meskipun itu menyita dan membuang-buang waktu dan uangku,
takut akan konflik yang semakin melilitku. Dulu aku memang pernah berjanji
untuk selalu membuatnya bahagia, dan enggan membuatnya marah atau kecewa.
"As you wish. I'll do it for you
..."
Sayangnya,
aku lupa pernah berkata seperti itu. Tapi, ini semua bukan keterpaksaan. Aku
mau, karena aku ingin. Aku ingin dia terlihat bahagia. Karenaku.
Sudah
tujuh tahun aku berkutat dan dicekal oleh sifatnya. Tak ada satupun yang
berganti. Hanya keegoisan yang sedikit demi sedikit lenyap dan berganti dengan
kata-kata manis mengiris. Bagaimana tidak? Hampir setiap waktu, usai aku
mengabulkan permintaannya, tiba-tiba suasana hatinya berubah bagai api yang
dituang minyak. Entah perasaanku atau memang keadaannya salah. Tapi, aku masih
tak mengerti. Jadi, apa masalahnya?
Selama
umurku, aku hanya mengenalnya sebagai satu wanita untuk dicintai selain sosok
seorang ibu. Pernah terbesit untuk berpaling, namun aku tak bisa. Dan mungkin
tak akan bisa. Egoku, benciku, tertimbun oleh rasa yang lebih sempurna
untuknya. Cinta.
Aku
tak pernah tahu, bagaimana pendapat orangtuanya terhadapku. Yang aku tahu, dia
selalu berusaha meyakinkan mereka, tentangku. Dan sejak saat itu aku mulai
mengangkat kepalaku, mendongak, meyakinkan diri, untuk lebih mampu karena
dia berjuang dengan cara yang tak kasat mata, namun hasilnya tampak.
Miris
memang kalau aku berdiri menghadap ke cermin. Aku bukanlah sosok laki-laki yang
berparas menarik. Aku dekil, jangkung, bermata empat dan bisa dikata low
profile. Aku tidak lebih dari laki-laki bodoh jika sampai merelakan wanita
berparas indah seperti dia. Perubahanku dalam kurun waktu yang cukup lama ini
karena usahanya. Wanita itu, mengubahku menjadi sosok yang lebih berharga. Dari
upik abu, menjadi pangeran bersepatu. Dia selalu mampu membuatku ragu jika aku
mulai yakin dengan pilihanku untuk meninggalkannya. Kegiatanku yang lebih
kuprioritaskan membuatnya sering merasakan kesendirian, terasingkan dan membuat
emosinya meluap-luap.
Kesalahan
memang berasal dariku, yang tak pernah mampu untuk berubah menjadi sosok
laki-laki yang baik hingga dia jemu. Harusnya, aku tak membiarkannya menunggu.
Aku hina, karena aku berusaha mengerti dirinya dengan cara yang salah. Hanya
menuruti kemauannya yang menggunung, dan bukan memberinya kesan-kesan berharga
di setiap detik dalam hidupnya. Jangan berpaling. Tetaplah disisiku.
Aku,
yang tidak pernah mengakui kesalahanku. Dan hanya diam menunggu sampai kau
jemu.
Jumat, 14 Oktober 2016
Kesalahan yang tak mau
mengaku.

No comments:
Post a Comment