
Kebebasan
itu pilihan. Aku tidak pernah suka untuk dikekang. Karena, sedari kecil pun,
kedua orangtuaku selalu membiarkanku berkutat dengan dunia dan kesenanganku
sendiri. Aku memang tak manja, tapi aku selalu meminta dan meminta. Meminta hal
apapun untuk memenuhi egoku. Aku menjadi sosok laki-laki yang buruk, yang tak
pernah peduli dengan kehidupan orangtuaku. Semua itu bertambah parah saat aku
menginjak bangku perkuliahan. Rokok bukanlah suatu hal besar yang harus
dipermasalahkan, justru konsumsi alkohol menjadi kebiasaanku. Clubbing, itu keseharianku. Tak
ada satupun wanita di club malam yang tidak mengenal dan tidak
terlewat untuk menghabiskan malam denganku. Tak ada yang menentap. Aku tak suka
mereka. Aku tak percaya cinta. Cinta itu memuakkan. Yang aku miliki hanya teman
yang dapat dipercaya dan selalu peduli. Pada akhirnya, aku sibuk berpindah,
menumpang di apartemen atau kos teman-temanku. Sampai-sampai aku lupa, kapan
terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah. Hingga akhirnya, aku mendapat
sebuah panggilan dari nomor tak dikenal saat aku sedang berada di salah satu
kos teman nongkrongku di salah satu club malam.
"Hallo,
Kak Bri, sekarang dimana?" Tanyanya diujung sambungan. Suaranya tak asing.
Ya, namaku Brian Pranata Atmojoyo.
"Lagi
di kos Evan. Ini siapa?" Aku balik bertanya.
"Gendis,
sepupumu .." Jawabnya diujung sambungan. Sudah sangat lama. Aku ingat. Aku
punya sepupu perempuan yang seumuran denganku. Dia anak dari Om Suryo, anak
terakhir dalam keluarga Ibuku. Dengannya dulu, aku pernah sedekat nadi. Seperti
sepasang kekasih, kemanapun selalu berdampingan. Sedari lahir, kami sudah
ditakdirkan untuk terus menempel dan berjalan beriringan. Dan semuanya berubah
semenjak aku duduk di bangku perkuliahan. Kini, aku dan dia sejauh matahari dan
bumi. Bahkan, nomornya saja aku tidak punya.
"Oh,
ya. Ada apa, Ndis?"
"Om
Atmo, Kak ..." Kalimantnya menggantung.
"Ayah?
A .. Ayah kenapa?" Aku bingung, gelisah. Aku rasa sesuatu yang buruk
terjadi. Aku mendengar isakan dari ujung sambungan.
"Gendis
! Ayahku kenapa?" Teriakku. Sontak Evan menatapku penuh tanda tanya.
"Rumah
Kakak di rampok, dan ..." Seketika itu, aku mematung. Apa? Dirampok?
"Dan
Om Atmo jadi korban ...” Ayah jadi korban? Ayah ... Lalu, Ibu? Gabby?
"Ndis,
Ibu gimana? Gabby?" Tanyaku lagi. Tuhan, apa yang sedang terjadi?
"Kak,
tolong. Sekarang Kakak ke IGD rumah sakit Citra Harapan. Semua orang lagi
nungguin. Terutama Tante ..." Tanpa pikir panjang, aku memutuskan
sambungan, menyambar kunci mobil dan berjalan ke arah pintu.
"Bri,
elo mau kemana?" Teriak Evan. Aku berlalu begitu saja tanpa mempedulikan
pertanyaan Evan dan bergegas menuju rumah sakit.
***
Satu
bulan setelah kejadian di hari itu berlalu, akhirnya aku berkumpul lagi dengan
keluargaku, tanpa Ayah. Rumah dan seisinya disita karena Ayah belum sempat
melunasi hutang-hutangnya dan Ibu tidak mungkin sanggup membayar uang sebanyak
itu dalam setiap bulannya. Aku memang anak yang tidak tau diuntung. Aku, yang
selama ini hanya tau bagaimana mudahnya orangtuaku memberikan uang, tak pernah
tau tentang hutang yang melilit Ayah. Dan, belum sempat semua hutang itu lunas,
Ayah dirampok dan meninggal di IGD malam itu juga karena timah panas yang
menembus jantungnya. Kini, aku, Ibu dan Gabby tinggal di sebuah kontrakan yang
tak cukup luas. Ibu menolak semua bantuan dari semua anggota keluarganya,
termasuk Ayah Gendis. Akupun berpikiran sama. Tak berhak jika aku menerima uang
itu. Karena, semakin mereka memberi, justru kami yang akan semakin terbebani.
Kini, aku memutuskan untuk kembali memulai perkuliahan dengan sungguh-sunggu
dan harapan yang baik. Aku juga kerja paruh waktu di café and cake. Tempatnya
lumayan ramai, letaknya pun strategis, lebih jelasnya juga berada di dekat
rumahku. Café and cake ini memiliki desain kafé di bagian
depan dan balkonnya. Sedangkan bagian dalam berjajar rak berisi kue-kue.
"Selamat
datang ..." Sapaku setelah mendengar lonceng yang berdenting karena pintu
yang didorong masuk. Seorang gadis mengenakan turtle
neck sweater berwarna merah
marun, celana jeans sobek-sobek model baggy dan convers
high merah dengan rambut
tergerai sebahu masuk ke dalam. Selera fasionnya sempurna untuk seorang cewek
kekinian. Kini, dia berdiri di depanku. Kami terhalang oleh rak yang berisi
jajaran pudding dan cake.
Dia hanya ingin membeli dan pergi. Bukan memesan sesuatu dan tinggal beberapa
saat di kafe ini. Hal itu jelas tergambar dari caranya memilih. Beberapa
orang yang ingin mampir ke kafé akan langsung menuju ke meja kasir dan memesan
beberapa menu utama yang tertera di bagian papan menggantung di belakang meja
kasir. Mataku masih tak berpaling darinya.
"Mas,
tolong yang ini, ya?" Ucapnya seraya menunjuk black forest berdiameter 30cm. Dengan semangat aku
menjawab.
"Iya
mbak, siap. Sebentar ..."
Aku begegas memasukkannya
ke dalam box cake dan membungkusnya dengan kantong
plastik.
"Berapa?"
Tanyanya. Wajah penasaran tersirat di wajahnya saat menatapku. Aneh.
"Seratus
limapuluh ribu, mbak .." Jawabku. Aku pun juga ikut menatapnya.
"Okay.
Ini ya, mas? Terimakasih ..." Lanjutnya seraya tersenyum. Baru kali ini,
jantungku berdegup lebih cepat saat aku melihat seorang gadis tersenyum.
Ditambah lagi, aku familiar dengan wajahnya. Ah sial, perasaan macam apa ini?
Aku kan tak percaya hal-hal bodoh semacam itu? Mungkin aku lapar, makanya
gemetaran.
***
Dua
hari setelahnya, gadis itu datang lagi, dengan style yang berbeda. Kali ini, dengan dress selutut berwarna peach, jaket jeans yang bagian lengannya dilipat ke atas
dan nike huarache triple white yang dikenakannya, membuatnya tampak
terlihat lebih girly. Dia
benar-benar pintar memadukan jenis fashion yang berbeda. Untuk kedua kalinya, dia
membeli black forest.
Mungkin dia memang menyukai kue black
forest. Mungkinkah aku harus iseng bertanya? Intermiso sebelum memulai
perkenalan, mungkin itu maksudku.
"Suka Black forest, mbak?"
Tanyaku padanya. Dia tersenyum, kemudian menggeleng. Kami sama-sama teridam.
Satu detik, dua, ti ...
"Buat
Mama, bukan aku .." Lanjutnya. Entah kenapa, senyumnya mengganjal. Berat.
Dia seperti menutupi sesuatu. Matanya tak menatap ke arahku. Tapi ke arah
seragamku. Alisnya naik sebelah, dahinya mengerut.
"Brian?
Brian yang Kakaknya Gendis?" Tanyanya seraya melihat nametag yang
tergantung di saku kiriku. Bagaimana dia bisa tahu?
"Kenal
sama Gendis?"
"Temen
satu kelas, waktu SMA. Elu nggak ingat sama gue?"
"Bentar.
Ki .. Kita kenal, kah?" Jawabku gagu. Mustahil aku lupa dengan gadis
semacam itu. Gadis itu memutar bola matanya, kemudian menghela napas.
"Naya.
Yang dulu sering main ke rumah Gendis. Forgot
me?" Jelasnya singkat. Naya? Kanaya Octaviana? Gadis berkacamata, kutu
buku, cubby dan low profile itu? Aku sedang bermimpi atau aku
memang salah dengar?
"Se
... serius?" Jawabku terbata. Aku masih tidak percaya.
"Serius.
Nggak percaya banget deh ..." Guraunya. Aku manggut-manggut mengiyakan.
"Percaya
kok .." Jawabku cengengesan.
"Gitu
dong ... Okay, gue balik dulu ya? Keburu sore nih ..." Pamitnya. Ah sial,
aku masih ingin mengobrol lebih lama dengannya. Tapi, apa boleh buat?
"Iya
.. Jangan kapok kesini, pasti aku layani sepenuh hati ..." Gurauku. Dia
hanya tersenyum seraya mengangguk. Diapun meninggalkan tempat ini dan berlalu.
Sial. Sial. Sial. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa aku tak minta id line atau kontaknya? Sial. Tapi mungkin,
Gendis bisa membantuku. Lagipula, ini sudah jam istirahatku.
Tanpa pikir panjang, aku
menelpon Gendis.
"Halo,
Ndis .. Lagi sibuk nggak?"
"Nggak
sih, ada apaan? Tumben ..." Jawabnya dengan nada lemas.
"Baru
bangun?"
"Tau
aja, Kak ..." Jawabnya disusul tawa.
"Dasar
kebo, mentang-mentang libur kuliah, molor mulu ..."
"Udah
to the point aja, ada apaan?" Tepat sasaran. Tanpa menggubris topik
sebelumnya, dia langsung beralih.
"Masih
kontak sama Naya?"
"Naya
'Kanaya'? Masih lah, orang satu fakultas juga. Dia barusan dari situ? Gimana?
Makin cantik kan dia?" Tuturnya panjang. Dasar dukun, tukang baca pikiran
orang.
"Elu
pernah sekolah begituan ya?"
"Begituan?
Maksudnya?"
"Ilmu
perdukunan ..."
"Wah
parah nih. Gue tutup aja kali telponnya ya?"
"Eh,
jangan-jangan !"
"Udah
ah bawel. Abis ini gue kirimin kontaknya Naya. Gue mau balik tidur. Nanti malam
mau berangkat hiking soalnya. Prepare, biar nggak capek ..." Gila. Memang
benar. Gendis pernah belajar ilmu terawangan. Semuanya tepat sasaran.
"Okay,
makasih. Hati-hati adikku sayang. Muahhh ..."
"Idih,
jijay ..." Jawabnya seraya memutuskan sambungan. Belum ada satu menit
setelah aku menelpon Gendis, sebuah chat-line darinya masuk, dan kontak Naya
sudah mendarat dengan selamat. Aku harus segera menambahkannya sebagai teman.
Aku mencoba membuka tampilan kontaknya.
"Gila
!" Ucapku spontan setelah melihat profil picture kontak line-nya. Gaya busana, selera
fashionnya mengikuti tren anak-anak kekinian masa kini. Dia jauh lebih hebat
dari gadis-gadis yang pernah ku kenal selama ini.
"Ada
apaan, Bri? Siapa yang gila?" Tanya seseorang disampingku. Aku menoleh.
"Liat
nih. Keren nggak?" Jawabku seraya menunjukkan foto Naya kepada Rendy,
teman satu kerja -ku.
"Anjir,
cantik banget ! Style juga oke. Siapa tuh?" Tanyanya. Aku tersenyum.
"Calon
gebetan gue. Hahahaha ..." Rendy terkekeh.
"Untung
aja gue udah punya Sasti. Kalau belum, bolehlah gue saingan sama elo ..."
Guraunya. Aku tertawa.
"Udah
ah, istirahat yuk. Nipis nih waktu. Udah mau abis ..."
"Sip
..." Jawabku seraya mengacungkan jempol padanya.
***
Naya.
Kanaya. Ah, dia benar-benar gadis yang berbeda saat ini. Dia benar-benar jauh
lebih cantik dan fashionable.
Dan kalau dia satu fakultas dengan Gendis, itu artinya dia anak jurusan
Kedokteran, keperawatan, farmasi atau ... Dia salah satu dari mereka. Dengan
hidupku yang seperti sekarang ini, mustahil untukku menyukainya atau bersanding
dengannya.
"Line !"
Sebuah
notifikasi line masuk
ke dalam ponselku. Jika aku tak salah lihat, ini benar dari Naya. Naya !
Naya
: Wah, nyolong kontak gue darimana nih? Hehe
Ah,
gurauannya membuatku malu. Aku segera membaca pesannya.
Brian
: Tenang, gue nggak nyolong. Resmi kok. Dari sumber terpercaya ...
Dan,
sejak chat pertamanya padaku, kami berdua semakin dekat setiap harinya.
Meskipun terkadang dia tiba-tiba hilang selama dua hari tanpa ada kabar, pada
akhirnya dia selalu muncul dengan beberapa kejutan, misalnya tiba-tiba datang
ke kafé tanpa pemberitahuan. Tapi aku takut. Semakin aku dekat. Semakin aku
menyukainya. Dan juga semakin mustahil untukku. Jadi, ini ya rasanya
benar-benar jatuh cinta? Kenapa aku jatuh cinta di saat yang salah? Kenapa
bukan disaat aku masih berada dalam kondisi yang baik?
***
"Enak?"
Tanyaku. Naya mengangguk mengiyakan. Saat ini dia sedang duduk di depanku
dengan ditemani Banana Choco buatanku. Sudah dua bulan sejak kami
memiliki hubungan yang cukup dekat, bisa dibilang sangat dekat. Hari ini, aku
libur kerja. Tapi, aku pergi ke kafé karena aku ingin mengobrol dengan Naya.
Dia memintaku untuk membuatkannya sesuatu yang menurutku paling enak di café
ini. Jadi aku memutuskan untuk mengajaknya kesini saat jadwalku sedang kosong.
Terakhir kali aku jalan-jalan dengannya ke sebuah taman bermain, dia sesak dan
pingsan setelah keluar dari rumah hantu karena kami sama-sama berlari
ketakutan. Mungkin dia lelah.
Hari
ini, Naya memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat sampai sikunya, skiny jeans sobek sobek dan hels berwarna merah mengkilat dan tas
tangan berwarna hitam dari satu merk terkenal dunia. Wajahnya diberikan riasan
sederhana. Tapi menurutku, dia sedikit terlihat pucat.
"Oh
iya, Bri. Gue mau tanya sesuatu sih .." Dia memulai topik. Aku bergumam.
"Apaan,
Nay? Mendadak serius gitu ..."
"Lah,
gue emang serius kali ..." Mendengar jawabannya barusan, aku mendadak
gugup. Jantungku berdegup kencang, memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh.
"Okay, let me know ..."
"Ah
nggak jadi deh ..."
"Lah,
elu gimana sih? Ditungguin juga ..."
"Cieee
nungguin gue ..."
"Idih,
apaan sih. Serius nih ..."
"Gue
nggak jadi nanya aja deh ..."
"Lah
terus? Kok elu muter-muter kaya ki ..."
"Gue
mau ngomong, kalau gue suka sama elu ..." Potongnya. Mataku terbelalak,
mulutku masih menganga. Aku mematung.
"Bri?"
Tangannya melambai-lambai di depan wajahku. Aku sadar dari lamunanku.
"Ha?
Se ... Serius?" Aku terbata.
"Bercanda
sih ..." Lanjutnya disusur kekehan. Sejenak semangatku meluntur.
"Lah,
kenapa kusut gitu? Iya, iya. Gue serius kok ..."
"Eh,
ini perasaan kali, jangan dipake mainan ..."
"Siapa
sih yang mainin? Gue ngomong benernya, elu malah yang nggak yakin gitu sama
ucapan gue ..." Jadi, Naya juga ....
"Sejak
kapan, Nay?" Naya bergumam.
"Sejak
kita pertama ketemu sih. Waktu gue ke rumah Gendis buat ngerjain tugas kelompok
dan elup pas main ke rumah Gendis ..."
"Tapi,
kenapa Gendis nggak pernah ngomong?"
"Lah,
Gendis itu sahabat gue. Yakali dia mau main ngomong, keran bocor dong ..."
Parah. Aku benar-benar bodoh. Disukai oleh seseorang selama hampir enam tahun
oleh seseorang, tapi aku tidak peenah tau dan malah sibuk dengan dunia dan
kebebasanku.
"Kenapa
elu baru ngomong, Nay?"
"Mau
ngomong gimana, orang habis lulusan elu nggak pernah ke rumah Gendis lagi.
Gimana kita ketemu? Gimana mau ngomong?" Benar. Setelah masuk dunia
perkuliahan aku sudah berubah menjadi sosok yang arogan dan egois. Menyukai
kesenangan duniawi.
"Maaf,
Nay. Aku memang udah salah jalur dari awal. Maaf ..."
"Nggak
masalah. Selama elu mau berubah, Tuhan bakalan tetep ngertiin kok. Dan yang
paling penting sekarang, gue udah ngomong. Rasanya nyesek sih, suka sama orang
selama itu orang itu tau. Ditambah lagi, hati secara otomatis kan nutup
perasaan buat orang lain. Iya nggak?" Jelasnya santai. Seolah dia tak
menginginkan jawaban dari pernyataannya. Sungguh tak masuk akal.
"Terus?"
Tanyaku.
"Apanya?"
"Ya
elu nggak pengen nanya gimana perasaan gue ke elu? Soalnya gue nggak merasa
lagi ditembak lho ..." Gurauku. Dia terkekeh.
"Emang
enggak. Gue cuman mau nyatain aja sih. Soal elu suka atau enggak, itu kan
..."
"Gue
juga suka sama elu, Nay ..."
"Ha?"
Naya terbengong. Kini giliran dia yang mematung.
"Ha
apa? Gue seriusan. Selama gue deket sama cewek, nggak ada satupun yang bisa
bikin gue seneng, ketawa dan deg-deg an kaya elu. Aku juga nggak tau sejak
kapan perasaan kagum gue ke elu berubah jadi cinta. Dari dulu aku nggak pernah
percaya sama yang namanya cinta-cinta an. Cinta itu hoax. Tapi, setelah semua hal
yang menimpa keluarga gue, gue jadi sadar. Kalau cinta itu bisa datang dari
orang terdekat sekalipun, misalnya dari ibu, Gabby ataupun Gendis. Ditambah
lagi, sejak pertama ketemu lagi sama elu, perasaan gue berubah drastis. Tapi
..."
"Tapi
kenapa? Kenapa lu nggak bilang dari awal?"
"As
you know lah. Kehidupan gue
udah jauh dari yang dulu. Sekarang gue cuman pelayan di sebuah kafé. Intinya,
gue nggak pantes nyanding sama elu .."
"Bukan.
Bukan elu, tapi gue. Gue yang nggak pantes sama elu. Aku bukan cewek baik, Bri
.."
"Aku
juga bukan cowok baik, Nay. Masa lalu gue udah kaya gitu. Apalagi yang kurang
buat nyebut gue cowok brengsek? Nggak ada kan? Aku yang harusnya lebih minder
dari elu ..."
"Udah,
jangan ngrendah Bri. Hidup itu berputar. Daripada menyesal, lebih baik perbaiki
diri. Hmm, makasih ya udah suka juga sama gue. By the way, gue balik dulu
ya?" Tuturnya seraya bangun dari kursinya, kemudian berjalan menuruni
tangga.
"Lah,
Nay. Elu mau kemana? Nay !" Kulihat dia lari menuruni tangga. Sepertinya
dia ... Menangis ...
**"
Ini
sudah hampir satu bulan, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya di kafé dan
sejak kami sama-sama mengakui tentang perasaan kami. Apa aku salah bicara?
Sudah berulang kali aku meminta maaf atas kejadian hari itu. Tapi tak ada
satupun chat-ku yang dibalas olehnya meskipun dia membacanya. Gendis pun tak
luput jadi sumber informasiku. Namun hasilnya pun nihil. Hingga suatu ketika
saat tidak sengaja aku membuka akun facebook-nya,
salah seorang temannya menulis dalam wall-nya.
Selamat
jalan, Kanaya Octaviana. Semoga amal dan ibadahmu diterima disisi-Nya. God bless you, sayang :'(
Aku
mematung. Sontak ponselku jatuh. Akupun ikut terududuk di kursi. Tidak. Ini
salah.
Ponselku
berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Aku memungut ponselku di lantai dan menatap
layar ponselku. Gendis. Jangan bilang ini semua ...
"Ha
.. Halo ..."
"Kak,
kak Bri ..." Ucapnya seraya terisak.
"Ndis,
jangan bilang kabar yang gue lihat di facebook-nya
Naya itu bener ..." Tanganku gemetar. Aku berharap ini semua tidak benar.
"Iya,
kak. Semua kabar ini bener adanya ..."
"Nggak,
elu lagi bercanda kan? Dia pasti marah gara-gara kejadian sebulan yang lalu
kan? Karena gue kan?"
"Nggak,
nggak kak. Elu nggak salah. Ini semua udah takdir Tuhan. Naya udah pulang ke
sisi Tuhan. Besok, gue jemput Kakak. Kita ke rumahnya bareng-bareng buat
upacara pemakaman. Yang sabar ya, Kak ..." Setelah penjelasan singkat dari
Gendis, aku hanya bisa tertegun seraya menangis lirih. Kenapa? Kenapa disaat
aku menemukan kebahagiaanku, orang pertama yang tulus, tapi malah direnggut?
Kenapa harus?
***
Saat
ini aku tengah berdiri di tengah pemakamannya bersama orang-orang yang tak
pernah ku kenal. Hanya Gendis dan beberapa teman SMA-nya. Foto Naya memakai
kemeja putih dengan rambut tergerai, lebih pendek dari sebelum bertemu denganku
terakhir kalinya.
"Nay,
aku masih belum siap. Ini terlalu mendadak ..." Ucapku lirih.
"Udah
kak, ikhlas. Nanti Naya malah sedih liat Kakak kaya gini ..." Aku hanya
tersenyum hambar.
"Ndis,
kenapa Naya nggak pernah cerita sama gue soal penyakitnya? Dan jangan bilang,
elu tahu semua masalah ini ! Iya ?!"
"Iya,
Kak. Gue emang tahu semua soal Naya. Soal sakitnya, soal dia yang tiba-tiba
ngilang selama satu bulan. Dia pergi ke Singapura buat transplantasi jantung.
Awalnya sukses. Tapi, dua hari setelahnya ada penolakan dari tubuh Naya. Maaf
kalau gue udah bohong sama Kakak. Ini semua permintaan Naya. Dan, ini dari Naya
..." Jelasnya seraya memberikan sebuah kotak bermotif garis-garis dan
selembar surat. Jadi, dia sudah merencanakannya?
***
Halo,
Bri ! Kalau kamu baca surat ini, tandanya aku udah nggak ada alias udah pergi.
Tolong sampe in permintaan maafku ke Gendis ya? Maaf udah ngrepotin. Hehe
Maaf, karena hari itu aku
lari. Aku cuma takut, cerita akan berlanjut. Aku nggak siap kalau kamu benci
sama aku setelah tahu keadaanku. Aku nggak siap, kalau misal kita punya
hubungan yang lebih istimewa, tiba-tiba operasiku gagal, aku bakaln nggak ada,
kamu bakalan aku tinggal, sendirian dan merasa sakit karena kehilangan. Aku
nggak pengen kamu merasa lebih sakit lagi. Jadi aku ngungkapin perasaan aku,
tanpa ada balasan rasa dari kamu, tanpa kamu perlu melakukan sesuatu untukku
pun, itu sudah lebih dari cukup. Jadi, menurutku ini keputusan terbaik. Kamu,
harus hidup jauh lebih baik lagi dari sekarang dan hari kemarin. Suatu saat
nanti, akan ada yang lebih baik dariku, yang bisa menemanimu sampai sisa
umurmu. Maaf untuk semuanya. Terimakasih. Aku sayang padamu.
Kanaya
Octaviana
NB : Jam tangannya jangan
lupa dipakai ya? Ini kado ulang tahunmu, bulan depan. Hehe :'*
Aku
hanya bisa tertunduk seraya menangis, menyesal. Kenapa aku tak pernah sadar
akan sakitnya? Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tak pernah peduli padanya?
Kehidupannya diluar lingkupnya denganku? Kenapa baru sekarang aku menyesali
semuanya? Mungkin ini karma dari Tuhan. Karma karena kesalahanku, di masa lalu.